PROLOGMEDIA – Kawasan hutan di Pegunungan Sanggabuana, yang membentang di wilayah Kabupaten Karawang dan berbatasan dengan daerah lain seperti Purwakarta, Bogor, dan Cianjur, kini tengah berada di persimpangan antara pelestarian alam dan eksploitasi lahan. Kondisi yang mula‑mula tampak tak terlalu mencolok kini berubah menjadi kekhawatiran serius para pemerhati lingkungan setelah sejumlah citra satelit menunjukkan adanya lahan terbuka yang semakin meluas di dalam kawasan hutan tersebut. Lahan yang semula terselimuti pepohonan itu kini berganti menjadi area yang tampak jelas dikerjakan — kebun dan lahan pertanian. Fenomena ini membuka diskusi panjang tentang bagaimana manusia, lingkungan, kebijakan, dan masa depan kawasan ini harus saling bersentuhan secara hati‑hati.
Para aktivis lingkungan dan pegiat konservasi yang selama ini memantau kondisi hutan di Pegunungan Sanggabuana menyatakan bahwa perubahan fungsi lahan itu berpotensi menimbulkan dampak buruk yang jauh lebih besar dari sekadar tampilan visual yang berubah di peta. Mereka khawatir bahwa bila alih fungsi lahan tersebut dibiarkan terus meluas tanpa pengawasan ketat, konsekuensinya bisa berimbas pada lingkungan, infrastruktur sosial masyarakat, hingga munculnya potensi bencana serupa yang pernah menimpa wilayah lain. Kekhawatiran ini bukan sekadar asumsi, melainkan berdasarkan pola yang terlihat dari pengalaman lokasi lain di Indonesia yang mengalami deforestasi hebat.
Pegunungan Sanggabuana sendiri dikenal sebagai kawasan yang memiliki ekosistem hutan yang masih cukup alami. Struktur tanah berlapis pepohonan besar yang telah tumbuh bertahun‑tahun memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Akar pohon meresap air hujan, menahan tanah dari erosi, dan memainkan peran penyangga terhadap berbagai perubahan cuaca ekstrem. Namun, data terbaru yang diperoleh dari citra satelit menunjukkan adanya area terbuka yang semakin melebar di berbagai bagian hutan. Area ini kemudian diubah menjadi kebun oleh oknum masyarakat yang memanfaatkan lahan hutan untuk berkebun tanaman keras seperti kopi, petai, dan jengkol.
Dalam banyak kasus, berkebun di dalam kawasan hutan diperbolehkan asalkan tidak melibatkan pembabatan pohon‑pohon besar. Artinya secara teknis, masyarakat bisa menanam tanaman yang tidak mengganggu tegakan hutan yang sudah ada. Namun, di lapangan, praktik yang terjadi seringkali berbeda jauh dari teori. Banyak pohon besar dibabat habis sebelum lahan disiapkan untuk berkebun. Beberapa pelaku bahkan melakukan teknik yang lebih licik, seperti mengupas kulit dan kambium pohon hingga mati kering, kemudian menebangnya dengan alasan bahwa pohon tersebut sudah tidak lagi layak berada di sana. Tindakan seperti itu menunjukkan betapa lemahnya pengawasan serta pemahaman dari sebagian masyarakat terhadap aturan yang berlaku dan dampaknya terhadap ekosistem yang lebih luas.
Baca Juga:
Kota Serang Kejar Mimpi PSEL: Semua Dokumen Administrasi Dikebut Demi Energi Bersih
Menurut pengamatan yang dilakukan oleh tim Sanggabuana Conservation Foundation bersama TNI AD, ekspedisi yang dilakukan tidak hanya sekedar memetakan lahan dari udara, tetapi juga melakukan pengecekan langsung ke lapangan disertai pengawasan dengan camera trap. Hasil dari pengecekan tersebut memperkuat bukti bahwa banyak area hutan telah dibabat dan kini menjadi lahan terbuka. Sayangnya, upaya edukasi dan sosialisasi sudah dilakukan berkali kali di desa‑desa sekitar hutan, tetapi masih belum menimbulkan perubahan signifikan dalam perilaku masyarakat terkait pemanfaatan lahan hutan.
Dampak dari fenomena alih fungsi lahan ini tidak hanya berdampak pada vegetasi, tetapi juga pada satwa liar yang bergantung pada habitat hutan asli. Hutan Pegunungan Sanggabuana merupakan rumah bagi berbagai jenis satwa endemik dan kritis keberadaannya, termasuk owa Jawa dan macan tutul Jawa. Satwa‑satwa ini memiliki kebutuhan ruang hidup yang spesifik dan hanya dapat bertahan di lingkungan yang struktur dan tutupan pohonnya masih utuh. Dengan tergerusnya habitat akibat pembukaan lahan menjadi kebun, ruang hidup mereka semakin sempit, membuat mereka rentan terhadap stres lingkungan, persaingan makanan, dan bahkan konflik dengan manusia.
Lebih jauh lagi, hilangnya pohon‑pohon besar yang selama ini menjadi penopang ekosistem berpengaruh pada sistem penyerapan air hujan. Ketika pohon ditebang, kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air berkurang drastis. Kondisi ini dapat mempercepat limpasan air ke permukaan, meningkatkan resiko tanah longsor, dan memicu banjir di daerah hilir yang bermukim di kaki gunung. Warga yang tinggal di desa‑desa sekitar hutan kini harus menyadari bahwa keputusan membuka lahan bukan sekadar pilihan ekonomi jangka pendek, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang yang bisa membawa mereka pada situasi darurat bencana.
Para ahli lingkungan menekankan bahwa deforestasi lokal di suatu area — meskipun dimaksudkan untuk kegiatan produktif seperti berkebun — jika tidak dilakukan secara bijak dan terencana bisa mengurangi kualitas tanah, mengubah pola aliran air, serta mempercepat degradasi ekosistem. Saat vegetasi pengikat tanah hilang, lapisan humus yang menjadi penyangga tanah ikut tergerus. Akibatnya, tanah menjadi kurang stabil dan lebih rentan terhadap longsor, terutama saat curah hujan tinggi. Hal serupa pernah terjadi di wilayah lain di Indonesia, di mana alih fungsi lahan yang tidak terkendali terbukti memperparah dampak bencana alam.
Baca Juga:
Juicefriend Resmi Buka Cabang ke-14 di Bekasi, Hadirkan Minuman Sehat Lebih Dekat ke Masyarakat
Sementara itu, aksi alih fungsi hutan menjadi kebun ini juga menimbulkan perdebatan mengenai tata kelola hutan yang lebih luas di tingkat kebijakan. Banyak pihak yang meminta agar pemerintah daerah bersama instansi terkait lebih proaktif dalam melakukan pengawasan serta edukasi terhadap masyarakat. Langkah seperti pemetaan lahan yang lebih akurat, penegakan aturan yang lebih konsisten, serta program‑program konservasi yang mendukung keberlanjutan lingkungan di kawasan hutan diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang. Tanpa tindakan nyata dan terkoordinasi, ancaman terhadap ekosistem Pegunungan Sanggabuana tidak hanya akan terus meningkat, tetapi juga berpotensi membawa dampak buruk yang luas bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.









