Menu

Mode Gelap

Berita · 10 Nov 2025 20:45 WIB

Beban Berat Industri Baja RI: Terjebak Impor, Terlilit Mesin Tua! Apa Solusi Kemenperin?


 Beban Berat Industri Baja RI: Terjebak Impor, Terlilit Mesin Tua! Apa Solusi Kemenperin? Perbesar

JAKARTA, 10 November 2025, kembali menjadi hari penting bagi industri baja nasional. Di tengah upaya pemerintah untuk mendongkrak daya saing sektor manufaktur, terkuak sejumlah persoalan pelik yang menghambat pertumbuhan industri baja dalam negeri. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dengan Komisi VI DPR RI, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza memaparkan secara gamblang tantangan-tantangan yang dihadapi industri baja, mulai dari ketergantungan impor hingga mesin-mesin pabrik yang sudah uzur.

Kabar buruk pertama yang disampaikan Wamenperin adalah ketimpangan yang sangat besar antara kebutuhan baja nasional dengan kemampuan produksi dalam negeri.

“Gap ini diisi oleh produk impor sekitar 55% kebutuhan nasional dan mayoritas dari China,” ungkap Faisol Riza dengan nada prihatin.

Impor baja yang membanjiri pasar domestik ini tentu saja memberikan tekanan yang besar bagi industri baja dalam negeri, yang kesulitan untuk bersaing dari segi harga maupun kualitas.

Ironisnya, di tengah gempuran produk impor, utilisasi industri baja dalam negeri justru tergolong rendah.

“Sementara utilisasinya industri baja kita sebesar 50% kurang lebih, sehingga industri baja nasional yang idle karena produknya tidak terserap pasar juga cukup banyak,” lanjut Wamenperin.

Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan, karena menunjukkan bahwa industri baja dalam negeri tidak mampu memanfaatkan kapasitas produksi yang ada secara optimal.

Lebih lanjut, Wamenperin menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama rendahnya daya saing industri baja dalam negeri adalah fokus produksi yang terlalu sempit.

“Kondisi tersebut disebabkan karena produksi baja dalam negeri hanya terfokus pada sektor konstruksi dan infrastruktur,” jelas Faisol Riza.

Padahal, sektor lain yang menurutnya bernilai tinggi seperti otomotif, perkapalan, alat berat, dan lain-lain masih relatif terbatas.

Sektor-sektor ini memerlukan jenis baja dengan spesifikasi khusus seperti alloy steel atau special steel baja khusus yang memiliki potensi pasar besar baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Dengan kata lain, industri baja dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan pasar yang lebih beragam dan bernilai tambah tinggi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021 menunjukkan bahwa jumlah perusahaan, berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 24 produsen logam dasar terdiri dari 562 perusahaan, lalu KBLI 25 produsen barang logam, bukan mesin, dan peralatannya1.592 perusahaan. Jumlah perusahaan yang cukup banyak ini seharusnya menjadi modal yang kuat bagi pengembangan industri baja dalam negeri.

Baca Juga:
Pascabencana, Polres Aceh Tamiang Intensifkan Penyisiran dan Perkuat Kesiapsiagaan

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan tersebut masih menghadapi berbagai kendala yang menghambat pertumbuhan mereka.

Masalah lain yang tak kalah pelik adalah kualitas mesin produksi yang sudah tua. Hal itu juga yang menyebabkan baja nasional tidak dapat berdaya saing.

“Sebagian besar produsen masih menghadapi tantangan dalam hal teknologi dan modernisasi peralatan produksi di mana sebagian besar mesin dan teknologi yang digunakan sudah berumur tua dan belum sepenuhnya ramah lingkungan,” terang Wamenperin.

Kondisi ini tentu saja sangat mempengaruhi kualitas dan biaya produksi, sehingga menjadi hambatan dalam upaya menuju industri baja yang punya daya saing, berkelanjutan, dan berstandar global. Mesin-mesin tua tidak hanya menghasilkan produk yang kurang berkualitas, tetapi juga boros energi dan kurang ramah lingkungan.

Namun, di tengah berbagai persoalan tersebut, terdapat secercah harapan bagi industri baja nasional. Kemenperin mencatat produksi baja Indonesia menempati peringkat 14 dunia pada 2024 sebesar 18 juta ton, naik 110% dari 2019. Angka ini menunjukkan bahwa industri baja dalam negeri memiliki potensi yang besar untuk terus berkembang dan meningkatkan kontribusinya bagi perekonomian nasional.

Sebagai perbandingan, total produksi baja pasar dunia pada 2024 sebagai informasi sebesar 1,084 miliar ton, di mana Cina merupakan produsen terbesar dengan produksi baja kasar sebesar 1,005 miliar ton atau 53,3% produksi dunia. “Kemudian di susul India sebesar 149,4 juta ton atau sekitar 7,9% produk dunia. Industri baja nasional saat ini menunjukkan tingkat rata-rata utilisasi sebesar 52,70%,” tutup Wamenperin.

Meskipun masih jauh tertinggal dari Cina dan India, Indonesia memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan tersebut dengan melakukan berbagai upaya strategis, seperti:

1. Meningkatkan investasi di sektor teknologi dan modernisasi peralatan produksi.

2. Mengembangkan produk-produk baja dengan spesifikasi khusus yang memiliki nilai tambah tinggi.

3. Memperluas pasar ekspor ke negara-negara yang memiliki potensi permintaan yang besar.

4. Memperkuat kerja sama antara pemerintah, pelaku industri, dan lembaga penelitian dalam pengembangan teknologi dan inovasi di sektor baja.

5. Menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi pertumbuhan industri baja.

Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan industri baja dalam negeri dapat mengatasi berbagai tantangan yang ada dan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga:
Deretan Makanan Kaya Vitamin B12 yang Penting untuk Energi, Saraf, dan Kesehatan Tubuh

Jangan sampai industri baja Indonesia hanya menjadi penonton di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita