PROLOGMEDIA – Banjir lahar dingin dari Gunung Semeru kembali menjadi ancaman serius bagi masyarakat Lumajang. Pada Sabtu pagi, material vulkanik yang terbawa air hujan bergerak deras melalui aliran Besuk Kobokan dan terdeteksi telah sampai di Gladak Perak, sekitar 13 kilometer dari puncak Semeru.
Menurut Heruningtyas, Kepala Tim Mitigasi Gunung Api dari Badan Geologi, aliran lahar mulai terlihat di Kali Lanang sekitar pukul 10.50 WIB. Enam menit kemudian, tim mencatat bahwa banjir lahar sudah mencapai Gladak Perak. Dia menyatakan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di kawasan lereng Semeru menjadi pemicu utama pergerakan material vulkanik yang telah menumpuk sejak letusan sebelumnya.
Dalam pemantauan seismik, terdeteksi getaran signifikan: amplitudo maksimal (Amax) mencapai 35 mm, yang menunjukkan adanya tekanan bawah tanah yang berpotensi menandai aktivitas vulkanik lebih jauh. Karena kondisi ini, status Gunung Semeru tetap berada di Level IV (Awas).
BPBD Lumajang pun mengeluarkan peringatan tegas kepada warga. Mereka diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan sempadan sungai, terutama di tepi sungai Besuk Kobokan — dalam radius 500 meter — karena risiko banjir lahar dan awan panas masih sangat nyata. Selain itu, jalur sepanjang Besuk Kobokan menuju sektor tenggara, sejauh hingga 20 km dari puncak, juga dinilai sangat berbahaya dan harus dihindari.
Sinyal bahaya ini juga muncul bersamaan dengan potensi letusan sekunder. Hujan deras yang mengguyur membawa air ke tumpukan material panas dari letusan sebelumnya, memicu letusan kecil yang ditandai dengan asap putih keabu-abuan menyerupai awan panas. Letusan sekunder seperti ini dapat berlangsung tanpa aba-aba, sehingga imbauan evakuasi dan kewaspadaan dinilai sangat penting. BPBD menegaskan agar tidak ada aktivitas manusia di sepanjang sempadan sungai Curah Kobokan, karena akumulasi material panas bisa membahayakan setiap saat.
Kondisi cuaca memperburuk situasi. Heruningtyas menyebut bahwa saat banjir lahar mulai terlihat, puncak Semeru tertutup awan, dan hujan di lereng membuat visual pengamatan gunung menjadi sangat terbatas. Kombinasi hujan dan materi vulkanik yang masih panas menciptakan situasi genting bagi aliran sungai di bawah lereng gunung.
Lebih jauh, letusan awan panas Semeru beberapa hari sebelumnya juga mendapat catatan. Sebuah laporan mencatat bahwa awan panas guguran meluncur hingga sejauh 13 km dan sudah melewati kawasan Jembatan Gladak Perak. Akses ke jembatan itu sempat ditutup oleh BPBD untuk menghindari risiko bahaya bagi kendaraan dan warga.
Baca Juga:
Manfaat Lidah Buaya Untuk Kesehatan Rambut
Situasi ini menuai kekhawatiran di kalangan warga. Video yang beredar menunjukkan kepanikan saat awan panas bergerak ke arah Jembatan Gladak Perak. Warga berlari menjauh, menghindari abu tebal dan kepulan asap yang semakin dekat. Para petugas dari TNI, Polri, BPBD, dan relawan sigap merespons dengan menghentikan aktivitas tambang di sungai dan mengevakuasi warga ke lokasi aman.
Dalam menghadapi ancaman yang terus berulang ini, tim mitigasi vulkanik dan instansi penanggulangan bencana menekankan pentingnya kewaspadaan maksimum. Mereka meminta masyarakat, terutama yang berada di sepanjang aliran sungai, untuk selalu mengikuti arahan resmi dari PVMBG serta BPBD setempat dan menghindari kawasan rawan bencana.
Fenomena lahar dingin Semeru kembali muncul bukan hanya sebagai efek dari letusan, tetapi juga sebagai konsekuensi hujan deras yang membawa sedimen vulkanik turun dari puncak dan lereng gunung. Ketika air hujan bercampur dengan material vulkanik yang sudah lama mengendap, hasilnya menjadi aliran lahar yang deras dan bisa menimbulkan kerusakan serius, terutama di bantaran sungai.
Sementara itu, badai vulkanik dan potensi awan panas sekunder belum sepenuhnya hilang dari radar bahaya. Kejadian letusan sekunder yang menghasilkan asap pekat merupakan bukti bahwa material vulkanik yang belum stabil masih dapat bereaksi kapan saja saat tersentuh air hujan. BPBD mengingatkan bahwa aliran tersebut berbahaya bagi siapa saja yang berada di sempadan sungai, terutama karena duri letusan sekunder dapat mengejutkan dan datang tiba-tiba.
Kenaikan status Semeru menjadi Level IV (Awas) memperkuat langkah mitigasi yang harus dilakukan secara cepat dan sistematis. Alat pemantau seismograf yang menunjukkan getaran besar menandakan bahwa aktivitas vulkanik tetap tinggi, dan potensi bahaya tidak bisa diremehkan.
Dari sisi bencana alam, apa yang terjadi di Semeru ini mengingatkan kembali betapa rapuhnya zona rawan bencana seperti kawasan sungai di lereng gunung. Interaksi antara hujan, material vulkanik, dan aktivitas vulkanik aktif menciptakan kombinasi risiko berlipat: tidak hanya aliran lahar dingin, tetapi juga potensi awan panas dan letusan sekunder.
Di tengah kondisi genting ini, peran mitigasi menjadi sangat krusial. BPBD dan PVMBG harus terus memberikan informasi terkini kepada masyarakat, menyertai dengan langkah evakuasi atau pengamanan, serta memantau kondisi cuaca dan aktivitas gunung secara real time. Masyarakat pun perlu disiplin menanggapi imbauan: menjauhi sungai, tidak beraktivitas di sempadan, dan siap untuk mengungsi bila situasi memburuk.
Baca Juga:
Sering Bingung? Ini Perbedaan Intoleransi Laktosa dan Alergi Susu Sapi
Dengan ancaman yang nyata dan dinamis, perhatian bersama harus ditingkatkan: warga, pemerintah daerah, hingga relawan harus bersinergi untuk menahan dampak bencana sesaat dan meminimalkan potensi kerugian jiwa serta properti. Kejadian ini menggarisbawahi bahwa di balik indahnya pemandangan gunung, ada kekuatan alam yang bisa berubah menjadi ancaman kapan saja. Semeru, dengan segala kemegahannya, mengingatkan kita bahwa kewaspadaan terhadap gunung berapi adalah keniscayaan — bukan hanya saat erupsi, tetapi juga saat hujan dan aliran lahar yang tampak sepele namun mematikan.









