Menu

Mode Gelap

Berita · 2 Des 2025 11:22 WIB

Buron Sabu Rp 5 Triliun Ditangkap di Kamboja: Kisah Dewi Astutik dan Jaringan Narkoba Internasional


 Buron Sabu Rp 5 Triliun Ditangkap di Kamboja: Kisah Dewi Astutik dan Jaringan Narkoba Internasional Perbesar

PROLOGMEDIA – Pada awal Desember 2025, publik dikejutkan oleh kabar penangkapan seorang buronan besar yang selama ini dianggap sebagai salah satu sosok paling dicari dalam kasus narkoba internasional. Sosok itu adalah Dewi Astutik, perempuan berusia 43 tahun yang diyakini berperan dalam penyelundupan sabu dua ton dengan nilai fantastis mencapai lima triliun rupiah. Penangkapan ini menjadi salah satu operasi terbesar yang melibatkan kerja sama antara Badan Narkotika Nasional, Interpol, dan dukungan intelijen dari berbagai lembaga keamanan.

Keberhasilan ini diumumkan setelah pihak keamanan melakukan perburuan intensif selama berbulan-bulan, mengikuti jejak Dewi yang kerap berpindah-pindah negara untuk menghindari pelacakan. Pada akhirnya, operasi gabungan berhasil menemukan keberadaan Dewi di Kamboja. Di negara itulah ia ditangkap tanpa perlawanan yang berarti sebelum dijadwalkan untuk dipulangkan ke Indonesia guna menghadapi proses hukum. Kepala BNN disebut segera berangkat untuk menjemputnya dan memastikan bahwa proses pemindahan narapidana berlangsung aman.

Di balik sosok perempuan yang kini menjadi pembicaraan nasional itu, tersimpan kisah yang cukup menarik untuk diulas. Banyak yang mengenalnya sebagai seorang mantan Tenaga Kerja Wanita yang sempat bekerja di berbagai negara Asia. Masyarakat yang pernah tinggal berdekatan dengannya bahkan tidak pernah mengira bahwa perempuan tersebut dapat terlibat dalam sebuah jaringan kejahatan yang begitu besar dan terstruktur. Warga di kampung asal Dewi mengaku kaget saat mendengar berita penangkapannya. Sebagian mengatakan bahwa Dewi tampak seperti perempuan biasa yang menjalani kehidupan wajar tanpa tanda-tanda mencurigakan.

Dewi diketahui pernah tinggal di sebuah dusun di Kabupaten Ponorogo setelah menikah dengan salah satu warga setempat. Namun, warga mengisahkan bahwa kehidupan Dewi saat itu tidak terlalu menonjol. Selain dikenal sebagai pendatang dari daerah lain di Jawa Timur, ia disebut sebagai sosok yang cenderung tertutup. Saat hendak merantau kembali ke luar negeri sekitar tahun 2023, ia hanya menyampaikan bahwa ia ingin bekerja di Kamboja karena sulitnya mencari pekerjaan di desa. Tidak ada seorang pun yang menghubungkannya dengan aktivitas ilegal, apalagi sindikat narkoba internasional.

Namun, belakangan diketahui bahwa selama bertahun-tahun Dewi telah bergerak dalam jaringan penyelundupan besar. Modus yang digunakan oleh sindikat yang diduga dipimpinnya cukup rapi. Ia diduga sering mengganti penampilan demi mengelabui aparat, mulai dari gaya rambut hingga riasan wajah. Pergantian identitas semu ini membuat operasional jaringan semakin sulit dideteksi. Pergerakan lintas negara yang ia lakukan selama bekerja sebagai TKW juga disebut mempermudahnya berhubungan dengan sejumlah pihak yang terlibat dalam perdagangan gelap narkotika.

Penyelidikan panjang menunjukkan bahwa jaringan ini tidak hanya menyasar satu wilayah, melainkan beroperasi di beberapa negara Asia Tenggara. Dua ton sabu yang disebut dalam kasus ini diyakini disiapkan untuk didistribusikan ke berbagai titik perdagangan narkotika internasional. Jika barang haram tersebut berhasil lolos, dampaknya bagi masyarakat akan sangat menghancurkan. Karena itulah, penangkapan Dewi dianggap sebagai pukulan telak bagi sindikat yang selama ini beroperasi secara tersembunyi.

Baca Juga:
Oknum Polisi Polda Banten Tipu Calon Polisi Rp 5 Miliar, Briptu Zaenal Jadi Buronan!

Operasi gabungan yang dilakukan oleh BNN, Interpol, dan intelijen militer ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antarnegara sangat penting untuk memberantas jaringan narkoba yang semakin kompleks. Tidak hanya menyita barang bukti, operasi ini juga membuka peluang bagi aparat untuk menelusuri struktur jaringan yang lebih besar. Banyak pihak meyakini bahwa Dewi bukan satu-satunya tokoh penting dalam jaringan tersebut. Penangkapannya diharapkan memberikan pintu masuk untuk mengungkap dalang lainnya yang selama ini beroperasi di balik bayang-bayang.

Reaksi publik pun beragam. Di satu sisi, masyarakat merasa lega karena salah satu buronan paling dicari akhirnya berhasil ditangkap. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa kasus seperti ini mengungkap kenyataan pahit bahwa jaringan narkoba kini semakin memanfaatkan warga biasa, termasuk pekerja migran, perempuan, atau siapa saja yang dianggap memiliki akses untuk bergerak bebas. Hal ini memunculkan diskusi baru tentang pentingnya perlindungan dan pengawasan terhadap pekerja migran, terutama mereka yang rentan direkrut untuk aktivitas ilegal.

Para legislator di Indonesia juga menyoroti kasus ini sebagai peringatan keras tentang betapa luasnya jaringan narkotika internasional. Mereka menyerukan peningkatan pengawasan ketat di pintu-pintu masuk negara serta memperkuat kerja sama internasional dalam operasi intelijen. Penangkapan Dewi dianggap menjadi bukti nyata bahwa sindikat narkoba tidak lagi bekerja dengan pola konvensional, melainkan menggunakan pendekatan yang jauh lebih sistematis dan profesional.

Bagi masyarakat Ponorogo, kasus ini masih menyisakan kebingungan. Banyak yang sulit mempercayai bahwa perempuan yang mereka kenal dengan kehidupan sederhana ternyata terlibat dalam aktivitas kriminal kelas kakap. Warga mengakui bahwa mereka hanya tahu sedikit tentang latar belakang Dewi. Sebagian bahkan mengatakan bahwa Dewi sering berganti gaya hidup sehingga membuatnya tampak berbeda setiap kali pulang ke kampung. Namun tetap saja, tidak ada yang menduga bahwa perubahan penampilan itu merupakan bagian dari upaya penyamaran.

Saat ini publik menantikan kelanjutan proses hukum. Setelah dipulangkan ke Indonesia, Dewi akan diperiksa secara intensif untuk mengungkap siapa saja yang terlibat dalam jejaring ini. Penangkapan ini diyakini baru langkah awal. Masih banyak lapisan yang perlu dibongkar untuk memahami secara utuh pergerakan sindikat besar ini. Jika penyelidikan berjalan tuntas, bukan tidak mungkin jaringan di balik perdagangan narkoba senilai triliunan rupiah ini dapat sepenuhnya dilumpuhkan.

Baca Juga:
Gubernur Banten Andra Soni Tutup Kegiatan Pelajar Anti Tawuran 2025 dan Tekankan Pembentukan Karakter Generasi Muda

Keberhasilan ini juga menjadi harapan bagi penegakan hukum Indonesia bahwa pemberantasan narkoba tidak boleh dilakukan secara sektoral, tetapi melalui koordinasi menyeluruh antarinstansi dan antarnegara. Dunia kejahatan lintas batas terus berkembang, dan aparat pun harus bergerak lebih cepat dan lebih cerdas. Dengan tertangkapnya salah satu figur kunci seperti Dewi Astutik, Indonesia membuktikan bahwa negara memiliki kemampuan untuk melawan ancaman skala global.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Buruh Rembang Bergerak ke Semarang, Tiga Tuntutan Upah Jadi Sorotan

9 Desember 2025 - 02:19 WIB

Rombongan Pengusaha China Tinjau Proyek IKN, Beri Respons Mengejutkan

9 Desember 2025 - 02:11 WIB

Erupsi Spektakuler Gunung Kīlauea, Lava Menyembur hingga 30 Meter ke Langit

8 Desember 2025 - 19:58 WIB

Kayu Gelondongan Bersertifikat Kemenhut Terdampar di Pantai Lampung, Aparat Selidiki Legalitasnya

8 Desember 2025 - 19:49 WIB

Sejarah Desa Bedulan Cirebon: Legenda Nyi Mas Baduran dan Persinggahan Pasukan Demak

8 Desember 2025 - 19:39 WIB

Lebih dari 6.000 Lulusan S2 dan S3 di Indonesia Putus Asa Mencari Kerja

8 Desember 2025 - 19:29 WIB

Trending di Berita