PROLOGMEDIA – Beberapa pekan lalu, dunia vulkanologi dikejutkan oleh bangkitnya sebuah gunung berapi yang telah tertidur belasan ribu tahun — sebuah peristiwa langka yang membuat banyak ilmuwan menarik napas dalam. Gunung yang dikenal sebagai “tertidur” akhirnya menunjukkan aktivitas, membuktikan bahwa gunung yang selama ini dianggap padam bisa kembali menunjukkan taringnya di masa sekarang.
Fenomena ini memaksa para ahli untuk menyoroti kembali konsep “gunung api” secara lebih hati‑hati. Menurut seorang pakar vulkanologi dari sebuah perguruan tinggi teknik terkemuka di Indonesia, istilah “aktif”, “dormant” (tertidur), dan “padam” memang lazim digunakan. Namun batasan antarnya tidak selalu sama dengan pengertian yang populer di masyarakat — terutama soal rentang waktu dormansi.
Secara umum, gunung api dikatakan “aktif” apabila pernah meletus dalam rentang waktu geologi dikenal sebagai Holosen — lebih kurang 11.650 tahun terakhir. Artinya, meskipun sebuah gunung tidak menunjukkan aktivitas dalam ratusan tahun terakhir, jika ia pernah erupsi dalam rentang itu, secara teknis masih dikategorikan aktif. Namun, ini tidak lantas berarti gunung tersebut akan meletus sekarang juga.
Kemudian ada kategori “dormant” — gunung yang selama ribuan tahun tak pernah meletus, tampak tenang, tapi sesungguhnya masih menyimpan potensi magmatik di kedalaman. Inilah kelompok yang paling tricky. Seringkali masyarakat menganggap “tidur lama = aman selamanya.” Padahal, sejarah belakangan menegaskan bahwa dormansi panjang bukan jaminan keselamatan. Ada gunung yang tertidur ratusan tahun, bahkan ribuan tahun — namun kemudian tiba‑tiba bangkit.
Baca Juga:
7 Destinasi Wisata Instagramable di Sentul untuk Rayakan Malam Tahun Baru yang Seru dan Berkesan
Kasus terbaru menjadi contoh nyata: gunung yang “tertidur” lebih dari 12.000 tahun meledak, memperlihatkan bahwa dormansi super panjang tidak menutup kemungkinan bangkitnya kembali aktivitas magmatik.
Para peneliti juga menyebut ada subkategori yang lebih sulit dideteksi: disebut “restless volcano” — gunung yang tampak tenang di atas permukaan, tanpa asap, tanpa gempa vulkanik besar yang dirasakan manusia, namun magma di bawah permukaan perlahan bergerak, menimbulkan risiko laten. Di Indonesia, dikatakan bahwa terdapat puluhan gunung api yang masuk dalam kategori ini — tersebar di banyak pulau besar seperti Sumatra, Jawa, Bali–Nusa Tenggara, hingga Maluku.
Situasi ini memperkuat fakta bahwa Indonesia, yang termasuk negara dengan jumlah gunung api terbanyak di dunia, memiliki kerentanan vulkanik yang tinggi. Ribuan tahun atau ratusan tahun “tidur” bukan jaminan bahwa gunung aman selamanya — apalagi jika pemantauan dan pemahaman masyarakat terhadap risiko vulkanik masih minim.
Penting sekali bagi kita untuk mendorong langkah-langkah mitigasi: memperkuat sistem pemantauan gunung api, meningkatkan pemahaman publik sebagai komunitas yang tinggal di zona rawan, serta membiasakan sikap waspada. Jangan sampai kita lengah hanya karena gunung tidak menunjukkan aktivitas dalam jangka panjang.
Baca Juga:
Jahe dan Sereh: Dua Rempah Ajaib untuk Kesehatan dan Kesejahteraan
Kebangkitan gunung api dormant adalah peringatan keras: bahwa alam tidak bisa diprediksi sepenuhnya. Dan sebagai bagian dari bangsa yang hidup di kawasan rawan, kewaspadaan serta mitigasi haruslah menjadi bagian dari cara hidup.









