PROLOGMEDIA – Para pakar keuangan kembali menyoroti kebiasaan masyarakat dalam menyimpan uang di rekening bank, terutama ketika ekonomi menghadapi banyak ketidakpastian. Dalam analisis mereka, menyimpan uang secara berlebihan di rekening tanpa strategi yang matang bukanlah pilihan finansial yang ideal. Fenomena ini justru bisa menjadi jebakan yang merugikan dalam jangka panjang, baik bagi individu maupun keluarga yang tengah berusaha membangun stabilitas keuangan.
Dalam diskusi yang belakangan ramai diperbincangkan, para ahli menekankan pentingnya memahami fungsi rekening bank secara benar dan realistis. Rekening tabungan memang menawarkan kemudahan akses serta keamanan dari risiko kehilangan fisik, namun sisi lain dari kenyamanan itu adalah potensi kerugian yang muncul dari menumpuk dana secara tidak produktif. Prinsip dasar cash is king yang selama ini sering digaungkan harus dilihat secara lebih kontekstual, kata para ahli — bukan sebagai ajakan untuk menimbun saldo bank secara berlebihan, melainkan sebagai pesan yang mendorong kesiapan menghadapi kondisi tak terduga tanpa kehilangan kesempatan pertumbuhan aset yang lebih baik.
Salah satu hal mendasar yang sering diabaikan oleh masyarakat adalah efek inflasi. Inflasi adalah fenomena yang membuat daya beli uang nominal menurun seiring waktu. Artinya, Rp100 juta yang tersimpan di rekening hari ini bisa saja memiliki nilai riil yang lebih rendah beberapa tahun mendatang. Ketika bunga yang diberikan bank di rekening tabungan hanya berada di bawah tingkat inflasi, maka secara efektif penghematan itu akan “tergerus” oleh naiknya harga barang dan jasa. Padahal, tujuan awal menabung adalah untuk menjaga nilai finansial, bukan malah melihatnya susut tanpa pertumbuhan ekonomi yang nyata.
Selain itu, risiko lain yang tak kalah penting adalah ancaman keamanan digital. Seiring semakin banyaknya transaksi online dan akses perbankan digital, rekening bank juga menjadi target empuk peretasan, penipuan, dan kesalahan transaksi. Meski sistem keamanan perbankan terus ditingkatkan, celah dan resiko masih tetap ada. Para penasihat keuangan sering mengingatkan bahwa terlalu banyak uang yang “diam” di rekening justru meningkatkan peluang terpapar risiko-risiko tersebut.
Alih-alih menumpuk uang di satu rekening utama tanpa perencanaan, para perencana keuangan menyarankan pendekatan yang lebih strategis. Pertama, setiap individu atau rumah tangga sebaiknya memiliki dana darurat yang dialokasikan untuk menutupi kebutuhan dasar selama beberapa bulan dalam keadaan darurat, seperti kehilangan pekerjaan, biaya medis tak terduga, atau perbaikan rumah yang mendesak. Dana ini biasanya berada di rekening yang mudah diakses, namun jumlahnya harus disesuaikan agar efektif — umumnya cukup untuk kebutuhan 3 hingga 6 bulan biaya hidup, tergantung kondisi tiap keluarga.
Di luar dana darurat itu, kelebihan uang tunai di rekening bank sebaiknya dialihkan ke instrumen keuangan lain yang lebih produktif. Instrumen ini bisa beragam, mulai dari investasi jangka pendek sampai panjang, tergantung tujuan finansial masing-masing orang. Misalnya, reksa dana pasar uang atau obligasi pemerintah bisa menjadi pilihan bagi mereka yang mencari pertumbuhan lebih tinggi dibanding bunga tabungan, namun tetap dengan risiko yang relatif moderat. Sementara itu, investasi jangka panjang seperti reksa dana saham atau saham langsung bisa dipertimbangkan oleh mereka yang memiliki toleransi risiko lebih tinggi dan horizon investasi lebih panjang. Intinya, diversifikasi adalah kunci agar risiko tidak terpusat hanya di satu tempat — yaitu rekening bank — sementara peluang pertumbuhan terlewatkan begitu saja.
Baca Juga:
Camping di Cianjur: 5 Surga Tersembunyi untuk Healing di Alam Jawa Barat
Banyak juga calon investor atau pemilik tabungan besar yang merasa aman memegang rekaman saldo tinggi di rekening bank besar. Namun, menurut para perencana keuangan profesional, keamanan finansial sejati bukan hanya soal jumlah saldo di bank, melainkan bagaimana uang itu bekerja untuk pemiliknya. Uang yang “terkunci” di rekening yang bunganya rendah sama saja dengan kehilangan kesempatan untuk berkembang seiring waktu.
Contohnya, jika seseorang memiliki saldo yang jauh melebihi kebutuhan operasi sehari-hari, maka sebagian uang itu bisa dialihkan ke produk deposito berjangka yang menawarkan bunga lebih tinggi daripada tabungan biasa. Deposito memberi keuntungan bunga yang lebih kompetitif, meski aksesnya tidak se-luwes rekening biasa. Ini artinya, pemilik dana harus bersedia mengunci sebagian uangnya untuk jangka waktu tertentu demi imbal hasil yang lebih baik. Bagi orang yang ingin pertumbuhan lebih tinggi lagi, produk investasi lain seperti reksa dana campuran atau bahkan instrumen pasar modal bisa memberikan hasil di atas inflasi, meskipun hadir dengan risiko nilai pasar yang berfluktuasi.
Pakar juga menyarankan untuk tidak menaruh seluruh dana di satu rekening saja, karena pendekatan semacam ini bisa memperkecil peluang untuk mengelola keuangan secara lebih sistematis. Banyak ahli keuangan menganjurkan penggunaan lebih dari satu rekening, misalnya rekening untuk kebutuhan operasional hidup sehari-hari, rekening khusus untuk dana darurat, dan rekening atau rekening investasi untuk modal pertumbuhan. Strategi ini tidak hanya membantu membedakan fungsi tiap bagian dana, tetapi juga memberi kerangka yang lebih jelas dalam merencanakan masa depan finansial.
Di samping itu, pendidikan literasi finansial menjadi faktor penentu dalam membentuk kebiasaan menabung yang sehat. Tidak sedikit orang yang menyimpan terlalu banyak uang di rekening karena ketidakpahaman bagaimana memaksimalkan potensi uang mereka. Dengan literasi yang tepat, masyarakat bisa memahami berbagai pilihan produk keuangan yang ada, serta manfaat dan risikonya masing-masing. Semakin banyak orang yang memiliki pemahaman dasar tentang perencanaan keuangan, semakin besar pula kemungkinan mereka membuat keputusan finansial yang bijak dan terinformasi.
Di level makro, fenomena masyarakat yang menumpuk tabungan di rekening bank juga mencerminkan sentimen kehati-hatian yang tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ketika akses ke peluang investasi atau instrumen lain terasa rumit, banyak orang cenderung merasa “lebih aman” jika uangnya hanya berada di rekening bank. Namun, para ahli keuangan mengingatkan bahwa keamanan semu seperti itu bisa menjadi pedang bermata dua — mengamankan uang dari risiko tertentu sambil mengorbankan potensi pertumbuhan dan perlindungan terhadap inflasi yang terus berjalan.
Baca Juga:
Tragedi Tanah Amblas di Jaktim: Pagar Jadi Biang Kerok, Pemkot Bertindak Cepat
Dengan demikian, pesan utama dari para pakar tidak hanya sekadar “jangan timbun uang di rekening”, tetapi lebih pada bagaimana membangun strategi keuangan yang sehat, dinamis, dan mampu menghadapi berbagai kondisi masa depan. Baik itu melalui pembentukan dana darurat yang tepat, diversifikasi investasi, maupun peningkatan pemahaman akan peluang dan risiko berbagai instrumen keuangan, semuanya berkontribusi pada stabilitas finansial jangka panjang. Ketika uang diatur dengan bijak, bukan hanya tersimpan secara pasif, para pemiliknya bisa lebih siap menghadapi tantangan ekonomi sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan yang lebih besar.









