PROLOGMEDIA – Pada musim penghujung di tahun 2025, sebuah lahan jagung seluas puluhan hektar di Desa Bantarpanjang, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, yang semula menjadi wacana kebanggaan bagi program ketahanan pangan nasional, kini justru menjadi pemandangan yang jauh dari harapan. Ladang jagung yang semula diresmikan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada bulan Oktober 2025 dalam sebuah acara seremonial yang diikuti pejabat tinggi negara dan jajaran aparat penegak hukum, kini tersebar foto dan video memperlihatkan keadaan yang terbengkalai, dipenuhi rumput liar, dan tanaman jagung yang tumbuh tidak merata serta menguning.
Kunjungan Gibran pada saat itu dimaksudkan untuk menandai penanaman jagung secara simbolis sebagai bagian dari program penanaman serentak kuartal IV yang digagas oleh Kepolisian Republik Indonesia bersama pemerintah pusat untuk mendukung ketahanan pangan. Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Polri dalam koordinasi dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, serta instansi terkait lainnya. Turut hadir dalam peresmian itu adalah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Bupati Tangerang, Gubernur Banten, serta jajaran pemerintah daerah dan aparat keamanan lainnya.
Saat itu, lahan jagung seluas sekitar 50 hektar tampak menjadi simbol upaya kolaboratif pemerintah dalam menghadapi tantangan penyediaan pangan nasional. Wakil Presiden Gibran bahkan sempat memberikan arahan kepada para petani dan masyarakat setempat tentang pentingnya inovasi dalam pertanian dan peran generasi muda dalam mengadopsi teknologi modern untuk meningkatkan produktivitas sektor pangan. Antusiasme para petani serta dukungan berbagai pihak menjadi sorotan media lokal dan nasional.
Namun, tiga bulan setelah acara tersebut, pemandangan di lokasi menjadi sangat kontras. Pantauan di lapangan menunjukkan sebagian besar areal ladang dipenuhi dengan rumput liar yang tumbuh subur, bahkan lebih tinggi daripada tanaman jagung. Ribuan tanaman jagung yang semula diharapkan tumbuh subur kini terlihat tumbuh dengan tinggi yang tidak merata, sebagian batang dan daunnya mulai menguning, dan banyak pula tanaman yang tumbuh pendek atau bahkan roboh. Di beberapa titik, tanah terlihat kering dan retak, memberikan kesan bahwa perawatan dan pemeliharaan tanaman jagung itu sangat minim atau bahkan hampir tidak ada.
Menariknya, di tengah area yang seharusnya menjadi pusat kegiatan pertanian, tidak terlihat aktivitas penanaman atau perawatan yang dilakukan secara intensif oleh petani atau tenaga pendamping. Suasana lahan justru nampak sepi, bahkan penjagaan pun tidak terlihat. Hanya beberapa warga yang hadir di lokasi tampak mencari rumput atau bahan pakan ternak, bukan bekerja pada ladang jagung itu sendiri.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat lokal dan pengamat pertanian tentang kelanjutan program ketahanan pangan yang semula digembar-gemborkan secara besar-besaran oleh pemerintah. Banyak yang mempertanyakan mengapa ladang yang menjadi simbol harapan itu kini terabaikan, padahal investasi besar dalam bentuk penanaman dan dukungan logistik telah dilakukan.
Sejumlah pengamat pertanian dan tokoh masyarakat bahkan memberikan komentar pedas terhadap kondisi yang ada. Mereka menilai bahwa inisiatif program ini seolah gagal total karena tidak diikuti dengan perencanaan teknis yang matang dan pendampingan berkala kepada para petani. Kritikus mengungkapkan bahwa kekeringan yang terjadi di beberapa wilayah Banten belakangan ini berkontribusi terhadap tanaman yang tidak optimal, dan kurangnya sistem irigasi serta pengelolaan lahan yang baik semakin memperburuk situasi.
“Ini bukan hanya soal tanaman jagung yang gagal tumbuh, tetapi juga tentang bagaimana komitmen pemerintah dalam menjalankan program ketahanan pangan secara nyata, bukan sekadar retorika atau seremonial,” ungkap seorang aktivis pertanian yang enggan disebutkan namanya. Dalam pandangannya, ketahanan pangan harus diukur dengan hasil panen yang konkret, bukan hanya dengan kegiatan penanaman simbolis yang penuh foto-foto pejabat.
Baca Juga:
10 Buah Paling Tinggi Serat untuk Menjaga Kesehatan Pencernaan
Respons terhadap kondisi ini datang dari pihak kepolisian setempat. Pihak Polresta Tangerang menyatakan bahwa mereka tengah melakukan evaluasi teknis terhadap lahan jagung tersebut. Evaluasi ini mencakup kajian tentang kualitas tanah, curah hujan, manajemen pertanian, serta kebutuhan pupuk dan pendampingan yang sesungguhnya diperlukan untuk memastikan tanaman jagung bisa tumbuh lebih optimal pada siklus tanam berikutnya. Kombes Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah, Kapolresta Tangerang, menjelaskan bahwa karakteristik tanah yang kurang mendukung serta curah hujan yang tidak menentu merupakan faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang merata.
Menurut pemantauan awal, lahan di Desa Bantarpanjang memiliki tanah merah kekuningan yang relatif miskin unsur hara dan sebagian bercampur batuan padas, sehingga membutuhkan perbaikan struktur tanah dan pengayaan nutrisi yang lebih intensif. Hujan lebat yang turun secara sporadis juga memicu erosi dan pencucian unsur hara serta pupuk yang telah diberikan, sehingga pertumbuhan jagung menjadi tidak optimal.
Proses evaluasi ini rencananya akan dilanjutkan dengan program pembinaan dan pengembangan lahan, termasuk kemungkinan pengaturan jadwal tanam ulang jagung dan perbaikan sistem pengairan. Langkah-langkah tersebut diupayakan untuk menghindari kegagalan yang sama pada masa mendatang. Pihak kepolisian juga berencana melibatkan pakar agronomi dan instansi pertanian terkait untuk memberikan pendampingan teknis kepada para petani setempat.
Sementara itu, sejumlah petani lokal yang diwawancarai mengungkapkan rasa kecewa. Mereka mengatakan bahwa awalnya program tersebut membawa harapan besar untuk meningkatkan taraf hidup melalui produktivitas jagung yang diharapkan memberi penghasilan tambahan. Namun, kini mereka merasa dibiarkan tanpa dukungan nyata ketika tanaman mulai menunjukkan gejala tidak berkembang dengan baik.
Peristiwa di Tangerang ini kemudian mencuat menjadi perbincangan di kalangan masyarakat luas, terutama di media sosial dan forum diskusi publik. Banyak warga yang mempertanyakan bagaimana sebuah program strategis nasional bisa berujung seperti ini, serta apa makna dari peluncuran acara besar-besaran jika implementasinya tidak berjalan mulus di lapangan.
Kisah ladang jagung di Tigaraksa menjadi refleksi nyata tentang tantangan besar dalam pelaksanaan program ketahanan pangan di Indonesia. Dari langkah awal yang dipenuhi optimisme dan dukungan pejabat tinggi, hingga kondisi di akhir tahun yang menunjukkan realitas pahit di lapangan: tanaman jagung yang dibiarkan tumbuh tanpa pengawasan intensif, rumput liar yang menguasai lahan, dan harapan petani yang mengendur.
Meski demikian, proses evaluasi dan upaya perbaikan masih berlangsung, menunjukkan bahwa pihak terkait menyadari pentingnya langkah korektif untuk merevitalisasi lahan tersebut. Bagaimana hasil evaluasi dan pembinaan yang tengah dijalankan akan menentukan masa depan lahan jagung ini, serta apakah program ketahanan pangan nasional dapat belajar dari kasus ini untuk meningkatkan efektivitas di masa mendatang.
Baca Juga:
Kapolri Pastikan Arus Mudik Nataru 2025 Aman dan Nyaman di Pelabuhan Merak
Dengan demikian, ladang jagung yang dulu menjadi simbol kebanggaan kini berubah menjadi cerminan tantangan nyata di lapangan — bahwa ambisi besar perlu disertai perencanaan matang, pendampingan berkelanjutan, serta sinergi yang kuat antara pemerintah, aparat, dan petani di tingkat akar rumput demi terwujudnya ketahanan pangan yang sesungguhnya.









