Menu

Mode Gelap

Berita · 25 Nov 2025 11:04 WIB

AS Tetapkan Presiden Venezuela sebagai Anggota Organisasi Teroris, Dunia Siaga Konflik Besar


 AS Tetapkan Presiden Venezuela sebagai Anggota Organisasi Teroris, Dunia Siaga Konflik Besar Perbesar

PROLOGMEDIA – Amerika Serikat secara resmi menetapkan “Cartel de los Soles” sebagai organisasi teroris asing, sebuah langkah dramatis yang menandai eskalasi besar dalam ketegangan antara AS dan Venezuela. Keputusan ini diumumkan oleh Departemen Luar Negeri AS dan berlaku efektif pada 24 November 2025. Menurut pemerintah AS, kartel tersebut dipimpin oleh Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, bersama pejabat tinggi militer dan intelijen negara itu.

Langkah ini membuka serangkaian kewenangan bagi AS — tidak hanya untuk menerapkan sanksi ekonomi yang lebih berat, tetapi juga memberikan opsi militer yang sebelumnya sulit diakses. Menurut Jenderal Pete Hegseth dari Angkatan Darat AS, penetapan ini memberi institusi militer “lebih banyak alat,” dan bahwa “tidak ada pilihan yang secara otomatis dikecualikan.”

Dari sisi Washington, Cartel de los Soles merupakan jaringan kriminal yang sudah lama menyatu dengan struktur negara Venezuela. Departemen Keuangan AS sebelumnya mengidentifikasi bahwa kartel tersebut memiliki hubungan erat dengan kelompok Tren de Aragua dan Kartel Sinaloa, dan bahkan mendapat dukungan material dari infrastruktur pemerintahan Venezuela, termasuk militer, intelijen, dan lembaga peradilan.

Namun, pemerintah Venezuela dengan keras menolak klaim tersebut. Mereka menyebut penetapan ini sebagai “fabrikasi konyol” yang dijadikan dalih oleh AS untuk melakukan intervensi. Maduro dan pejabatnya menyatakan bahwa “Cartel de los Soles” sebagai entitas terpisah bahkan tidak ada, dan menuduh bahwa tindakan AS adalah upaya perubahan rezim terselubung.

Di tengah ketegangan politik, langkah AS ini dilakukan bersamaan dengan pengerahan kekuatan militer yang signifikan di Laut Karibia. Kapal induk USS Gerald R. Ford dan sejumlah kapal perang lainnya telah dikerahkan. Menurut pakar kebijakan, kehadiran militer AS di wilayah ini bisa menjadi sinyal bahwa otoritas AS tidak menutup kemungkinan serangan militer di dalam wilayah Venezuela.

Baca Juga:
Pesona Tersembunyi Bogor: Deretan Destinasi Instagramable dengan Panorama Alam yang Menakjubkan

Tetapi meski ancaman militer menguat, Presiden Trump tidak sepenuhnya menutup pintu diplomasi. Ia menyatakan bahwa pembicaraan dengan Maduro bisa saja dilakukan “jika kondisinya tepat.” Hal ini menciptakan gambaran paradoks: di satu sisi, AS meningkatkan tekanan maksimal; di sisi lain, masih membuka celah dialog.

Bagi AS, penetapan ini adalah bagian dari kampanye yang lebih besar untuk menanggulangi apa yang disebutnya sebagai “narco-terorisme.” Gedung Putih mengklaim bahwa organisasi kriminal ini tidak hanya terlibat dalam perdagangan narkoba, tetapi menggunakan kekerasan dengan skala yang dianggap mengancam stabilitas regional. Dengan label teroris ini, AS bisa menindak lebih agresif, termasuk dengan menyasar aset-aset anggota kartel dan menekan aliran dana melalui mekanisme global.

Sementara itu, analis politik dan keamanan memperingatkan bahwa tindakan keras seperti ini bisa membawa konsekuensi serius. Penetapan teroris dan peningkatan tekanan militer berpotensi memicu konflik berskala lebih besar di kawasan. Beberapa politisi Eropa bahkan berbicara tentang “bencana kemanusiaan” jika krisis ini terus memburuk.

Bagi Venezuela, konsekuensi dari langkah AS ini bisa sangat dalam: krisis ekonomi yang makin parah, isolasi diplomatik, hingga kemungkinan intervensi militer. Bagi AS, ini adalah manuver strategis untuk menghadapi rezim yang menurut mereka tidak hanya korup, tetapi juga sangat berbahaya dari sudut pandang keamanan internasional.

Baca Juga:
BNN Luncurkan Re-Link, Layanan Rehabilitasi Keliling untuk Dekatkan Pemulihan ke Masyarakat

Keputusan AS ini bisa menjadi momen penentu dalam hubungan kedua negara. Pertanyaan besar yang menggelayut kini adalah: apakah penetapan “teroris asing” terhadap pemimpin sebuah negara akan membuka jalan bagi operasi militer di Amerika Latin? Dan lebih jauh, apakah ini akan menjadi preseden baru dalam kebijakan luar negeri AS — di mana pemerintahan negara lain bisa dilabeli “narco-teroris” dan dihadapi dengan tekanan militer yang tak kalah dari perang antiteror di masa lampau.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ironi di Tengah Kemewahan: Jalan Kampung di Jakarta Pusat Tak Pernah Diaspal Puluhan Tahun

30 November 2025 - 20:44 WIB

Kisah Lulusan Ber-IPK 4.0 yang Harus Berhadapan dengan Tekanan Dunia Nyata

30 November 2025 - 20:42 WIB

Aturan Barang Bawaan di Kereta Khusus Petani dan Pedagang, Ini Daftar Larangannya

30 November 2025 - 20:24 WIB

Kick-off HPN 2026 di Serang Terselenggara Meriah, Banten Mantapkan Diri sebagai Tuan Rumah Puncak Peringatan Nasional

30 November 2025 - 20:14 WIB

Polri Gerak Cepat Bangun Jembatan Gantung di Soppeng, Tindak Lanjut Instruksi Presiden Prabowo

30 November 2025 - 20:09 WIB

Air Astana Capai Rekor Pemesanan 50 Airbus A320neo untuk Perluas Jangkauan dan Modernisasi Armada

30 November 2025 - 20:07 WIB

Trending di Berita