Menu

Mode Gelap

Berita · 21 Des 2025 01:25 WIB

Macan Dahan Kalimantan: Keindahan Eksotis yang Terancam Punah


 Macan Dahan Kalimantan: Keindahan Eksotis yang Terancam Punah Perbesar

PROLOGMEDIA – Di pedalaman hutan Kalimantan yang rimbun, di antara dedaunan tropis yang menutup hampir setiap celah sinar matahari, hidup seekor makhluk yang langka, misterius, dan hampir tak tersentuh oleh manusia—macan dahan Kalimantan. Selama bertahun‑tahun, keberadaan hewan ini hanya menjadi legenda bagi masyarakat luas; sosok yang lebih sering dibicarakan dalam bisik‑bisik para penjelajah hutan dan peneliti satwa liar, daripada menjadi hal yang nyata bagi kehidupan sehari‑hari. Namun beberapa waktu belakangan, hewan pemalu ini mendadak menarik perhatian publik ketika sebuah video yang diduga memperlihatkan macan dahan berkeliaran muncul di media sosial, menggugah kekaguman sekaligus kekhawatiran banyak orang.

Video tersebut memperlihatkan sosok kucing liar berukuran sedang yang berjalan sendiri di sebuah jalan hauling tambang di Salino, Pulau Laut Tengah, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Penampakan singkat itu langsung viral, membuat warganet terkejut sekaligus penasaran—bagaimana bisa seekor makhluk seperti ini, yang biasanya menghindari kehadiran manusia, terlihat di area yang dekat dengan aktivitas industri? Bagi para ahli konservasi, momen tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan macan dahan jauh dari aman: mereka bukan hanya satwa eksotis, tetapi juga simbol keragaman hayati yang tengah berada di ambang kepunahan.

Macan dahan Kalimantan, yang secara ilmiah dikenal sebagai Neofelis diardi borneoensis, merupakan subspesies unik yang endemik hanya di Pulau Kalimantan. Meski namanya mengandung kata “macan,” hewan ini sebenarnya lebih dekat hubungannya dengan kucing besar seperti macan tutul, namun ukuran tubuhnya jauh lebih kecil. Di alam liar, mereka hidup di hutan hujan tropis, baik itu hutan primer yang lebat maupun hutan sekunder yang sedikit lebih terbuka, serta di daerah rawa dan perbukitan hingga ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Berbeda dengan macan dahan di Sumatera yang cenderung banyak menghabiskan waktu di pohon untuk menghindari predator besar, macan dahan Kalimantan sering turun ke tanah dan menjadi salah satu predator puncak di habitatnya.

Karena perilakunya yang soliter dan sifatnya yang sangat pemalu, macan dahan jarang terlihat oleh manusia. Mereka termasuk satwa nokturnal—aktif di malam hari—dan menghabiskan banyak waktu bersembunyi di tajuk‑tajuk pohon. Pola bulunya yang khas, dengan bercak‑bercak hitam menyerupai awan di atas latar cokelat kekuningan, membuatnya hampir tak terlihat ketika bergerak di antara dedaunan. Corak unik inilah yang memberi julukan internasional “clouded leopard” atau macan tutul bercorak awan, karena motifnya menyerupai gumpalan awan yang melayang.

Bagian yang paling mencolok dari macan dahan adalah taringnya yang sangat panjang dan tajam, yang kadang dibandingkan dengan gigi kucing purba bergigi pedang yang telah punah. Taring ini bukan sekadar hiasan—mereka adalah senjata utama hewan ini untuk memburu mangsa seperti monyet, burung, rusa kecil, dan mamalia kecil lainnya, baik di tanah maupun dari atas pepohonan. Dengan kaki yang pendek namun kuat dan cakar yang tajam, macan dahan mampu memanjat dan melompat antar batang pohon dengan lincah, serta menyeimbangkan tubuhnya dengan ekor yang panjang. Semua adaptasi ini membuatnya menjadi pemburu yang tangguh dan ahli bertahan dalam lingkungan hutan tropis yang kompetitif.

Baca Juga:
Banten Gemilang di Popnas 2025! 33 Medali Bawa Banten ke Peringkat 5!

Namun, kehidupan yang penuh keterampilan itu kini diwarnai ancaman serius yang mengintai dari berbagai sudut. Meski keindahan dan keunikannya menarik decak kagum banyak orang, populasi macan dahan kini semakin terancam. Organisasi konservasi internasional telah menempatkan macan dahan dalam kategori rentan dalam daftar merah IUCN, dengan perlindungan ketat di bawah regulasi internasional seperti CITES Appendix I yang melarang segala bentuk perdagangan internasional terhadap spesies ini. Di Indonesia sendiri, macan dahan termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi penuh berdasarkan peraturan pemerintah.

Namun status perlindungan saja tidak cukup. Kerusakan habitat menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup mereka. Deforestasi besar‑besaran untuk perkebunan sawit, pertambangan, dan pemukiman manusia telah merusak dan memecah habitat mereka menjadi fragmen‑fragmen kecil. Fragmen ini memisahkan kelompok macan dahan satu sama lain, menghambat pergerakan mereka untuk mencari pasangan dan memperluas wilayah jelajah, sehingga mengurangi keanekaragaman genetik dan memperlemah ketahanan populasi jangka panjang. Selain itu, perburuan liar juga masih menjadi ancaman nyata. Bulu, taring, dan bagian tubuh lainnya kerap menjadi target para pemburu untuk diambil dan dijual di pasar gelap, meskipun tindakan tersebut dilarang secara hukum.

Selain hilangnya habitat dan perburuan, pertemuan tak terduga antara manusia dan macan dahan di area terdegradasi memunculkan dilema baru. Ketika hewan langka ini terlihat berkeliaran di jalan tambang atau dekat permukiman, banyak orang merasakan campuran kekaguman dan kekhawatiran. Kekaguman atas keindahan dan kelangkaan satwa ini sering kali dibarengi dengan ketakutan akan potensi bahaya bagi manusia. Padahal, macan dahan secara alami cenderung menghindari manusia dan tidak agresif jika tidak merasa terancam. Hal ini menunjukkan pentingnya pendidikan publik agar masyarakat memahami perilaku satwa liar dan tidak segera mengambil tindakan berbahaya ketika berhadapan dengan mereka.

Beberapa daerah di Kalimantan kini mulai melakukan upaya konservasi yang lebih nyata. Pemerintah daerah di beberapa kabupaten, misalnya, telah mengambil langkah kreatif untuk menjadikan macan dahan sebagai simbol pelestarian alam. Di Kutai Barat, macan dahan bahkan dijadikan sebagai maskot yang dipakai dalam kampanye pelestarian hutan dan satwa liar, untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian spesies ini. Langkah‑langkah ini meskipun sederhana, memberikan ruang bagi publik untuk lebih mengenal dan menghargai makhluk hidup yang selama ini tersembunyi di balik kanopi hutan.

Namun upaya konservasi yang efektif membutuhkan dukungan dari banyak pihak—pemerintah, masyarakat lokal, peneliti, dan pengusaha. Ada kebutuhan mendesak untuk menciptakan koridor satwa liar yang menghubungkan habitat yang terfragmentasi, serta penegakan hukum yang lebih kuat terhadap praktik perburuan dan perdagangan ilegal. Pemasangan kamera jebakan, patroli hutan berkala, dan pelibatan masyarakat dalam program pengawasan adalah beberapa langkah yang sudah dilakukan oleh organisasi konservasi. Semua ini bertujuan agar generasi mendatang masih bisa menyaksikan macan dahan dalam habitat aslinya, bukan hanya dalam video viral di media sosial.

Baca Juga:
Trump Hapus Tarif, Petani RI Panen Berkah: Peluang Emas Kopi & Kakao di AS!

Di tengah ancaman yang terus meningkat, macan dahan tetap menjadi simbol eksotisme dan keanggunan hutan tropis Kalimantan. Keberadaannya, yang hampir tak terlihat, mengingatkan kita akan betapa rapuhnya keseimbangan ekosistem yang telah menyokong kehidupan beragam makhluk selama jutaan tahun. Dan ketika kita berbicara tentang pelestarian alam, kisah macan dahan mengajarkan satu hal penting: bahwa keterhubungan antara manusia dan alam bukanlah sekadar hubungan fisik, tetapi juga hubungan etis dan emosional yang harus terus dijaga agar hutan dan makhluk yang menghuni terus bernyawa untuk masa mendatang.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita