Menu

Mode Gelap

Berita · 5 Nov 2025 01:27 WIB

Dari Hutan ke Rekor Dunia: Perjalanan Panjang Medusa, Sang Ular Sanca Kembang Terpanjang!


 Dari Hutan ke Rekor Dunia: Perjalanan Panjang Medusa, Sang Ular Sanca Kembang Terpanjang! Perbesar

JAKARTA – Di tengah hiruk pikuk kota Kansas City, Missouri, Amerika Serikat, tersembunyi sebuah kisah yang memukau dunia. Kisah tentang Medusa, seekor ular sanca kembang (Malayopython reticulatus) raksasa yang memegang rekor dunia sebagai ular terpanjang yang hidup di penangkaran. Dengan panjang mencapai 7,67 meter dan berat hampir 160 kilogram, Medusa adalah bukti nyata keajaiban alam yang mampu tumbuh hingga ukuran ekstrem.

Sanca kembang sendiri adalah salah satu reptil paling menakjubkan di Asia Tenggara. Ular ini dikenal sebagai spesies ular terpanjang di dunia dan tersebar luas di hutan hujan Indonesia, Malaysia, hingga Filipina.

Tubuhnya yang lentur dan berotot menjadikannya predator puncak yang mampu memangsa hewan lebih besar dari dirinya. Dalam banyak budaya di Asia, ular besar seperti sanca kembang sering dikaitkan dengan kekuatan dan misteri alam.

Namun, Medusa bukanlah ular biasa yang ditemukan di alam liar Asia Tenggara. Ia ditetaskan di penangkaran pada 13 Oktober 2004 dan sejak kecil dipelihara oleh tim The Edge of Hell, atraksi rumah hantu di Kansas City.

Di bawah perawatan manusia yang intensif, Medusa tumbuh dalam kondisi terkontrol dengan pakan teratur dan suhu stabil.

Pada 12 Oktober 2011, ia secara resmi dinobatkan oleh Guinness World Records sebagai ular terpanjang yang hidup di penangkaran.

Rekor Medusa bukan satu-satunya catatan luar biasa dalam sejarah sanca kembang. Pada 1912, seekor sanca dari Sulawesi dilaporkan memiliki panjang 10 meter. Jika benar, ular itu akan menjadi ular terpanjang yang pernah tercatat dalam sejarah.

Namun, laporan tersebut berasal dari era kolonial dan tidak disertai bukti ilmiah atau dokumentasi foto, sehingga masih dianggap anekdot. Kasus lain muncul di Penang, Malaysia, pada 2018, ketika seekor sanca betina sepanjang 8 meter ditemukan saat bertelur di lokasi konstruksi.

Penelitian ilmiah memberikan pemahaman baru tentang faktor yang memengaruhi pertumbuhan ular ini. Studi menunjukkan bahwa kondisi lingkungan, ketersediaan mangsa, suhu, dan tekanan ekosistem berperan besar dalam menentukan ukuran akhir ular.

Baca Juga:
Mantan Ketua KPK Antasari Azhar Meninggal Dunia di Usia 72 Tahun

Dalam penangkaran, seperti pada kasus Medusa, faktor lingkungan dan asupan gizi dapat dikontrol dengan baik, memungkinkan pertumbuhan maksimal tanpa gangguan.

Medusa kini berusia 21 tahun dan tetap sehat dalam perawatan manusia. Di alam liar, sanca kembang biasanya hidup 20 tahun, tetapi di penangkaran bisa mencapai lebih dari 30 tahun.

Umur panjang dalam kondisi terkontrol memberi peluang bagi ilmuwan untuk meneliti fisiologi dan siklus hidup ular raksasa ini secara lebih mendalam.

Salah satu aspek biologi paling menarik dari sanca kembang adalah kemampuannya melakukan partenogenesis, atau reproduksi tanpa jantan.

Kasus terkenal terjadi pada seekor sanca bernama Thelma di Kebun Binatang Louisville, Amerika Serikat. Pada 2012, Thelma menghasilkan enam anak tanpa pernah dikawinkan. Fenomena ini membuka peluang riset genetika dan konservasi reptil.

Namun, di balik kekaguman terhadap ukurannya, populasi liar ular ini terancam akibat perburuan, perdagangan kulit, dan hilangnya habitat.

Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan sanca kembang karena merupakan salah satu habitat utama spesies tersebut.

Namun, tekanan terhadap populasi liar semakin besar. Hilangnya hutan akibat konversi lahan, perburuan, dan perdagangan kulit menjadi ancaman serius.

Kisah Medusa adalah pengingat akan keajaiban alam yang perlu kita jaga dan lestarikan. Ukuran luar biasanya memperlihatkan apa yang bisa dicapai spesies ini ketika berada dalam lingkungan yang aman dan terkendali.

Baca Juga:
PHK Sepihak untuk Karyawan Sakit, Oknum Serikat dan Perusahaan Diduga Bermain

Mari kita terus berupaya menjaga habitat alami dan keberagaman genetik sanca kembang agar generasi mendatang juga dapat menyaksikan keindahan dan keajaiban ular raksasa ini.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita