Menu

Mode Gelap

Berita · 20 Des 2025 20:45 WIB

Bus Transjakarta Zhongtong Jadi Perbincangan, Suhunya Disebut Seperti Kulkas Berjalan


 Bus Transjakarta Zhongtong Jadi Perbincangan, Suhunya Disebut Seperti Kulkas Berjalan Perbesar

PROLOGMEDIA – Bus-bus Transjakarta yang melintas setiap hari di jalan-jalan Ibu Kota baru-baru ini menjadi topik hangat di kalangan warga Jakarta dan pengguna transportasi umum setelah munculnya pengalaman penumpang mengenai salah satu armada baru. Tak seperti biasanya, unit bus tertentu yang diproduksi oleh pabrikan Zhongtong menjadi perbincangan di berbagai komunitas netizen karena kondisi kabinnya yang disebut jauh lebih dingin dari bus Transjakarta lain pada umumnya.

Kisah dimulai dari unggahan pengguna media sosial yang menceritakan pengalaman naik bus Transjakarta bertipe Zhongtong. Menurut penumpang, suasana di dalam bus sangat dingin—sedemikian dinginnya hingga ia dan beberapa orang lain sampai merasa seolah berada di “kulkas berjalan”. Istilah itu kemudian menyebar di linimasa karena banyak yang merasa pengalaman unik dengan AC bus ini terlalu ekstrem dan berbeda dari bus BRT pada umumnya.

Tidak sedikit pengguna yang membandingkan pengalaman ini dengan naik bus biasa di Jakarta yang sering kali kurang nyaman karena AC yang kurang kuat atau pendingin ruangan yang kadang tidak berfungsi optimal. Betapa mengejutkannya banyak penumpang ketika bus Zhongtong datang — suhu dingin bukan hanya terasa, tetapi benar-benar menyengat seperti udara dari mesin pendingin yang bekerja pada kapasitas maksimalnya. Bahkan ada yang bercanda bahwa suhu di dalam kabin mirip seperti suhu ruangan penyimpanan frozen food di supermarket.

Reaksi warga beragam. Sejumlah penumpang justru merasa nyaman karena suasana kabin yang sejuk membantu mengusir rasa lelah dan gerah akibat panasnya suhu Jakarta. Mereka mengatakan bahwa ketika hujan turun, atau di hari yang sangat panas pun, bus ini seperti oase segar di tengah perjalanan panjang. Sebaliknya, ada juga penumpang yang mengeluhkan suhu yang terlalu dingin—bahkan sampai membuat mereka merasa menggigil ketika harus menunggu bus tiba kembali setelah turun di halte. Beberapa tanggapan bahkan menyebut jika berkendara sepanjang hari di bus seperti ini bisa membuat jaket tipis saja terasa kurang.

Menariknya, fenomena ini muncul di tengah upaya Transjakarta untuk memperbarui dan memodernisasi armadanya. Selama beberapa tahun terakhir, PT Transportasi Jakarta memang telah memperkenalkan berbagai model bus baru untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kenyamanan bagi jutaan penumpang yang setiap hari mengandalkan moda transportasi ini untuk beraktivitas. Bus-bus yang beredar bukan hanya berasal dari produsen Eropa atau Jepang, tetapi juga pabrikan asal China seperti Zhongtong yang dipilih karena kapasitas dan spesifikasi teknisnya yang dinilai cocok untuk layanan BRT di Jakarta.

Bus Zhongtong sendiri adalah bus bertipe articulated atau bus gandeng yang punya kapasitas angkut relatif tinggi. Model seperti ini biasanya ditempatkan pada koridor utama dengan permintaan penumpang yang padat, karena dapat membawa lebih banyak orang sekaligus tanpa menambah panjang ramainya antrian di halte. Armada bus ini juga dilengkapi sistem pendingin udara (AC) yang umumnya lebih besar daripada bus biasa, untuk mengimbangi kelembapan dan teriknya cuaca tropis Jakarta.

Baca Juga:
Kenali Jenis Sayuran yang Sebaiknya Dihindari Penderita Asam Lambung

Kendati begitu, fenomena “kulkas berjalan” ini memberikan pelajaran penting bagi operator dan pengelola layanan. Menyeimbangkan kenyamanan dan fungsi AC memang bukan hal yang mudah karena jika terlalu dingin, penumpang bisa merasa tidak nyaman, apalagi bagi mereka yang tidak memakai pakaian panjang. Sebaliknya, AC yang tidak cukup kuat bisa membuat suasana di dalam bus terasa pengap, terutama di tengah kemacetan panjang dan udara luar yang panas serta lembap.

Tanggapan resmi dari manajemen Transjakarta mengenai fenomena suhu ekstrem ini belum banyak dipublikasikan secara detail. Namun, pengamatan para penumpang menunjukkan bahwa bus dengan AC yang lebih kuat ini memang membuat kebanyakan orang merasa lega dari gerahnya cuaca Jakarta saat menunggu atau dalam perjalanan. Menurut mereka, saat bus antar halte menunggu di jalan atau saat menembus kemacetan, udara dingin tetap tersebar merata di seluruh kabin.

Pengalaman serupa juga menjadi pembicaraan hangat di komunitas bus mania dan warganet yang gemar membahas transportasi publik. Sebuah klip video yang beredar di platform berbagi konten menunjukkan suasana dalam bus Zhongtong ketika AC bekerja. Video itu memperlihatkan layar indikator suhu dan deretan penumpang yang tampak terhibur sekaligus terkejut oleh dinginnya AC, memperkuat julukan “kulkas berjalan” yang kini melekat pada bus ini.

Lebih jauh lagi, fenomena ini memicu diskusi luas tentang standar kenyamanan dalam transportasi umum di Jakarta. Di satu sisi, ada yang berpendapat bahwa tarif layanan yang relatif terjangkau dan kenyamanan tambahan seperti pendingin udara yang optimal sudah seharusnya menjadi standar minimum — terutama di negara beriklim tropis. Di sisi lain, ada yang menekankan perlu adanya keseimbangan antara efisiensi energi dan kenyamanan. AC yang terlalu dingin dinilai bisa meningkatkan konsumsi energi dan berdampak pada biaya operasional yang lebih tinggi, sesuatu yang menjadi perhatian bagi operator layanan publik yang sebagian besar masih bersandar pada anggaran pemerintah daerah.

Dalam kontes opini publik, beberapa penumpang bahkan mengusulkan agar manajemen Transjakarta menyediakan pengaturan suhu yang bisa disesuaikan atau menawarkan mode AC yang moderat saat cuaca tidak terlalu panas. Ide ini bertujuan agar penumpang yang sensitif terhadap udara dingin tidak merasa terlalu kedinginan, sementara yang lainnya tetap mendapatkan kesejukan yang nyaman di dalam bus.

Adapun di balik semua ini, Transjakarta terus berupaya meningkatkan layanan dan modernisasi armada melalui berbagai inisiatif, termasuk penambahan armada bus listrik dan pengembangan rute serta integrasi dengan sistem transportasi lain seperti MRT dan KRL. Hal ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membuat layanan transportasi publik di Jakarta semakin ramah lingkungan, nyaman, dan efisien di tengah tantangan mobilitas yang tinggi.

Baca Juga:
Ngariung Kapolres Serang dan Wartawan: Perkuat Sinergi Informasi Publik dan Transparansi Kinerja Polri

Fenomena bus Zhongtong yang dinilai terlalu dingin ini menghadirkan sudut pandang baru soal bagaimana pengalaman naik bus di Jakarta bisa berubah — dari sekadar alat angkut menjadi pengalaman perjalanan yang memberikan rasa sejuk, cerita, bahkan humor di tengah rutinitas harian yang padat. Ke depan, manajemen layanan publik diperkirakan akan terus mempertimbangkan masukan pengguna seperti ini demi menciptakan keseimbangan antara kenyamanan, efisiensi operasional, dan kepuasan penumpang yang lebih luas.

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita