Gunung Bromo, sebuah nama yang begitu akrab di telinga, bukan hanya sekadar destinasi wisata dengan panorama alam yang memukau. Lebih dari itu, ia adalah panggung megah bagi sebuah legenda yang telah bersemi selama berabad-abad, legenda yang mengalirkan kehidupan dan identitas bagi masyarakat Tengger. Di balik hamparan pasir berbisik dan kabut senja yang dramatis, tersimpan kisah abadi tentang cinta, pengorbanan, dan kesetiaan, yang terukir dalam legenda Roro Anteng dan Joko Seger.
Legenda ini bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah narasi spiritual yang menghubungkan erat masyarakat Tengger dengan tanah leluhur mereka. Ia adalah benang merah yang menautkan identitas, ritual, dan sejarah komunitas yang hidup harmonis di sekitar kawah aktif Bromo.
Kisah Cinta di Tengah Masa Sulit
Kisah ini bermula dari sepasang bangsawan yang hidup di tengah pusaran zaman yang penuh tantangan. Roro Anteng, dipercaya sebagai keturunan bangsawan Kerajaan Majapahit yang tersohor, memiliki paras yang menawan dan hati yang mulia.
Sementara Joko Seger, seorang pemuda rakyat biasa yang dikenal karena kesalehan dan kegigihannya dalam bekerja, memiliki jiwa yang teguh dan penuh cinta.
Di tengah kesulitan hidup, cinta tumbuh di antara keduanya. Mereka memohon kepada Sang Hyang Widhi, penguasa gunung yang diyakini mendiami Gunung Bromo, agar diberikan keturunan sebagai pelengkap kebahagiaan mereka. Doa mereka pun dikabulkan, namun dengan sebuah syarat yang sangat berat.
Janji yang Menggetarkan Hati
Sang Hyang Widhi mengabulkan permohonan Roro Anteng dan Joko Seger dengan syarat, jika mereka dikaruniai banyak anak, maka anak bungsu mereka harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo sebagai tanda kesetiaan dan penghormatan.
Syarat ini bagaikan petir di siang bolong, menggetarkan hati pasangan yang sedang diliputi kebahagiaan.
Waktu pun berlalu, dan kebahagiaan melimpahi Roro Anteng dan Joko Seger. Mereka dikaruniai 25 anak yang tumbuh menjadi pemuda-pemudi yang gagah perkasa dan cantik jelita. Namun, kebahagiaan itu diiringi dengan kecemasan yang mendalam, karena janji yang harus mereka penuhi semakin mendekat.
Baca Juga:
4,5 Jam Tembus Hutan Leuser: Ladang Ganja Raksasa Terungkap!
Ketika tiba saatnya memenuhi janji, Roro Anteng dan Joko Seger dilanda kesedihan yang tak terperi. Mereka mencoba mengingkari syarat yang telah mereka sepakati, berharap Sang Hyang Widhi akan berbelas kasihan. Namun, alam pun memberikan peringatan.
Pengorbanan yang Abadi
Gunung Bromo meletus dahsyat, mengguncang tanah Tengger dan mengirimkan pesan yang jelas dari Sang Hyang Widhi. Roro Anteng dan Joko Seger menyadari bahwa mereka tidak dapat lari dari takdir yang telah digariskan. Dengan hati yang berat, anak bungsu mereka, Raden Kusuma, akhirnya rela berkorban demi keselamatan keluarga dan masyarakatnya.
Raden Kusuma dengan tulus hati menyerahkan dirinya ke kawah Bromo, menjadi persembahan yang abadi bagi Sang Hyang Widhi. Dari kisah pengorbanan inilah lahir tradisi suci upacara Yadnya Kasada, sebuah ritual yang menjadi napas budaya masyarakat Tengger hingga saat ini.
Tengger: Simbol Cinta dan Kesetiaan
Nama “Tengger” sendiri dipercaya berasal dari gabungan dua nama tokoh legendaris tersebut, yaitu Teng dari Roro Anteng dan Ger dari Joko Seger.
Penjelasan etimologis ini sering dijadikan dasar narasi yang menjelaskan identitas masyarakat lokal, bahwa mereka adalah keturunan langsung dari pasangan suci tersebut.
Bagi masyarakat Tengger, Gunung Bromo bukan sekadar fenomena geologis yang terbentuk akibat letusan purba dan aktivitas vulkanik yang intens. Ia adalah gunung suci yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, tempat bersemayamnya para leluhur, dan simbol cinta serta kesetiaan yang abadi.
Setiap aktivitas ritual, seperti Yadnya Kasada, dilakukan bukan hanya sebagai tradisi yang diwariskan turun-temurun, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan penjaga gunung.
Baca Juga:
Banten Bidik Lima Besar Catur Nasional: Wagub Dimyati Pacu Pecatur Muda Ukir Prestasi!
Dalam upacara ini, warga Tengger dengan khusyuk naik ke puncak Bromo, menaburkan sesaji ke kawah berupa hasil panen, ternak, hingga bunga dan uang. Ritual ini mencerminkan rasa syukur atas rezeki yang diberikan oleh alam dan kesadaran atas pengorbanan yang menjadi fondasi tatanan sosial mereka.









