Menu

Mode Gelap

Berita · 17 Des 2025 18:36 WIB

Cara Unik BGN Bangun Antusias Siswa Lewat Program Makan Bergizi Gratis


 Cara Unik BGN Bangun Antusias Siswa Lewat Program Makan Bergizi Gratis Perbesar

PROLOGMEDIA – Pagi itu, suara tawa dan langkah kaki riuh terdengar dari halaman sebuah sekolah dasar di salah satu kota di Indonesia. Anak-anak berkumpul di tempat pembagian makanan, namun ekspresi mereka tampak biasa saja ketika melihat piring-piring berisi nasi, sayur, dan lauk pauk bergizi yang disiapkan untuk menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Makan bergizi bukan sekadar slogan di sekolah-sekolah negeri di seluruh nusantara. Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, mendukung tumbuh kembang mereka, serta mencegah masalah kesehatan seperti stunting dan malnutrisi yang masih menjadi tantangan besar. Namun, dalam praktiknya di sekolah-sekolah, muncul tantangan baru: bagaimana membuat anak-anak antusias dan benar-benar menikmati makanan yang disediakan?

 

Menanggapi hal inilah, Badan Gizi Nasional akhirnya mengeluarkan sebuah usulan yang tidak biasa namun menarik perhatian banyak pihak. Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, mengusulkan sebuah ide kreatif agar sopir yang mengantar MBG ke sekolah mengenakan kostum karakter terkenal dari serial superhero anak-anak, Power Rangers, setiap kali mereka datang membagikan makanan kepada para siswa.

 

Ide ini muncul setelah BGN menyadari bahwa sekadar menyediakan makanan bernutrisi tidak cukup untuk mendorong anak-anak supaya mau makan dengan semangat. Banyak anak merasa bosan atau kurang tertarik dengan sajian gizi yang disajikan, terutama makanan yang mengandung sayur-sayuran dan lauk pauk sehat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mereka. Dara kreativitas diperlukan agar momen makan bergizi menjadi menarik dan menyenangkan bagi anak-anak yang berada di fase pertumbuhan — sebuah fase yang membutuhkan energi, nutrisi, dan inspirasi.

 

Nanik menyampaikan bahwa di tiap satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai daerah, bukan hanya tugas teknis membagikan makanan semata, tetapi juga tugas edukatif yang sangat penting. Para petugas SPPG bahkan diminta mengikuti kegiatan edukasi gizi di sekolah dengan cara yang lebih interaktif bersama para guru. Dengan cara ini, siswa tidak hanya menerima makanan, tetapi juga memahami mengapa makanan itu penting bagi tubuh mereka — kandungan apa yang ada di dalamnya, manfaatnya terhadap pertumbuhan tulang, perkembangan otak, dan pembentukan daya tahan tubuh.

 

Namun demikian, Nanik menyadari bahwa mendengarkan penjelasan tentang gizi di kelas saja mungkin tidak cukup menarik bagi anak-anak yang lebih menyukai hiburan dan kejutan. Maka dari itu muncul gagasan agar sopir MBG tampil dalam balutan kostum Power Rangers setiap kali mengantar hidangan MBG ke sekolah. Dengan kostum warna-warni yang familiar dan digemari anak-anak, diharapkan antusiasme mereka meningkat. Ketika anak-anak melihat pahlawan favorit mereka menyapa sambil membawa makanan bergizi, suasana lapar menjadi peluang mereka merasakan makan bergizi sebagai sesuatu yang menyenangkan.

 

Nanik menjelaskan ide kreatif tersebut dalam sebuah sesi wawancara yang hangat dan penuh semangat. Ia berkata, “Kami ingin menciptakan pengalaman yang positif. Imagine ketika anak-anak melihat Power Rangers turun dari mobil MBG sambil menyapa mereka. Itu bukan hanya tentang makanan, itu tentang keterlibatan emosional mereka dengan makanan yang sehat.” Ia bahkan mengusulkan agar sopir mengatakan pada anak-anak bahwa jika mereka terus makan sayur dan lauk bergizi, Power Rangers akan datang lagi — mungkin membawa kejutan kecil seperti jajanan sehat atau hadiah menarik lainnya sebagai apresiasi atas kebiasaan makan baik mereka.

Baca Juga:
Tembok Besar Tiongkok: Warisan Dunia yang Sarat Sejarah dan Mitos

 

Tak hanya soal kostum, Nanik juga menekankan pentingnya kerja sama antara berbagai pihak—kepala sekolah, guru, tenaga kesehatan di puskesmas, kader posyandu, dan PKK di tingkat desa — untuk memberikan penyuluhan gizi yang menyeluruh. Bahkan di tingkat desa, lurah dan warga bisa mengadakan forum pertemuan untuk membahas tentang gizi, termasuk mengenai menu MBG dan bagaimana cara menyajikannya agar tetap menarik tanpa kehilangan nilai gizi. Ini menunjukkan bahwa program MBG bukan sekadar program pusat, melainkan harus menjadi bagian dari komunitas kesehatan dan pendidikan yang holistik.

 

Usulan ini mendapat respon beragam dari berbagai kalangan. Di satu sisi, banyak guru dan tenaga pendidik di sekolah-sekolah kecil menyambut baik ide tersebut. Mereka melihat potensi besar dalam menggabungkan kegiatan edukatif dengan unsur hiburan yang digemari anak-anak. Seorang guru kelas 2 di sebuah SD di Jawa Barat mengatakan bahwa anak-anak sering kali lebih cepat belajar melalui pengalaman yang menyenangkan dan visual. Melihat pahlawan dalam kostum Power Rangers datang membawa makanan bisa menjadi pengalaman positif yang menguatkan pesan tentang pentingnya gizi tanpa terasa seperti pelajaran formal.

 

Namun, tidak semua pihak sepakat tanpa kritik. Beberapa politisi dan pengamat pendidikan menilai bahwa ide tersebut bisa saja menjadi terlalu gimik atau hanya sekadar hiburan sementara tanpa memberikan dampak edukasi yang kuat dalam jangka panjang. Kritik muncul dari sejumlah anggota dewan yang menyarankan agar fokus utama tetap pada peningkatan kualitas menu MBG, pelatihan tenaga gizi yang lebih profesional, serta pemantauan SOP (Standar Operasional Prosedur) dalam pengolahan dan penyajian makanan agar kualitas nutrisi benar-benar terjaga.

 

Selain itu, kritik lain datang dari wakil ketua MPR yang mempertanyakan apakah pendekatan visual seperti kostum karakter populer ini benar-benar efektif bila anak-anak tidak selalu melihatnya secara langsung, terutama di sekolah-sekolah yang lebih kecil atau terpencil. Menurut kritik itu, perlu kajian lebih mendalam dan evaluasi terhadap efektivitas metode semacam ini sebelum diterapkan luas.

 

Tak dapat dipungkiri bahwa di balik berbagai kritik dan pujian, usulan ini berhasil memancing perbincangan luas mengenai bagaimana cara terbaik untuk mendorong anak-anak Indonesia makan makanan yang sehat dan bergizi. Tidak hanya menjadi sekadar program pembagian makanan, tetapi sebuah proses pembelajaran yang menyenangkan dan dapat membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini — sebuah investasi penting bagi masa depan generasi penerus bangsa.

 

Baca Juga:
Bencana Jadi Titik Balik, 22 Izin Usaha Kehutanan Dicabut di Sumatera

Di akhir sesi wawancara, Nanik kembali menegaskan bahwa inti dari semua ini adalah kreativitas dalam menyampaikan pesan gizi kepada anak-anak. “Kita perlu berpikir out of the box,” ujarnya, “karena anak-anak belajar bukan hanya melalui buku, tetapi melalui pengalaman yang membuat mereka merasa dihargai dan terlibat.” Dengan semangat itulah BGN berharap bahwa program MBG dapat terus berkembang menjadi lebih efektif, menyenangkan, dan mendidik, sehingga anak-anak Indonesia tidak hanya makan, tetapi belajar untuk makan dengan baik.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita