Menu

Mode Gelap

Blog · 16 Des 2025 15:39 WIB

Dari Gunungan Sampah Bantargebang, Andi Mengubah Limbah Jadi Sumber Penghidupan


 Dari Gunungan Sampah Bantargebang, Andi Mengubah Limbah Jadi Sumber Penghidupan Perbesar

PROLOGMEDIA – Di sebuah lahan bekas tambang yang kini berubah menjadi gunungan sampah raksasa di Bekasi, Jawa Barat, hidup seorang pria bernama Andi. Hari-harinya dimulai sebelum matahari terbit. Ia berjalan di antara bukit sampah setinggi puluhan meter, menelusuri tumpukan plastik, kertas, botol, dan berbagai benda tak terhitung jumlahnya. Bagi sebagian orang, tempat ini mungkin hanya identik dengan bau busuk dan pemandangan menjijikkan. Namun bagi Andi, inilah ladang “emas” yang memberinya harapan dan kehidupan.

Sejak remaja, Andi sudah terbiasa hidup di kawasan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang merupakan salah satu lokasi pembuangan akhir terbesar di Indonesia. Hari ini, ia sudah bukan lagi pemulung yang hanya bekerja untuk mencukupi kebutuhan harian keluarga. Dengan ketekunan, keterampilan memilah, dan jaringan pengepul yang telah ia bangun selama bertahun-tahun, kini ia berhasil meraup penghasilan yang jauh di atas rata-rata pemulung lainnya: sekitar Rp30 juta per bulan.

Aktivitasnya dimulai dengan berjalan berkilo-kilo meter setiap hari, melintasi “gunung” sampah yang terus bertambah oleh kiriman limbah rumah tangga dari Jakarta dan sekitarnya. Sembari menunduk, matanya mencari benda-benda yang masih memiliki nilai jual — plastik jenis tertentu, aluminium, kaca, bahkan komponen elektronik. Meski pekerjaan ini terlihat sederhana, sebenarnya dibutuhkan pengalaman dan pengetahuan yang matang untuk mengenali barang bernilai di tengah lautan sampah tersebut.

Bantargebang secara harian menerima ribuan ton sampah. Setiap truk sampah dari ibu kota dan sekitarnya datang hampir tak henti, menumpahkan limbah yang tak lagi dibutuhkan masyarakat. Volume sampah yang terus bertambah ini bukan hanya menjadi tantangan pengelolaan lingkungan, tetapi juga menyediakan peluang ekonomi bagi mereka yang mampu memanfaatkannya. Kondisi ini membuat kawasan sekitar TPST tak sekadar tempat pembuangan; tetapi berubah menjadi sebuah “kota” sampah yang penuh dinamika kehidupan.

Di kawasan ini, puluhan ribu pemulung tergabung dalam jaringan informal yang berperan penting dalam industri daur ulang. Mereka mengambil barang yang bisa dijual kembali ke pengepul atau industri pengolahan ulang, dari botol plastik hingga logam ringan. Aktivitas ini bukan sekadar pekerjaan biasa — bagi sebagian mereka, ini adalah sumber penghasilan utama yang menopang hidup keluarga. Di sinilah Andi selain bertahan hidup, juga menciptakan peluang dan mengasah strategi bisnisnya.

Pendapatan yang diraih Andi tak datang begitu saja. Ia mengelola tim kecil yang bekerja memungut dan memilah sampah setiap hari. Barang-barang yang ditemukan akan dikumpulkan, dipilah ulang, dan kemudian dijual ke pengepul yang bersedia membeli dengan harga layak. Untuk mencapai skala pendapatan puluhan juta rupiah sebulan, Andi tidak hanya mengandalkan jumlah barang yang dikumpulkan, tetapi juga pemahamannya tentang nilai pasar jenis-jenis material yang berbeda.

Tidak seperti pemulung pemula yang hanya mengumpulkan barang secara sporadis, strategi Andi mencakup pembagian tugas, pengetahuan tentang kualitas material, serta hubungan bisnis dengan pengepul yang membayar lebih. Ia juga memanfaatkan teknologi sederhana untuk membantu proses sortir, sehingga efisiensi kerja meningkat. Dalam kesehariannya, ia berperan sebagai koordinator sekaligus mentor bagi rekan-rekannya, mengajarkan cara memilih sampah yang paling bernilai.

Baca Juga:
Gubernur Banten Terima Donasi Rp112,4 Juta dari Bank Banten untuk Korban Banjir Sumatera

Kisah Andi menjadi bukti bahwa dalam keterbatasan sekalipun, kreativitas dan ketekunan bisa membuka jalur ekonomi yang tak terduga. Namun, perjalanan menuju posisi ini tidak mudah. Ia bukanlah orang yang lahir dari kemewahan. Ia adalah bagian dari generasi yang sejak kecil melihat keluarganya hidup bergantung pada apa pun yang bisa diambil dari gunungan sampah. Perjuangannya dimulai dari hal paling sederhana: mencari sekantong plastik atau botol yang bisa dijual untuk seharga beberapa ribu rupiah.

Menjadi pemulung bukan tanpa risiko. Bau sampah yang tajam, paparan bahan berbahaya, dan risiko kecelakaan akibat longsoran sampah menjadi bagian rutin dari kehidupan. Belum lagi tantangan kesehatan yang selalu mengintai — penyakit pernapasan, kulit, dan infeksi menjadi ancaman bagi siapa pun yang bekerja dan tinggal di sekitar tumpukan limbah. Meski begitu, mereka yang bertahan memiliki cara sendiri untuk mengatasi kondisi ini, termasuk memakai masker sederhana dan sarung tangan seadanya.

Di balik kehidupan keras itu, terbentuk komunitas yang saling bergantung satu sama lain. Pemulung sering berkumpul sebelum fajar untuk saling bertukar informasi tentang lokasi sampah “terbaik” hari itu. Mereka saling berbagi cerita, strategi pengumpulan, dan harga pasar terbaru dari barang bekas. Untuk banyak di antara mereka, komunitas ini bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga keluarga kedua yang saling mendukung di tengah tantangan hidup.

Keberadaan puluhan ribu pemulung di Bantargebang adalah gambaran kompleks dari krisis sampah perkotaan sekaligus fenomena ekonomi sirkular di tingkat akar rumput. Sementara pemerintah dan pengelola lingkungan berupaya mengatasi volume limbah yang terus meningkat, para pemulung ini telah membangun ekosistem tersendiri yang berkontribusi pada proses daur ulang dan pengurangan limbah. Mereka bukan hanya “penerima sisa”, tetapi bagian dari jaringan yang membantu memulihkan nilai dari apa yang dibuang oleh masyarakat luas.

Pendapatan yang didapat pemulung secara umum bervariasi. Banyak yang hanya mendapatkan penghasilan harian cukup untuk makan dan kebutuhan dasar lain, seringkali jauh di bawah upah minimum regional. Namun bagi mereka yang mampu memperluas jaringan dan mengolah sampah dengan cara yang lebih sistematis, seperti yang dilakukan oleh Andi, peluang untuk meningkatkan pendapatan terbuka lebar.

Cerita seperti ini mengubah cara pandang banyak orang terhadap profesi pemulung. Dari stereotip negatif sebagai pekerjaan kumuh dan tak layak, semakin banyak yang melihat bahwa ini adalah bentuk usaha keras dan inovatif di tengah ekonomi informal. Ini juga menjadi pengingat bahwa dalam setiap tantangan lingkungan, ada manusia yang hidup dan berusaha menciptakan peluang.

Meski demikian, tantangan bagi pemulung masih besar. Di satu sisi, mereka merupakan ujung tombak dalam proses daur ulang informal yang membantu mengurangi beban sampah di TPA. Namun di sisi lain, mereka bekerja tanpa jaminan sosial, tanpa perlindungan kesehatan memadai, dan dalam kondisi yang penuh risiko. Itu sebabnya banyak pihak berharap bahwa dengan berkembangnya kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan, akan ada dukungan — baik dari pemerintah ataupun sektor swasta — untuk meningkatkan kondisi kerja dan kehidupan para pemulung ini.

Baca Juga:
7 Kuliner Legendaris Jatinegara yang Tak Pernah Sepi, dari Rawon, Soto hingga Roti Jadul

Tumpukan sampah di Bantargebang mungkin terus bertambah, tetapi di balik setiap kilogram limbah yang terbuang, ada kisah manusia yang berjuang memaknainya sebagai sumber hidup. Seperti Andi yang berhasil mengubah gunungan sampah menjadi mata pencaharian yang layak, cerita para pemulung ini adalah cermin dari kekuatan manusia untuk menemukan peluang di tengah tantangan terbesar sekalipun — bahkan di tempat yang sering kali dipandang sebagai akhir dari segalanya.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

17 Januari 2026 - 19:40 WIB

Ancaman Spesies Asing Invasif Menggerus Ekosistem Baluran dan Ujung Kulon

3 Januari 2026 - 18:51 WIB

Peringati Hari Ibu, MY ACADEMY Perkuat Peran Ibu sebagai Entrepreneur Modern

24 Desember 2025 - 08:46 WIB

7 Sisa Bahan Makanan yang Bisa Diubah Jadi Kompos Bergizi untuk Tanaman

23 Desember 2025 - 14:56 WIB

Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

23 Desember 2025 - 00:59 WIB

Trending di Blog