PROLOGMEDIA – Pagi itu di Jalan RE Martadinata, tepat di depan Jakarta International Stadium (JIS) di Kelurahan Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara, genangan air setinggi sekitar sepuluh sentimeter muncul seolah menandai seruan alam bahwa pesisir Ibukota tengah dalam kondisi genting. Banjir rob — banjir pesisir – kembali merendam salah satu ruas jalan yang selama ini menjadi titik rawan, menyulut kewaspadaan dari berbagai pihak.
Sekitar pukul 09.41 WIB, tim gabungan dari Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Utara bersama Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) setempat mulai bergerak cepat. Kepala Satuan Tugas BPBD Korwil Jakarta Utara, Vitus Dwi Indarto, menjelaskan bahwa personel dikerahkan di lokasi untuk memastikan situasi tetap aman dan terkendali. Upaya ini melibatkan pemantauan langsung ketinggian air yang merambat di sepanjang jalan.
Imbasnya cukup jelas: bagian depan JIS tergenang, kendaraan melaju hati-hati menembus air laut yang menapak ringan. Genangan yang tampak ringan ini sesungguhnya mencerminkan fenomena alam yang lebih besar. Menurut keterangan dari BPBD, penyebabnya tak lain adalah pasang maksimum air laut yang bertepatan dengan fase bulan baru, sebuah sinyal bahaya yang telah diingatkan oleh BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok. Dalam peringatan dini yang dikeluarkan sejak 18 November lalu, BMKG menjelaskan bahwa periode 18–26 November ini berpotensi mengalami lonjakan tinggi muka air laut di pesisir utara Jakarta.
Tak hanya menjadi kerja BPBD dan SDA, penanganan banjir rob kali ini juga melibatkan kolaborasi lintas instansi. Pompa-pompa mobile dikerahkan, sedangkan pemantauan terus dilakukan agar genangan tidak melebar ke area yang lebih rawan. Para petugas juga menjaga agar tali-tali air dapat berfungsi maksimal dan aliran tetap lancar. Bukti keberhasilan kolaborasi ini cukup meyakinkan. Menurut laporan BPBD DKI Jakarta, semua genangan rob di wilayah Jakarta Utara sudah surut pada pukul 18.00 WIB di hari yang sama.
Surutnya air tidak lepas dari kerja keras tim gabungan: selain BPBD dan SDA, Dinas Gulkarmat, Bina Marga, Lingkungan Hidup, Satpol PP, dan PPSU Kelurahan turut serta. Mereka bersama-sama menyedot air, memantau saluran, dan menjaga agar kondisi darurat tidak menjalar menjadi krisis. Kehadiran warga pun tak kalah penting: RT/RW setempat, tokoh masyarakat, dan elemen masyarakat lainnya ikut terlibat, menjadi ujung tombak sosial dalam menghadapi bencana alam ini.
Meski genangan tidak melebar ke sejumlah area rawan lainnya, seperti di kawasan Dermaga Ujung, RW 22 Muara Angke, Pluit, hingga RT-RT di sekitarnya, potensi rob tetap menjadi faktor risiko yang terus dipantau oleh pemerintah. Vitus Dwi Indarto mencatat bahwa hingga pukul 10.19 WIB di pagi hari, belum ada genangan signifikan di sana meski tinggi muka air di Pintu Air Pasar Ikan sempat melonjak hingga 256 sentimeter pada pukul 09.00 WIB.
Baca Juga:
Lebih Menguntungkan Mana untuk Kanopi Rumah: Besi Hollow atau Baja Ringan? Pakar Teknik Sipil Jelaskan Perbedaannya
Fenomena pasang maksimum yang dikombinasikan dengan fase bulan baru memang kerap menjadi pemicu banjir pesisir di Jakarta Utara. Bulan baru, yang menyebabkan tarikan gravitasi lebih besar, dapat mendongkrak tinggi muka air laut. Ketika tinggi pasang bertepatan dengan musim atau kondisi geografis tertentu, wilayah pesisir seperti RE Martadinata menjadi sangat rentan tergenang. BPBD dan BMKG telah mengeluarkan imbauan agar warga pesisir tetap waspada dalam beberapa hari ke depan, terutama selama masa peringatan dini ini.
Seiring berjalannya hari, peran warga turut menentukan bagaimana bencana kecil seperti genangan rob ini dikelola. Mereka tidak hanya menjadi korban, tetapi juga bagian dari respons cepat. Imbauan BPBD agar masyarakat tetap menggunakan layanan darurat 112 jika kondisi darurat muncul membuktikan bahwa mitigasi bencana bukan hanya urusan pemerintah, tetapi membutuhkan sinergi masyarakat luas.
Kejadian di Jalan RE Martadinata bukanlah yang pertama. Sebelumnya, kali ini taman langganan rob itu pernah tergenang hingga 25 sentimeter di awal tahun, tepatnya pada Januari lalu. Bahkan, upaya penanganan dari pemerintah tidak sebatas pada saat genangan terjadi. Pada peristiwa sebelumnya, Pemerintah Kota Jakarta Utara sempat mengerahkan empat pompa – termasuk satu unit portabel berkapasitas besar – untuk menyedot air laut ke long storage di Ancol. Langkah ini menunjukkan keseriusan upaya mitigasi yang terus dilakukan agar area depan JIS tetap bisa fungsional dan tidak terhambat oleh genangan air yang berulang.
Sebagai latar belakang, banjir rob yang melanda kawasan pesisir Jakarta bukan semata fenomena musiman. Dalam beberapa bulan terakhir, rob menjadi ancaman periodik, tidak hanya di RE Martadinata, tetapi juga di titik-titik lain seperti Muara Angke dan Pluit. Kejadian berulang ini mengundang sorotan berbagai pihak agar pembangunan mitigasi dilakukan lebih terstruktur. Misalnya, beberapa tokoh publik mendorong percepatan pembangunan giant sea wall sebagai benteng jangka panjang terhadap banjir pesisir.
Kondisi pagi itu, meski intensitas genangan tak ekstrem, tetap menyisakan pesan penting: bahwa pesisir utara Jakarta tidak bisa mengandalkan satu dua pompa saja; dibutuhkan strategi terintegrasi. Dari penguatan drainase dan jalan, hingga penyiapan pompa mobile, serta partisipasi warga — semua harus sinergi.
Saat genangan mulai surut di sore hari, kesibukan warga kembali normal. Lalu lintas Jalan RE Martadinata yang sempat terimbas berangsur lancar kembali. Namun, di balik normalitas itu, ada rasa waspada yang tak mudah hilang. Bagi banyak orang, banjir rob adalah pengingat konstan bahwa Jakarta, meski maju, tetap rapuh terhadap kekuatan alam.
Baca Juga:
Ancaman Tambang Ilegal di Jalur Kabel Bawah Laut Bisa Picu Blackout di Bangka Belitung
Kondisi ini mengajarkan satu hal: antisipasi bencana pesisir adalah pekerjaan kolektif, bukan hanya urusan instansi statis. Mitigasi rob butuh kolaborasi terus-menerus, inovasi struktural, dan kesadaran warga akan peran mereka sendiri. Karena saat laut naik, bukan hanya kekuatan alam yang diuji — tetapi juga kesiapan sebuah kota modern untuk berdamai dengan alam pesisirnya.









