Menu

Mode Gelap

Blog · 5 Des 2025 15:12 WIB

Burung Nasar: Dari Stigma Pembawa Sial Menjadi Pahlawan Tak Terlihat Penjaga Ekosistem


 Burung Nasar: Dari Stigma Pembawa Sial Menjadi Pahlawan Tak Terlihat Penjaga Ekosistem Perbesar

PROLOGMEDIA – Di langit luas, sosok samar melayang tinggi dengan anggun: sayap lebar menjulang, menunggang arus udara panas yang naik dari tanah. Dari kejauhan, gerakan melingkar-melingkar itu tampak seperti tarian halus, tetapi bagi banyak orang, justru disebut pertanda buruk — kematian, kesialan, atau duka. Adalah burung nasar, atau burung bangkai, yang selama puluhan generasi dibayangi mitos gelap. Namun, di balik stigma itu, para peneliti menyampaikan perspektif yang jauh berbeda — bahwa burung nasar sesungguhnya memainkan peran penting dalam menjaga kebersihan alam dan kesehatan manusia.

 

 

 

Mengapa terbang melingkar?

 

Ketika burung nasar tampak berputar-putar di udara, bukan karena ingin menakut-nakuti, melainkan karena hemat energi. Mereka memanfaatkan arus udara hangat — dikenal sebagai “termal” — yang naik ke atas akibat pemanasan permukaan bumi. Udara hangat ringan dibanding udara dingin, sehingga membentuk jalur angin naik vertikal. Bagi nasar dan jenis pemangsa udara lainnya seperti elang, termal ini berperan layaknya “elevator alami”. Dengan memanfaatkan termal, mereka dapat terbang tinggi, berpindah lokasi tanpa harus mengepakkan sayap terus-menerus, dan menghemat energi.

 

Saat termal menghilang, barulah mereka mengepakkan sayap dengan usaha lebih keras untuk menemukan jalur udara naik berikutnya. Dengan demikian, gerakan melingkar yang sering disalahartikan sebagai “pertanda buruk” sejatinya merupakan strategi efisiensi — cara mereka melintasi hamparan alam luas mencari sumber makanan.

 

 

 

Indra tajam di udara dan tugas pembersihan alam

 

Burung nasar bukan hanya jagoan dalam terbang — mereka juga dilengkapi kemampuan luar biasa dalam mendeteksi bangkai, bahkan yang tersembunyi jauh di bawah kanopi hutan atau dataran luas. Indra penciumannya sangat tajam, sehingga mereka mampu mengecam aroma kematian dari jarak jauh. Ketika menemukan lokasi yang dicurigai, mereka akan berputar untuk memastikan bahwa apa yang mereka kira benar-benar bangkai — bukan hewan masih hidup — lalu turun untuk memakan sisa-sisa itu.

 

Kemampuan itu sangat vital bagi ekosistem. Ketika hewan mati — entah karena sakit, tua, atau diburu — tubuh mereka bisa menjadi sarang bakteri berbahaya jika dibiarkan membusuk terbuka. Tanpa nasar, bangkai akan terurai secara lambat, memungkinkan penyakit seperti rabies, salmonella, atau kolera menyebar ke hewan lain, lingkungan, atau bahkan manusia. Tapi nasar dengan perut dan saluran pencernaan mereka yang keras — asam lambung tinggi dan mikroba kuat — dapat menghancurkan kuman dan virus tersebut saat memakan bangkai, sehingga mengurangi risiko penyebaran penyakit.

 

Alih-alih membawa sial, nasar justru berperan seperti “petugas kebersihan alam” — menjaga agar kematian tidak berubah menjadi wabah penyakit. Fakta ini telah dibuktikan secara nyata: ketika populasi burung nasar di beberapa wilayah turun drastis, angka kematian manusia akibat penyakit yang bersumber dari bangkai meningkat.

 

 

 

Bukti nyata dari krisis populasi nasar

 

Kisah paling dramatis terjadi di India pada awal abad 21. Ketika penggunaan obat anti-radang nonsteroid (NSAID) bernama diklofenak pada ternak meningkat — sebuah obat murah — banyak ternak yang mati, dan tubuh mereka menjadi makanan nasar. Sayangnya obat itu beracun bagi nasar, sehingga banyak burung bangkai yang mati secara massal. Penurunan populasi nasar mencapai angka mengejutkan: hingga 91–98% di beberapa spesies.

 

Akibatnya, tanpa nasar yang membersihkan bangkai, tubuh hewan mati yang mengandung patogen dibiarkan membusuk terbuka. Antara 2000–2005, diperkirakan terjadi kematian separuh juta orang — banyak di antaranya karena infeksi yang seharusnya dicegah oleh nasar.

 

Baca Juga:
Andra Soni Jenguk Revan, Pemuda Baduy Korban Perampokan: Komitmen Pemprov Banten untuk Rasa Aman Warga

Kejadian itu menegaskan bahwa peran burung pemakan bangkai tak bisa diabaikan: mereka bukanlah makhluk “sial” atau “pertanda buruk”, melainkan komponen penyelamat ekosistem dan kesehatan manusia.

 

 

 

Nasar sebagai alarm konservasi & anti-pemburu liar

 

Selain tugas sanitasi alam, nasar modern punya peran tambahan: sebagai “satpam langit”. Di beberapa wilayah, nasar dipasangi unit GPS. Dengan begitu, gerak-gerik mereka bisa dipantau — termasuk jika terbang ke area perburuan liar, pergerakan kotoran, atau pola migrasi. Ketika nasar menunjukkan aktivitas mencurigakan di lokasi tertentu, itu bisa menjadi petunjuk adanya praktik pemburuan liar atau aktivitas manusia yang merusak habitat.

 

Dengan demikian, burung nasar dapat membantu penegakan hukum lingkungan, memantau kesehatan ekosistem, sekaligus memberikan data penting bagi konservasi. Perannya kini jauh melampaui stereotip jahat — menjadi pahlawan tak terlihat di langit, penyelamat bumi, dan penjaga keseimbangan alam.

 

 

 

Mengubah pandangan terhadap makhluk “ditakuti”

 

Selama berabad-abad, manusia membentuk narasi negatif terhadap makhluk yang berbeda — terutama yang dekat dengan kematian, kesunyian, atau hal-hal mistis. Burung nasar, dengan warna gelap, kepala botak, dan kebiasaannya makan bangkai, sering dianggap sebagai lambang kematian — simbol sial, kesedihan, atau petaka. Bahkan sejumlah budaya menggunakan kehadirannya sebagai pertanda bahwa seseorang akan meninggal.

 

Namun sains mengajak kita melihat dari sudut lain. Semua perilaku burung nasar — dari cara terbang, penciuman tajam, sistem pencernaan kuat, hingga kamuflase halus di langit — sejatinya adaptasi ekologi: hasil evolusi untuk bertahan hidup dan menjaga keseimbangan alam. Mereka bukan “penebar sial”, melainkan pembersih, penjaga kebersihan lingkungan, dan pelindung siklus hidup.

 

Dengan pemahaman itu, stigma kuno perlahan harus diganti dengan penghargaan. Memelihara habitat mereka, melindungi populasi nasar, dan menjaga keberadaan mereka sama artinya dengan menjaga kesehatan lingkungan — dan menurunkan risiko bencana ekologis maupun epidemi.

 

 

 

Pelajaran bagi manusia

 

Kisah burung nasar memberi kita pelajaran penting. Alam bekerja dengan cara kompleks dan saling terhubung — setiap makhluk, bahkan yang sering dianggap menyeramkan, punya peran penting. Ketika manusia merusak habitat, mengeksploitasi hewan liar, atau mengabaikan spesies seperti nasar, konsekuensinya bisa jauh lebih besar dari sekadar menghilangnya satu jenis hewan: bisa mengancam kesehatan manusia, keseimbangan ekosistem, bahkan kehidupan manusia secara luas.

 

Oleh karena itu, perubahan pandangan terhadap makhluk seperti nasar penting — dari ketakutan dan mitos menuju pemahaman ilmiah dan rasa hormat. Pelestarian mereka bukan semata tentang menyelamatkan satwa liar, melainkan juga menyelamatkan manusia: menjaga kesehatan lingkungan, mencegah penyakit, dan mempertahankan harmoni alam.

 

Baca Juga:
Workout Seminggu Idealnya Berapa Kali? Panduan Lengkap untuk Pemula!

Jadi, saat Anda melihat bayangan besar nasar melayang di langit, jangan berpikir bahwa itu pertanda kematian. Sebaliknya, itu termasuk suara alam, panggilan bagi manusia untuk menghormati, melindungi, dan belajar hidup bersama — bukan menjauhi atau membenci.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

17 Januari 2026 - 19:40 WIB

Ancaman Spesies Asing Invasif Menggerus Ekosistem Baluran dan Ujung Kulon

3 Januari 2026 - 18:51 WIB

Peringati Hari Ibu, MY ACADEMY Perkuat Peran Ibu sebagai Entrepreneur Modern

24 Desember 2025 - 08:46 WIB

7 Sisa Bahan Makanan yang Bisa Diubah Jadi Kompos Bergizi untuk Tanaman

23 Desember 2025 - 14:56 WIB

Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

23 Desember 2025 - 00:59 WIB

Trending di Blog