PROLOGMEDIA – Ketika malam pergantian tahun tiba setiap 31 Desember, hampir seluruh dunia berkumpul untuk menyaksikan detik-detik terakhir tahun yang akan usai, menghitung mundur bersama, membunyikan kembang api, dan menyambut Tahun Baru Masehi pada detik pertama 1 Januari. Namun, keunikan budaya manusia di berbagai penjuru dunia membuat fenomena ini tidak berlaku secara universal. Di beberapa negara, tanggal 1 Januari bukanlah saat yang dinanti-nanti sebagai awal tahun baru atau bahkan tidak dianggap sebagai hari penting secara tradisional. Di tempat-tempat ini, masyarakat justru merayakan awal tahun berdasarkan sistem kalender tradisional mereka sendiri, yang bisa jatuh pada bulan yang sangat berbeda dari kalender Gregorian yang digunakan secara global.
Pemahaman umum bahwa seluruh dunia merayakan pergantian tahun pada 1 Januari sebenarnya merupakan konsep yang bersandar pada kalender Gregorian. Kalender ini dirancang untuk memadukan tahun matahari agar sesuai dengan musim, sehingga awal tahun baru dirayakan pada hari pertama bulan pertama, yaitu 1 Januari. Sistem ini kemudian diadopsi secara luas sejak abad ke-16 dan hampir seluruh negara kini memakainya untuk urusan sipil. Namun adopsi ini tidak berarti setiap negara merayakan perayaan awal tahun tersebut dengan cara yang sama atau memberi makna yang sama terhadap tanggal itu. Ada negara-negara yang berbeda tradisi dan sistem kalendernya tidak menjadikan 1 Januari sebagai awal tahun yang berarti secara budaya atau resmi.
Salah satu contoh paling mencolok adalah Ethiopia, sebuah negara di Tanduk Afrika yang memiliki tradisi kalender yang sangat berbeda dari dunia Barat. Ethiopia menggunakan Kalender Ethiopia, sebuah sistem yang berasal dari kalender Koptik yang memiliki tiga belas bulan, dengan dua belas bulan masing-masing 30 hari dan satu bulan kecil yang hanya memiliki lima atau enam hari tergantung tahun kabisat. Menurut kalender ini, Tahun Baru Ethiopia, yang dikenal dengan sebutan Enkutatash, biasanya jatuh pada 11 atau 12 September dalam penanggalan Gregorian. Ini berarti ketika masyarakat dunia merayakan Tahun Baru pada 1 Januari, orang-orang di Ethiopia sedang menjalani hari biasa dan belum memasuki tahun baru mereka sendiri. Bahkan posisi tahun dalam kalender mereka berbeda beberapa tahun dibandingkan kalender internasional; ketika dunia memasuki tahun 2025, masyarakat Ethiopia masih berada di awal dekade sebelumnya — sebuah gambaran betapa uniknya sistem waktu mereka dibanding dengan standar global.
Berbeda lagi dengan Nepal, negara yang terletak di pegunungan Himalaya. Nepal menggunakan dua sistem kalender tradisional yaitu Vikram Samvat dan Nepal Sambat. Vikram Samvat adalah calendar lunisolar yang dianggap resmi dan sekitar 57 tahun lebih maju dibandingkan kalender Gregorian. Di sisi lain, kalender Nepal Sambat merupakan sistem yang digunakan oleh komunitas Newar dan memiliki siklusnya sendiri dalam menentukan awal tahun. Perayaan Tahun Baru Nepal yang bersifat tradisional atau kultural, seperti Bisket Jatra, biasanya jatuh pada pertengahan atau akhir bulan April, jauh setelah 1 Januari berlalu. Dengan sistem kalender yang sangat berbeda inilah, Januari tidak berarti sebagai awal tahun dalam kehidupan masyarakat Nepal secara budaya.
Di wilayah Timur Tengah, Iran menawarkan contoh lain tentang bagaimana perayaan Tahun Baru tidak selalu berada pada tanggal 1 Januari. Iran memakai sistem Kalender Solar Hijri, yang merupakan kalender matahari yang sangat akurat dan menandai titik awal tahunnya berdasarkan equinox musim semi, ketika siang dan malam hampir sama panjangnya. Tahun baru Iran dikenal dengan sebutan Nowruz, yang secara harfiah berarti “hari baru”. Nowruz biasanya dirayakan sekitar 20 atau 21 Maret, yang merupakan perayaan penting yang sudah berakar lebih dari tiga ribu tahun dalam budaya Persia. Tradisi perayaan ini mencakup membersihkan rumah dan dekorasi simbolik, kunjungan keluarga, serta ritual yang merefleksikan pembaruan, pertanian, dan harapan akan masa depan. Saat masyarakat internasional menyalakan kembang api pada tengah malam 1 Januari, warga Iran tengah menjalani rutinitas biasa menunggu musim semi yang membawa awal tahun mereka sendiri.
Baca Juga:
5 Soto Betawi Legendaris di Jakarta Timur, Ada yang Bertahan Lebih dari 70 Tahun
Negara tetangga Iran, yakni Afghanistan, juga menggunakan varian kalender yang serupa, yaitu Solar Hijri. Di sana perayaan Nowruz juga dipandang sebagai tanda dimulainya musim semi dan ditandai dengan tradisi perayaan khas yang melibatkan pertemuan keluarga, kegiatan budaya, dan jamuan makan. Karena budaya serta sistem waktu yang melekat kuat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, tanggal 1 Januari memiliki makna yang relatif biasa saja, dan bukan menjadi momen perayaan besar seperti di banyak daerah lain di dunia.
Selain empat negara yang telah disebutkan di atas, fenomena tidak merayakan Tahun Baru Masehi pada 1 Januari juga bisa ditemui di berbagai belahan dunia dengan tradisi kalender lainnya. Misalnya di beberapa negara Asia lainnya, seperti China dan Vietnam, perayaan Tahun Baru mereka didasarkan pada kalender lunar, sehingga perayaan yang dikenal sebagai Lunar New Year atau Tahun Baru Imlek sering jatuh antara akhir Januari hingga Februari. Pada tanggal-tanggal tersebut, keluarga berkumpul, makanan tradisional disiapkan, dan ritual-ritual simbolis dilaksanakan untuk menyambut ketibaan tahun baru menurut perhitungan bulan.
Ada pula tradisi lain, misalnya di Thailand, yang merayakan Tahun Baru mereka sebagai Songkran pada bulan April, yang menjadi puncak musim panas dan dikenal dengan pesta air yang penuh semangat, simbolisasi pembersihan diri dari malapetaka tahun sebelumnya dan harapan akan keberuntungan di masa depan. Meski Thailand kini menggunakan kalender Gregorian untuk urusan sipil, perayaan budaya ini tetap menjadi momen awal tahun yang sangat penting dalam konteks tradisi lokal.
Walau begitu, harus diakui bahwa bahkan di negara-negara yang memiliki kalender tradisional, banyak masyarakat tetap mengenal dan memahami kalender Gregorian untuk urusan global, administrasi internasional, komunikasi dan perdagangan. Namun, ketika berbicara tentang perayaan budaya yang menyatu dengan sejarah, kepercayaan, dan identitas nasional, tidak sedikit tempat di dunia yang memilih merayakan awal tahun dengan cara mereka sendiri, yang mungkin jauh berbeda dari pesta yang kita kenal setiap tanggal 1 Januari. Tradisi-tradisi ini menunjukkan betapa kayanya ragam budaya manusia dalam memahami waktu, kehidupan, dan kelahiran kembali setiap tahun.
Baca Juga:
Sering Makan Sendirian Bisa Picu Depresi: Studi Ungkap Dampak Berbahaya bagi Kesehatan Mental
Dengan demikian, merayakan atau tidak merayakan Tahun Baru Masehi pada 1 Januari bukan sekadar soal tanggal atau kalender, tetapi juga soal bagaimana masyarakat mengaitkan sejarah, tradisi, musim, dan makna spiritual dalam kehidupan mereka sehari-hari. Tradisi-tradisi unik dari Ethiopia hingga Afghanistan ini mengingatkan kita bahwa waktu bukan hanya sekedar angka dalam kalender, tetapi juga cerminan dari identitas budaya dan sejarah panjang yang membentuk setiap peradaban di dunia.









