Menu

Mode Gelap

Berita · 23 Des 2025 09:50 WIB

Petualangan Mencekam di Gunung Merapi, Satu Pendaki Selamat, Dua Masih Hilang


 Petualangan Mencekam di Gunung Merapi, Satu Pendaki Selamat, Dua Masih Hilang Perbesar

PROLOGMEDIA – Akhir pekan di lereng Gunung Merapi berubah menjadi pengalaman paling mencekam bagi tiga pemuda asal Daerah Istimewa Yogyakarta. Sabtu pagi, 20 Desember 2025, mereka memutuskan melakukan pendakian menuju puncak Merapi, sebuah pilihan yang dipenuhi risiko karena gunung tersebut masih berstatus Siaga Level III, sehingga semua kegiatan pendakian secara resmi dilarang demi keselamatan publik. Namun, niat nekat itu justru mengantarkan mereka pada sebuah kisah perjuangan hidup yang dramatis dan penuh ketidakpastian.

Tepat pukul 04.00 WIB, tiga pemuda itu meninggalkan perkampungan di Sleman, Yogyakarta. Dengan semangat petualang dan tekad kuat mencapai puncak, mereka menapaki jalur Kalitalang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. Jalur ini memang dikenal sebagai salah satu rute yang biasa dipakai untuk mendaki Merapi, namun saat itu pendakian ditutup secara tegas karena aktivitas vulkanik yang masih fluktuatif dan berpotensi membahayakan pendaki.

Perjalanan mereka dimulai dengan harapan yang tinggi. Udara pagi yang dingin, deru angin yang menerobos pepohonan, serta aroma tanah vulkanik menjadi saksi langkah pertama mereka. Ketiganya terus mendaki meskipun tahu bahwa resiko semakin besar akan mendampingi setiap lintasan yang dilalui. Tanpa izin resmi, tanpa persiapan yang memadai, mereka tetap melangkah ke kawasan yang dikategorikan sebagai zona berbahaya.

Dalam kondisi yang relatif tenang, ketiganya berhasil mencapai area Pasar Bubrah, sebuah tempat yang sering disebut sebagai kawasan paling kritis di Merapi, baik karena medan yang terjal maupun dekatnya lokasi dengan jalur aliran lava. Meski berhasil menyentuh titik ini, kondisi alam ternyata bukan sekadar tantangan visual—akar-akar kayu yang menjalar, batu-batu tajam, serta jalur sempit yang curam menjadi ancaman yang terus mengintai.

Sebelum matahari benar-benar meninggi, mereka memutuskan untuk turun melalui jalur berbeda, yaitu Sapuangin. Keputusan ini diambil bukan karena pilihan yang lebih aman, tetapi untuk mempercepat perjalanan menuju bawah sebelum cuaca berubah menjadi buruk. Namun, yang mereka tidak duga adalah jalur turunan itu jauh lebih berat dari perkiraan. Ketika perjalanan turun mulai berlangsung, situasi segera berubah menjadi penuh tantangan.

Salah seorang dari tiga pendaki mengalami cedera pada kakinya. Rasa sakit yang tajam membuat langkahnya terhenti. Dia tak lagi mampu mengikuti ritme kaki rekannya. Di tengah kegelapan yang semakin pekat, mereka terpaksa berhenti. Yang satu memilih untuk tetap di tempat, mencoba menenangkan diri sambil menahan sakit, sementara dua lainnya memutuskan untuk melanjutkan turunnya agar mencari pertolongan. Malam yang gelap, jalur yang dipenuhi vegetasi lebat, serta tidak adanya penerangan membuat situasi semakin mencekam.

Baca Juga:
Hyundai Kepincut Proyek Mobil Nasional! Indonesia Bakal Jadi Pusat Otomotif Hijau?

Kedua pendaki yang melanjutkan perjalanan terus berjalan menuruni lereng, meski langkah mereka dipenuhi kehati‑hatian. Mereka tahu bahwa jika terus berhenti, kemungkinan tidak akan pernah sampai ke tempat aman. Namun, lorong gelap tanpa cahaya apapun menjadi saksi perjalanan mereka yang semakin berat. Hingga akhirnya, pada Minggu pagi, 21 Desember 2025, saat menyusuri salah satu tanjakan curam, kejadian yang tak terduga menimpa salah satu dari mereka.

Saat melangkah di jalur yang sangat terjal, tanah yang licin akibat hujan terakhir membuatnya kehilangan pijakan. Dalam sekejap, tubuhnya terperosok turun ke jurang kecil di lereng gunung. Rasa takut dan adrenalin yang memuncak membuatnya teriak, namun di tengah kegelapan, suaranya nyaris tak terdengar. Meski begitu, berkat kemampuan nalurinya untuk bertahan hidup, ia berhasil mendarat tanpa cedera fatal dan terhindar dari luka berat, meskipun kondisi sangat tertekan dan tubuhnya penuh lelah.

Berbekal keberanian serta naluri bertahan hidup, ia memilih mengikuti aliran sumber air kecil yang mengarah ke bawah lereng. Langkahnya sangat lambat, kakinya terasa nyeri dan tubuhnya lemah, namun tekadnya untuk selamat membuatnya terus berjalan. Setelah beberapa jam berjalan dengan penuh kehati‑hatian, pada akhirnya ia bertemu dengan warga lokal yang sedang melintasi bagian bawah jalur pendakian. Warga itu terkejut sekaligus lega melihat pemuda tersebut dalam kondisi hidup. Mereka segera membantu memberikan pertolongan pertama, makanan, minuman, dan menghubungi pihak berwajib untuk memberikan laporan atas kejadian yang menimpa ketiganya.

Pemuda yang berhasil selamat itu kemudian dibawa ke posko terdekat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Dalam kondisi sadar namun secara fisik sangat lemas, dia menceritakan kembali kejadian yang dialaminya: bagaimana mereka memutuskan untuk mendaki meskipun tahu gunung dalam status tidak aman, bagaimana kaki rekannya cedera, serta bagaimana dirinya jatuh ke jurang kecil namun masih mampu keluar dan bertahan hidup. Cerita ini kemudian menjadi salah satu saksi nyata akan betapa besar risiko pendakian ilegal yang dilakukan tanpa persiapan matang dan dalam kondisi cuaca serta aktivitas vulkanik yang tidak mendukung.

Sementara itu, pencarian dua pendaki lainnya yang masih hilang terus berlangsung. Tim SAR gabungan yang terdiri dari petugas Basarnas, relawan lokal, aparat kepolisian, TNI, serta unsur desa setempat telah melakukan berbagai upaya penyisiran mulai dari jalur Kalitalang hingga Sapuangin. Mereka harus bekerja di medan yang sangat sulit, di tengah cuaca yang tidak selalu bersahabat, serta risiko gempa vulkanik atau luncuran material Merapi yang sewaktu‑waktu bisa terjadi.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, Muhammad Wahyudi, dalam pernyataannya menegaskan kembali imbauan agar masyarakat mematuhi larangan pendakian yang telah ditetapkan. Ia menekankan bahwa status Siaga Level III bukanlah sekadar formalitas, tetapi sebuah sinyal peringatan nyata bahwa gunung tersebut sedang berada dalam periode berbahaya, baik dari sisi aktivitas vulkanik maupun kondisi alam yang tidak stabil. Ia mengingatkan bahwa keselamatan diri sendiri dan orang lain merupakan prioritas utama, sehingga pendakian ilegal yang hanya akan meningkatkan risiko harus dihindari.

Baca Juga:
Hilang Kontak? Jangan Panik! Inilah 6 Cara Jitu Lacak Lokasi Lewat Nomor HP

Kisah tiga pendaki ini menjadi sebuah pengingat bagi seluruh masyarakat akan pentingnya menaati aturan yang berlaku, menghormati kekuatan alam, serta mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang sebelum memutuskan untuk melakukan petualangan di alam bebas. Hingga berita ini ditulis, proses pencarian masih berlanjut, tim SAR terus menggali bukti dan mencari jejak dua pemuda yang hilang, sambil berharap keajaiban akan mempertemukan mereka kembali dalam keadaan selamat.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita