PROLOGMEDIA – Di Desa Keramatjaya, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, sebuah jembatan vital yang menjadi satu-satunya akses penghubung antara tiga desa: Cibadak, Tugu, dan Rancapinang tiba-tiba ambruk saat dilintasi oleh kendaraan berat pada Minggu sore (7/12/2025). Jembatan sepanjang sekitar 17 meter itu retak dan ambles setelah sempat ditambal menggunakan batang pohon kelapa oleh warga, namun akhirnya tak sanggup menahan beban truk pengangkut kayu dan mobil. Akibatnya, akses warga lumpuh total: mobilitas terhenti, distribusi logistik terganggu, dan warga di ketiga desa tersebut kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Segera usai kejadian, warga setempat melaporkan peristiwa itu ke pihak berwenang, dan tim dari Dinas PUPR Kabupaten Pandeglang langsung turun ke lokasi untuk memastikan kondisi jembatan. Mereka pun membuat dokumen perencanaan untuk memperbaiki jembatan secara permanen, namun dalam situasi keuangan kabupaten yang terbatas, langkah itu terhalang ketiadaan dana. Kepala Bidang Bina Marga DPUPR Pandeglang, Andrian Wisudawan, menyebut bahwa perbaikan permanen harus bergantung pada bantuan dari pemerintah provinsi atau pusat.
Situasi ini menuai desakan dari sebagian wakil rakyat. Misalnya, Jojon Suhendar Andari dari Fraksi Gerindra di DPRD Pandeglang mendesak agar pemerintah daerah segera memasang jembatan sementara, agar akses warga tetap bisa berjalan. Ia juga mengusulkan dilakukan audit terhadap seluruh infrastruktur jembatan dan jalan di kabupaten, karena menurutnya kondisi jalan dan jembatan bukan sekadar soal mobilitas tetapi urat nadi ekonomi, pendidikan, serta layanan publik.
Pemerintah kabupaten sendiri tidak menutup kemungkinan opsi jembatan darurat sebagai solusi sementara, sambil menunggu bantuan dari luar daerah. Namun Andrian mengatakan bahwa biaya konstruksi permanen cukup besar, sehingga mereka belum bisa memastikan kapan perbaikan penuh bisa terealisasi. Ia berharap dokumen perencanaan bisa selesai pada akhir 2025, lalu diperjuangkan di tingkat provinsi atau kementerian.
Baca Juga:
Telur Rebus Lebih Enak dan Mudah? Coba Dikukus!
Kejadian ambruknya jembatan ini menjadi bagian dari sorotan lebih luas terkait kondisi infrastruktur di Kabupaten Pandeglang. Beberapa waktu lalu, provinsi melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Banten menyalurkan anggaran besar untuk penanganan jalan rusak di Pandeglang, termasuk pembangunan 29 ruas jalan serta setidaknya satu jembatan dalam program “Bang Andra”. Total dana yang digelontorkan mencapai sekitar Rp 61 miliar.
Salah satu jembatan yang tengah diperbarui oleh provinsi adalah Jembatan Surian Cegog di Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu yang sebelumnya juga ambruk dan menyulitkan akses warga, terutama pelajar. Proyek perbaikan jembatan sepanjang sekitar 24 meter itu telah mencapai sekitar 90% pada Oktober 2025, dan ditargetkan selesai pada November 2025. Pembangunan didanai dari efisiensi anggaran APBD 2025 sesuai dengan kebijakan efisiensi belanja daerah.
Kasus jembatan ambruk di Desa Keramatjaya menunjukkan bahwa meskipun ada program besar dari provinsi untuk meningkatkan infrastruktur, keberadaan jembatan terutama di desa-desa terpencil tetap rentan jika tidak didukung dengan perencanaan pendanaan yang memadai, perawatan berkala, dan kontrol kondisi. Jembatan bukan sekadar fisik: bagi masyarakat setempat, ia adalah jalur hidup, sarana untuk anak pergi sekolah, petani membawa hasil panen, hingga warga memperoleh layanan kesehatan dan kebutuhan pokok.
Baca Juga:
MBG Lansia dan Disabilitas: Kemensos Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis Tanpa Anggaran BGN
Kini, warga di tiga desa penghubung itu harus menunggu, dengan harapan bahwa pembangunan jembatan sementara cepat terwujud, dan renovasi permanen bisa segera direalisasikan. Tekanan dari masyarakat, desakan legislatif, serta komitmen dari provinsi dan pusat akan sangat menentukan apakah akses vital itu bisa pulih dalam waktu dekat, atau terus menjadi beban bagi warga yang sehari-hari bergantung pada jembatan tersebut untuk menjalani kehidupan.









