PROLOGMEDIA – Cuaca ekstrem yang melanda kawasan pegunungan Jawa Tengah pada Sabtu sore menciptakan suasana yang tak terduga di sebuah destinasi wisata yang kerap menjadi pilihan para pelancong dan keluarga. Wisata Guci, sebuah area pemandian air panas alami yang selama bertahun‑tahun menjadi magnet wisata di Kabupaten Tegal, berubah drastis menjadi lokasi bencana alam. Perubahan yang terjadi begitu cepat ini menyisakan pemandangan memilukan sekaligus pelajaran kuat tentang kekuatan alam yang tak terduga.
Sejak pagi hingga sore, wilayah lereng Gunung Slamet mengalami intensitas hujan yang luar biasa tinggi. Hujan yang turun tidak hanya sekadar mengguyur tanah, tetapi terus berlanjut dan semakin deras seiring berjalannya waktu. Curah hujan yang tinggi ini pada akhirnya berdampak langsung pada kondisi aliran sungai di kawasan itu, terutama Sungai Gung yang membentang di dekat area wisata. Sungai yang biasanya menjadi pemandangan alami yang menenangkan berubah menjadi arteri air yang mengamuk.
Masyarakat sekitar, pengelola wahana wisata, hingga para pengunjung yang tengah menikmati liburan di Guci, mungkin tidak menyadari bahwa perubahan cuaca sepanjang hari itu akan berujung pada sebuah bencana. Sejumlah pengunjung menceritakan detik‑detik ketika hujan mulai berubah menjadi banjir bandang. Beberapa dari mereka sempat bingung dan panik karena derasnya aliran air yang tiba‑tiba datang. Air sungai yang meluap membawa material lumpur, pasir, batu, dan bahkan pipa‑pipa besar yang lepas dari tempatnya. Suasana tenang yang semula dipenuhi suara tawa berubah menjadi kekacauan dalam hitungan menit.
Banjir bandang yang terjadi di kawasan Pancuran 13 – salah satu titik utama kolam pemandian air panas di Wisata Guci – menyapu bersih hampir seluruh fasilitas yang ada di area tersebut. Pancuran 13 sendiri dikenal sebagai salah satu lokasi favorit wisatawan karena sumber air panasnya yang alami, dipercaya memiliki khasiat relaksasi, serta pemandangan alam sekitarnya yang menyejukkan. Namun siang hingga sore hari itu menjadi saksi bisu bagaimana kolam utama yang selama ini menyambut ribuan pengunjung setiap minggunya hilang tanpa jejak, terbawa arus deras banjir bandang yang melanda kawasan itu.
Seorang warga setempat yang menyaksikan langsung kejadian tersebut menceritakan bagaimana aliran Sungai Gung tiba‑tiba naik sangat cepat menjelang sore. “Air datang begitu cepat. Awalnya hanya seperti hujan deras biasa, tetapi kemudian sungai yang selama ini tenang berubah menjadi deras dan membawa segala sesuatu di depannya,” ujar salah seorang saksi mata yang melihat banjir mulai melanda area wisata. Banyak pengunjung yang masih berada di lokasi ketika itu harus segera diingatkan oleh petugas dan warga untuk segera menjauh demi keselamatan.
Tak hanya kolam air panas yang hilang, jembatan kecil yang biasa digunakan pengunjung untuk menyeberang di area Pancuran 13 juga turut runtuh dan hanyut terbawa arus. Jembatan yang selama ini menjadi ikon kecil bagi para pelancong akhirnya hanyut bersama derasnya arus banjir, meninggalkan pemandangan yang menyayat hati berupa fondasi yang tak lagi utuh. Material lumpur, pasir, dan bebatuan berserakan di mana‑mana, menutup sebagian besar dari apa yang dulu menjadi jalur trotoar dan tempat bersantai para pengunjung.
Baca Juga:
Kenaikan UMP 2026 Diperdebatkan, Pengusaha Khawatir Gelombang PHK Tak Terhindarkan
Salah satu pengelola Pancuran 13, yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung, mengungkapkan perasaan campur aduk saat melihat kondisi setelah banjir surut. “Kami semua terkejut dan merasa hancur melihat kolam pemandian yang kami rawat selama bertahun‑tahun kini hilang begitu saja. Ini pertama kali dalam sejarah Pancuran 13 mengalami kerusakan sedalam ini,” katanya dengan suara yang masih terdengar emosional. Ia menjelaskan bahwa hujan mulai turun sejak siang hari dan semakin meningkat intensitasnya hingga sore, sehingga akhirnya menyebabkan banjir bandang yang begitu dahsyat datang.
Ditambah lagi, sebagian area Pancuran 5, yang berada tak jauh dari Pancuran 13, juga mengalami masalah akibat banjir. Di sana, kolam pemandian tertutup oleh lapisan material yang tebal sehingga hampir tidak dapat dikenali lagi. Ini memperlihatkan betapa kuatnya arus banjir bandang membawa material berat dari hulu sungai yang kemudian menimbulkan kerusakan di sepanjang jalur alirannya.
BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) setempat bergerak cepat ketika menerima laporan mengenai banjir bandang ini. Petugas dari BPBD bersama aparat keamanan, termasuk dari kepolisian, langsung menuju lokasi untuk menangani situasi dan memastikan keselamatan semua pihak yang berada di kawasan wisata. Evakuasi dilakukan dengan prioritas utama keselamatan pengunjung dan pekerja di area tersebut. Semua orang berhasil dievakuasi ke tempat yang aman sebelum banjir bandang mencapai puncaknya. Beruntung, hingga saat ini belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa akibat bencana ini.
Meski demikian, kerusakan materiil yang ditimbulkan sangat besar. Area Pancuran 13 diwisuda ditutup sementara, jalur akses diblokade, dan seluruh fasilitas wisata disterilkan dari aktivitas pengunjung. Pihak berwenang juga telah memasang tanda peringatan dan menutup total akses ke kawasan yang terdampak demi menghindari kemungkinan adanya kecelakaan susulan. Bahkan akses utama yang menuju ke lokasi wisata kini terkunci rapat dan dijaga agar tidak ada warga atau wisatawan yang mencoba mendekat.
Kejadian ini menjadi peringatan keras akan pentingnya kewaspadaan terhadap perubahan cuaca ekstrem, terutama di kawasan yang rawan banjir atau berada di daerah aliran sungai. Wisata alam seperti kolam air panas Guci memang menawarkan pesona yang luar biasa, tetapi juga membawa risiko tinggi saat kondisi cuaca tak bersahabat. Dengan pengalaman pahit ini, para pengelola dan warga sekitar siap melakukan evaluasi demi memperbaiki sistem peringatan dini serta langkah kesiapsiagaan apabila cuaca ekstrem kembali terjadi di masa depan.
Baca Juga:
Tiga Sayuran Andalan untuk Menangkal Radikal Bebas dan Memperkuat Imunitas Tubuh
Di tengah kerusakan yang tersisa, semangat masyarakat untuk bangkit perlahan mulai muncul. Dukungan dari berbagai pihak diharapkan bisa membantu mempercepat proses pemulihan kawasan wisata yang menjadi kebanggaan Kabupaten Tegal ini. Rencana perbaikan dan rehabilitasi fasilitas wisata sedang disusun agar destinasi yang pernah membawa sukacita bagi ribuan pengunjung setiap tahunnya itu bisa kembali menyambut pelancong dengan pemandangan yang lebih aman dan teratur di kemudian hari.









