Menu

Mode Gelap

Berita · 10 Des 2025 19:51 WIB

Bendung Cihamerang Terbentuk Akibat Disposal Tol Cisumdawu, Ribuan Warga Sumedang Terdampak


 Bendung Cihamerang Terbentuk Akibat Disposal Tol Cisumdawu, Ribuan Warga Sumedang Terdampak Perbesar

PROLOGMEDIA – Kondisi di Desa Sukasirnarasa, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, kini berada dalam sorotan serius setelah genangan air besar muncul di lahan warga. Lahan seluas ± 8–9 hektare yang sebelumnya adalah sawah produktif kini terendam, karena aliran air alami tertutup oleh timbunan tanah hasil buangan (disposal) proyek Tol Cisumdawu. Dampak ini memicu terbentuknya yang disebut Bendung Cihamerang — sebuah “bendungan semu” yang berisiko bagi warga dan lingkungan sekitar.

 

Beberapa warga setempat semula berharap proyek tol membawa kemajuan — akses lebih cepat, kemudahan transportasi, dan keuntungan ekonomi. Namun kenyataan yang datang: tanah buangan proyek menyumbat saluran air, lalu menutup lima mata air alami. Akibatnya aliran air terhenti, air berkumpul, kemudian membentuk genangan besar yang menenggelamkan sawah.

 

Saat debit meningkat — terutama di musim hujan — air bisa mencapai tinggi signifikan. Laporan terakhir menyebutkan kedalaman air bisa mencapai sekitar 30 meter. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius akan longsor atau jebol, apalagi posisi bendung hanya sekitar 400 meter dari jalur Tol Cisumdawu, sehingga gerakan tanah dianggap sangat sensitif terhadap tekanan air dan perubahan struktur tanah.

 

Warga terdampak tidak sedikit: sekitar 59 hingga 61 kepala keluarga kehilangan sawah dan tidak bisa bercocok tanam. Mereka berjuang untuk tetap bertahan, namun khawatir akan masa depan — mengingat sawah mereka adalah sumber utama mata pencaharian.

 

Menanggapi kondisi memprihatinkan ini, pemerintahan di tingkat kabupaten turun tangan. Pemerintah Kabupaten Sumedang bersama pihak pengelola tol dan instansi teknis terkait berkoordinasi untuk mencari solusi jangka pendek maupun jangka panjang.

 

Langkah pertama adalah penanganan darurat: membuka akses ke lokasi terdampak, membawa alat berat dan pompa air, lalu memulai proses penyedotan dan pengeringan air secara terukur. Namun, pengeringan dilakukan dengan sangat hati-hati karena jika air diturunkan secara tiba-tiba, dikhawatirkan tanah akan longsor atau muncul rongga baru di bawah permukaan — kondisi ini berpotensi lebih berbahaya dari genangan itu sendiri.

 

Selain itu, tim ahli geologi, tanah, dan hidrologi dilibatkan untuk mengkaji struktur tanah dan kestabilan area sekitar bendungan. Karena lokasi bendungan dekat dengan jalur tol, setiap pergerakan tanah bisa mengancam infrastruktur jalan tol maupun permukiman warga.

Baca Juga:
Buah Naga Merah: Pewarna Alami yang Cantik dan Sarat Manfaat bagi Kesehatan

 

Secara resmi, bendungan itu bukan fenomena alam — melainkan akibat langsung dari buangan tanah dari proyek Tol Cisumdawu. Dalam sebuah rapat koordinasi pada 8 Desember 2025, pemerintah daerah memutuskan penanganan serius: fokus pada pengeringan bertahap, stabilisasi dinding bendungan, serta pemantauan spillway agar aliran air tidak tersumbat lagi.

 

Meski upaya darurat sudah berjalan, warga tetap menuntut solusi permanen: ganti rugi lahan, pembebasan lahan terdampak, pembangunan saluran air baru yang aman, serta pembangunan tembok penahan tanah (TPT) agar longsor dapat dicegah. Warga juga menunjukkan kekecewaan terhadap respons yang dianggap lamban, pergantian tim survei yang acap terjadi, serta bantuan yang dianggap tidak memadai — hanya berupa dana maupun bantuan sementara, tapi tanpa jaminan lahan bisa kembali seperti semula.

 

Sementara itu, pemerintah berupaya menunjukkan bahwa mereka bergerak cepat dan serius. Dalam rapat, seluruh pihak terkait — dari pemerintah daerah, instansi teknis, pengelola tol, hingga tim ahli — sepakat bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini. Komitmen itu diucapkan langsung oleh Dony Ahmad Munir, Bupati Sumedang.

 

Meski begitu, tantangan di lapangan tetap besar. Proses pengeringan dan pemulihan lahan bukan sekadar soal menurunkan air, tapi juga memastikan tanah kembali stabil, saluran air benar-benar tertata, dan risiko jebol, longsor, atau keruntuhan tanah bisa diantisipasi. Butuh waktu, sumber daya, dan koordinasi lintas sektor agar solusi tidak sebatas “tutup lubang” sementara, melainkan solusi permanen bagi warga terdampak.

 

Bagi masyarakat terdampak, tahun‑tahun ke depan penuh ketidakpastian: ketika sawah hilang, pendapatan berkurang, dan janji pemulihan belum sepenuhnya terbukti. Bagi pemerintah, persoalan ini menjadi ujian — seberapa cepat dan serius mereka bisa menangani dampak infrastruktur tanpa mengorbankan warga.

 

Kisah di Cihamerang kini mencerminkan dilema besar: pembangunan dan kemajuan lewat proyek infrastruktur seperti Tol Cisumdawu memang membawa kemudahan akses, mobilitas, dan potensi ekonomi. Namun bila perencanaan lingkungan dan drainase tak matang, hasilnya bukan kemajuan bagi semua — melainkan bencana bagi sebagian.

 

Baca Juga:
Janji Palsu di Balik Tembok Penjara: Kasus Pemerasan Mengguncang Lapas Gunung Sindur

Kini, harapan terbesar tertuju pada penanganan serius, keterbukaan, keadilan untuk warga terdampak, dan komitmen bahwa proyek besar tak berarti melupakan aspek keberlanjutan dan keselamatan lingkungan serta masyarakat. Jika semua elemen bisa bekerja bersama — warga, pemerintah, pengelola tol, dan ahli — masih ada peluang agar lahan pertanian pulih, risiko mitigasi bencana tertangani, dan kepercayaan masyarakat terhadap proyek pembangunan bisa kembali perlahan pulih.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Polemik UMSK Jawa Barat Memanas, Zuli Zulkipli Singgung Transparansi Serikat Buruh

3 Januari 2026 - 19:10 WIB

Polri Pastikan Sekolah di Aceh Utara Siap Digunakan Pascabanjir

3 Januari 2026 - 19:00 WIB

Terungkap, Motif Utang Rp1,4 Juta Picu Pembunuhan Sadis di Jambe

3 Januari 2026 - 18:56 WIB

Kisruh Keuangan dan Dugaan Korupsi, Pemprov Banten Bersih-Bersih ABM

3 Januari 2026 - 18:48 WIB

Permukiman hingga Kawasan Industri Cilegon Dikepung Banjir

2 Januari 2026 - 23:08 WIB

Trending di Berita