Menu

Mode Gelap

Berita · 18 Nov 2025 13:39 WIB

BGN Minta Warga Bertani & Beternak: Solusi Atasi Inflasi Program Makan Bergizi Gratis?


 BGN Minta Warga Bertani & Beternak: Solusi Atasi Inflasi Program Makan Bergizi Gratis? Perbesar

JAKARTA – Di tengah dinamika perekonomian yang terus bergejolak, Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah proaktif untuk mengamankan ketersediaan bahan pangan bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah inisiatif ambisius yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia. Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, dengan nada prihatin menyampaikan bahwa lonjakan permintaan bahan pangan akibat program MBG telah memicu kenaikan harga sejumlah komoditas, seperti sayuran, buah-buahan, telur, dan daging ayam. Kondisi ini, jika tidak segera diatasi, berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi daerah dan menghambat pencapaian tujuan program MBG.

Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah tahun 2025 yang digelar di Kementerian Dalam Negeri, Nanik Sudaryati Deyang mengemukakan sebuah gagasan yang cukup inovatif. Ia meminta Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk mengimbau para Kepala Daerah agar mengajak masyarakat memanfaatkan lahan-lahan kosong di sekitar mereka untuk bertani dan beternak.

“Gerakan ini bertujuan untuk membantu menyiapkan bahan baku pangan yang dibutuhkan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga tidak menyebabkan inflasi yang berkepanjangan,” ujarnya dengan nada penuh harap.

Nanik menjelaskan bahwa masyarakat dapat menanami lahan-lahan kosong tersebut dengan berbagai jenis sayuran dan buah-buahan yang mudah tumbuh dan memiliki nilai gizi tinggi. Selain itu, ia juga menganjurkan masyarakat untuk memelihara ayam petelur dan pedaging.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan bahan pangan program MBG, tetapi juga meningkatkan pendapatan keluarga dan menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan produktif.

Lonjakan harga wortel menjadi salah satu contoh konkret yang menggambarkan dampak program MBG terhadap harga komoditas di pasar. Nanik mengungkapkan bahwa harga eceran wortel di pasar sudah mencapai Rp 23.000-25.000 per kilogram, sebuah angka yang cukup fantastis.

“Kenaikan harga pangan ini salah satunya diakibatkan oleh penggunaan bahan baku oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG),” jelasnya.

Saat ini, telah tercatat sebanyak 15.211 SPPG yang terverifikasi dan 13.953 SPPG yang beroperasi secara aktif. SPPG ini melayani total 43 juta penerima manfaat MBG. Jumlah ini, kata Nanik, akan terus bertambah seiring dengan perluasan program MBG ke seluruh pelosok negeri. Hal ini tentu akan berpengaruh besar terhadap penyerapan bahan baku dan harga komoditas di pasar.

Menyadari bahwa program MBG memiliki andil besar dalam perubahan harga komoditas di pasar, BGN berencana membuat kebijakan yang lebih fleksibel dan adaptif. Kebijakan ini akan disesuaikan dengan kondisi bahan baku di masing-masing daerah.

Baca Juga:
Menes Bersatu Tanam Jagung, BUMDes dan Warga Wujudkan Kemandirian Pangan!

“Jika harga komoditas jatuh, maka BGN akan menginstruksikan kepada SPPG untuk menggunakan komoditas tersebut. Sebaliknya, jika harga komoditas naik, kita juga akan menekan agar mengurangi penggunaan bahan tersebut,” kata Nanik.

Selain masalah harga, BGN juga menyoroti masalah diversifikasi bahan baku dalam menu MBG. Beberapa insiden keamanan pangan yang terjadi belakangan ini membuat beberapa SPPG cenderung memilih bahan baku yang aman dan familiar dikonsumsi masyarakat. Akibatnya, substitusi bahan baku kurang dilakukan.

“SPPG cenderung menggunakan bahan yang aman dan itu-itu saja,” kata Nanik dengan nada prihatin.

Untuk mengatasi masalah ini, Nanik mendorong SPPG untuk lebih kreatif dalam mendiversifikasi bahan baku dalam menu MBG yang dibuat. Ia juga akan meminta Sistakol (Kedeputian Sistem dan Tata Kelola BGN) agar mendorong diversifikasi MBG oleh SPPG-SPPG agar dapat menekan harga pasar, terutama di Bulan Desember, menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Nanik berharap bahwa dengan langkah-langkah ini, program MBG dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat Indonesia. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menyukseskan program ini.

“Mari kita bersama-sama membangun Indonesia yang sehat dan sejahtera,” pungkasnya dengan nada optimis.

Sebagai informasi tambahan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama anak-anak. Program ini memberikan makanan bergizi gratis kepada siswa sekolah dasar dan menengah pertama di seluruh Indonesia. Program MBG diharapkan dapat membantu mengatasi masalah stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Selain program MBG, pemerintah juga memiliki berbagai program lain yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, seperti program pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil dan balita, program fortifikasi pangan, dan program edukasi gizi masyarakat.

Baca Juga:
Pesona Jawa Barat di Musim Hujan: Spot Healing dengan Panorama Alam Kelas Dunia

Semua program ini diharapkan dapat bersinergi dan memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan status gizi masyarakat Indonesia.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita