PROLOGMEDIA – Di tengah hutan lindung di kaki Gunung Salak, sebuah temuan arkeologis baru-baru ini kembali menghidupkan wacana tentang peradaban kuno di Pulau Jawa. Di kawasan Situs Cibalay, yang selama ini dikenal sebagai satu dari sekian banyak situs megalitik di Kabupaten Bogor, para peneliti menemukan struktur punden berundak yang membuktikan bahwa kawasan ini bukan sekadar tumpukan batu biasa, melainkan tempat yang sarat makna budaya dan ritual masyarakat purba yang pernah mendiami wilayah Nusantara.
Temuan ini diumumkan oleh arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lutfi Yondri, yang memimpin survei lapangan di Situs Cibalay. Menurut penelitiannya, struktur punden berundak yang ditemukan di sini bukanlah kebetulan geologi, tetapi merupakan hasil karya manusia yang penuh perencanaan dan memiliki tujuan ritual. Struktur batu yang disusun membentuk lapisan‑lapisan bertingkat ini menunjukkan tingkat peradaban dan keterampilan masyarakat megalitik setempat dalam mengolah lingkungan alam untuk kebutuhan spiritual dan sosial mereka.
Situs Cibalay sendiri sudah dikenal lama oleh komunitas lokal dan peneliti arkeologi. Lokasi ini berada di Desa Tapos, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, tepat di lereng utara Gunung Salak yang berkabut dan asri. Sepintas, kawasan ini tampak seperti hamparan batu besar yang berserakan, tetapi setelah ditelusuri lebih jauh, arkeolog menemukan bahwa batu‑batu tersebut tersusun sedemikian rupa membentuk pola tertentu yang teratur dan terencana. Struktur yang paling menonjol adalah punden berundak — semacam altar atau piramida bertingkat yang menjadi fokus utama studi arkeologis saat ini.
Punden berundak merupakan ciri khas peradaban megalitik di Indonesia, struktur batu yang tersusun dalam beberapa teras yang biasanya digunakan sebagai tempat pemujaan, pemakaman, atau pusat ritual keagamaan. Struktur seperti ini bukan hanya ditemukan di Cibalay, tetapi juga di tempat lain di Jawa Barat, misalnya di Gunung Padang, yang lebih dulu menarik perhatian dunia karena struktur punden berundaknya yang besar dan kompleks. Dalam konteks Cibalay, punden berundak yang ditemukan diperkirakan berkaitan erat dengan praktik keagamaan masyarakat Austronesia yang pernah mendiami wilayah ini ribuan tahun silam.
Menurut Yondri, kelompok masyarakat yang membangun punden berundak di Cibalay kemungkinan besar adalah bagian dari kelompok masyarakat Austronesia yang telah menetap dan berkembang di Nusantara sejak masa prasejarah. Mereka tidak hanya membuat struktur batu ini sebagai simbol religius, tetapi juga sebagai representasi keteraturan sosial dan hubungan mereka dengan alam dan leluhur. Punden berundak menjadi titik pertemuan antara dunia manusia dan dunia spiritual — tempat di mana komunikasi dengan kekuatan yang lebih tinggi diyakini dapat terjalin.
Baca Juga:
Hutan Kian Tergerus, Macan Tutul Jawa Berjuang Bertahan Hidup
Masyarakat lokal sendiri sejak lama telah menyimpan cerita tentang Cibalay. Nama “Arca Domas”, yang sering dipakai untuk merujuk pada situs utama di kawasan ini, berasal dari bahasa Sunda Kuno yang berarti “800 arca”. Meskipun demikian, bukan berarti secara harfiah ada delapan ratus patung batu di lokasi ini. Sebutan itu lebih mencerminkan keyakinan dan legenda lokal tentang banyaknya batu berukir dan menhir yang tersebar di sekitar kawasan. Menhir adalah batu tegak besar yang sering digunakan sebagai simbol atau penanda dalam budaya megalitik, dan di Cibalay terdapat banyak batu seperti ini yang menambah daya tarik dan misteri situs ini.
Keberadaan punden berundak, menhir, dan batu‑batu yang tersusun rapi menunjukkan bahwa kawasan Cibalay merupakan pusat aktivitas ritual yang penting bagi masyarakat kuno setempat. Di masa‑masa itu, ritual tidak hanya soal agama, tetapi juga merupakan cara masyarakat memahami, menghormati, dan menjalin hubungan dengan alam serta leluhur mereka. Punden berundak sering kali dibangun menghadap ke tempat yang dianggap suci atau kuat secara simbolis, seperti gunung, mata air, atau posisi tinggi lain di lanskap alam — sebuah gambaran jelas tentang bagaimana masyarakat megalitik menempatkan hubungan antara manusia dan alam sebagai inti dari struktur sosial dan spiritual mereka.
Selain nilai spiritual, Situs Cibalay juga menunjukkan nilai historis yang besar karena mencerminkan kejayaan masa lalu yang belum sepenuhnya dipahami. Dari jejak‑jejak temuan batu dan pola susunannya, arkeolog memperkirakan bahwa kawasan ini sudah menjadi tempat pemujaan sejak ribuan tahun lalu. Beberapa penelitian bahkan menyebutkan bahwa situs megalitik di kawasan Cibalay dapat ditelusuri kembali hingga ribuan tahun Sebelum Masehi, menunjukkan bahwa wilayah Jawa Barat telah menjadi tempat pemukiman dan pusat ritual budaya yang kompleks sejak era prasejarah.
Namun, meskipun situs ini memiliki nilai besar bagi pemahaman sejarah Nusantara, perhatian terhadap pelestarian dan penelitian lebih lanjut masih tergolong minim. Akses menuju Situs Cibalay relatif sulit, dengan jalan setapak tanah yang licin dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau sepeda motor. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi arkeolog dan tim peneliti yang ingin melakukan eksplorasi lebih dalam atau mengungkap artefak yang mungkin masih terkubur di bawah lapisan tanah dan vegetasi hutan.
Peziarah modern pun kerap datang ke Cibalay bukan hanya untuk penelitian, tetapi juga untuk tujuan spiritual. Beberapa kelompok masyarakat masih menganggap kawasan ini sebagai tempat sakral, di mana orang datang untuk berdoa atau melakukan ritual tertentu sesuai dengan kepercayaan mereka. Aspek spiritual ini menunjukkan bahwa meskipun zaman telah berubah, hubungan manusia dengan situs‑situs kuno seperti ini masih hidup dalam bentuk praktik kepercayaan rakyat yang diwariskan secara turun‑temurun.
Baca Juga:
Wisata Petik Alpukat di Bojonegoro Tawarkan Sensasi Panen Langsung dari Pohon dan Pesona Agrowisata Pedesaan
Temuan punden berundak di Situs Cibalay tidak hanya membuka lembaran baru bagi sejarah arkeologi Indonesia, tetapi juga memperkaya narasi tentang bagaimana manusia purba berinteraksi dengan lingkungan mereka, membangun struktur yang tidak hanya berfungsi secara praktis, tetapi juga bermakna secara ritual dan simbolis. Dengan pemahaman yang semakin berkembang, Cibalay sejatinya menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang peradaban manusia di Nusantara — sebuah warisan budaya yang kini perlahan terungkap melalui kerja keras para peneliti, kepercayaan lokal, dan rasa ingin tahu umat manusia tentang asal usulnya sendiri.









