PROLOGMEDIA – Pada Senin pagi tanggal 15 Desember 2025, suasana di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bukit Arung Sejahtera di Kabupaten Nunukan berubah menjadi cerita yang hangat sekaligus penuh makna. Hari itu seharusnya menjadi rutinitas biasa: petugas SPPG memulai pendistribusian makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada siswa sekolah dasar di sekitar wilayah kerja mereka. Namun, apa yang diterima para pengelola justru sesuatu yang tak terduga, menyentuh hati sekaligus memicu reaksi beragam dari masyarakat setempat.
Program MBG sendiri merupakan inisiatif pemerintah melalui Badan Gizi Nasional untuk memastikan setiap anak sekolah mendapatkan makanan bergizi lengkap tanpa beban biaya tambahan bagi keluarga, terutama di wilayah yang masih menghadapi tantangan pemenuhan gizi anak. Program ini telah tersebar di berbagai provinsi dan puluhan ribu siswa menjadi penerima manfaatnya.
Pagi itu, para petugas SPPG yang sedang menyiapkan ratusan porsi makanan untuk disalurkan ke sekolah-sekolah dasar menerima paket — namun bukan berbentuk makanan atau bahan makanan. Paket itu adalah kumpulan surat-surat tulisan tangan dari para siswa SD Negeri 004 Nunukan. Tidak hanya berupa pesan, tetapi sebagian surat juga diselipkan uang tunai pecahan kecil. Jumlahnya tidak besar: total terkumpul sebesar Rp 16.000, berupa lembaran Rp 1.000 dan Rp 2.000 yang diselipkan dalam lipatan surat.
Pengelola SPPG Bukit Arung Sejahtera, Sumari, yang menerima surat-surat tersebut, awalnya terkejut saat para pekerja dapur menemukan kertas-kertas kecil saat mencuci ompreng — alat makan yang dipakai untuk menampung nasi dan lauk-pauk. Ketika dibuka, ternyata setiap kertas berisi pesan dari anak-anak sekolah, termasuk ucapan terima kasih, curahan rasa, hingga permintaan menu makanan favorit mereka.
“Saat pekerja kami akan mencuci ompreng yang sudah digunakan dari sekolah, beberapa nampak ada lipatan kertas yang terselip rapi. Saat dibuka ternyata berisi pesan-pesan untuk kami,” ucap Sumari sambil tersenyum saat mengenang kejadian hari itu.
Isi surat-surat kecil itu sangat beragam. Ada yang bernada tulus terima kasih, ada yang menyampaikan kritik ringan terhadap rasa makanan, bahkan ada pula yang memberi usulan menu selanjutnya. Misalnya, seorang siswa menulis ingin ayam geprek dan anggur sebagai buah penutup, sementara yang lain hanya menuliskan ucapan semangat untuk para tukang masak di dapur. Pesan-pesan sederhana itu memancarkan kehangatan dunia anak-anak — polos, jujur, dan tidak dibuat-buat.
Beberapa contoh isi surat yang diterima: “Cef, makanannya enak. Tapi tahunya keasinan dan wortelnya terlalu tebal. Tapi aku mau semangkanya diganti anggur,” tulis seorang siswa. Yang lain mengungkapkan, “Pak Prabowo terima kasih,” merujuk pada Presiden sebagai figur di balik program MBG. Ada pula yang menuliskan permintaan menu tertentu sambil berharap bisa menyampaikan saran itu langsung kepada tim dapur.
Baca Juga:
Kota Serang Kejar Mimpi PSEL: Semua Dokumen Administrasi Dikebut Demi Energi Bersih
Yang membuat kisah ini menarik bukan jumlah uang yang diselipkan, melainkan niat baik di balik aksi anak-anak itu. Para siswa SD tersebut rupanya ingin menunjukkan rasa terima kasih mereka kepada petugas MBG. Meskipun program ini seharusnya gratis dan tidak memungut biaya dari siswa, anak-anak kecil itu dengan tulus “memberi” sedikit dari uang jajan mereka sebagai tanda penghargaan. Uang tersebut bukanlah pembayaran makanan — karena memang program ini tidak membebankan biaya apapun — tetapi lebih sebagai bentuk ucapan terima kasih versi anak-anak.
Sumari menyampaikan bahwa pihaknya melihat hal ini sebagai sebuah “isyarat positif” dari para siswa. “Yang pasti, pesan tertulis anak-anak tersebut akan tetap kami jadikan perhatian positif. Mengenai usulan-usulannya, akan saya diskusikan pada petugas Kepala SPPG dan tenaga ahli gizi,” ujar Sumari, menegaskan bahwa mereka menerima kritik dan saran dengan kepala dingin dan rasa hormat terhadap pandangan generasi penerus bangsa.
Kejadian ini kemudian memicu percakapan yang lebih luas di kalangan orang tua, guru, dan masyarakat setempat. Banyak pihak yang menyatakan bahwa pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana anak-anak mampu menghargai sebuah program sosial dengan cara yang sederhana namun tulus. Surat-surat itu bukan hanya sekadar ucapan terima kasih, tetapi juga bentuk interaksi antara pemberi manfaat dan penerima manfaat yang jarang terlihat dalam program-program pemerintah. Anak-anak menunjukkan empati, kesadaran sosial, dan kreativitas dalam menyampaikan pesan mereka.
Sementara itu, para ahli gizi yang terlibat dalam program MBG menyambut baik masukan dari siswa. Menu makanan dalam program MBG memang dirancang oleh tenaga ahli gizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anak sekolah. Ke depan, usulan menu dari siswa seperti lebih banyak buah atau variasi lauk pauk bisa menjadi masukan tambahan untuk membuat menu semakin bervariasi dan sesuai selera sambil tetap memperhatikan aspek gizi seimbang.
Lebih jauh lagi, cerita ini memancing refleksi dari orang tua dan pendidik. Banyak yang mengatakan bahwa pengalaman ini bisa menjadi pelajaran berharga tentang apresiasi dan komunikasi antara anak dan pihak penyelenggara program sosial. Bagaimana anak-anak dengan polosnya menyelipkan uang kecil di surat justru adalah simbol bagaimana mereka ingin “memberi” sesuatu kembali kepada orang yang membantu mereka. Bahkan jika anak-anak itu tidak memahami sepenuhnya sistem bagaimana MBG bekerja, tindakan mereka dipandang sebagai bentuk penghargaan yang murni dan menyentuh.
Program MBG sendiri terus berjalan di berbagai daerah, dengan ribuan dapur SPPG yang tersebar di seluruh Indonesia dan puluhan ribu siswa SD yang menerima makanan bergizi setiap harinya. Meskipun ada tantangan di beberapa lokasi terkait operasional, logistik, dan kualitas penyajian makanan, pemerintah dan Badan Gizi Nasional terus melakukan evaluasi dan perbaikan agar program ini dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
Di tengah dinamika pelaksanaan program skala nasional ini, kejadian di Nunukan menjadi kisah kecil namun penuh makna: sebuah pengingat bahwa di balik setiap kebijakan besar, ada hubungan manusiawi yang tumbuh antara pelaksana program, penerima manfaat, dan masyarakat luas. Anak-anak SD yang menulis surat itu tanpa sadar telah menunjukkan bagaimana empati dan rasa terima kasih bisa muncul dari hal yang sederhana — surat tulisan tangan dan beberapa lembar uang kecil.
Baca Juga:
Antara Manfaat dan Bahaya Kopi Jika Dikonsumsi Setiap Hari
Dan di balik itu semua, tersirat harapan bahwa program seperti MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga membangun hubungan sosial yang lebih hangat antara generasi muda dan seluruh elemen bangsa.









