PROLOGMEDIA – Monumen Buzludzha, yang dulu pernah menjadi simbol kejayaan Partai Komunis Bulgaria, kini hanya menyisakan sisa-sisa megah yang pelan-pelan terkikis waktu di atas pegunungan Balkan. Terletak dekat kota Kazanlak, bangunan itu berdiri di ketinggian sekitar 1.441 meter di atas permukaan laut — sebuah lokasi yang dipilih secara strategis agar kehadirannya bisa menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu, sekaligus terlihat dari kejauhan sebagai bukti dominasi ideologi komunis kala itu.
Pada awalnya, monumen ini dirancang oleh arsitek Georgi V. Stoilov dengan gaya brutalism futuristik. Bentuknya bulat seperti mahkota berukuran raksasa, tetapi tampak seperti piring terbang dan kemudian populer disebut sebagai “Soviet UFO”. Desainnya sengaja dibuat mencolok, dengan bangunan utama berbentuk lingkaran dan sebuah menara setinggi 70 meter berdiri di sebelahnya — meski menara ini ternyata tak pernah dibuka untuk umum. Aula utama, dengan atap tanpa kolom penyangga, menjulang setinggi 14,5 meter dan memiliki diameter hingga 42 meter. Di dalamnya terdapat mosaik seluas kurang lebih 900 meter persegi, yang menggambarkan pahlawan-pahlawan komunis seperti Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin, serta kisah perjuangan rakyat Bulgaria.
Pembangunan dimulai pada tahun 1974, dengan sekitar 6.000 sukarelawan dilibatkan — mulai dari pekerja sipil, tentara, anggota partai, hingga seniman lokal yang menyumbangkan karya mosaik. Setelah tujuh tahun, monumen ini selesai pada 1981 dan menjadi lokasi utama berbagai upacara dan pertemuan Partai Komunis Bulgaria. Namun, kemegahan itu hanya bertahan singkat. Enam tahun setelah rampung, rezim komunis di Bulgaria tumbang pada 1989, dan Monumen Buzludzha ditutup secara permanen. Fungsi sosial dan politik yang melekat padanya pun lenyap seiring ambruknya ideologi yang pernah diagungkan.
Sejak saat itu, monumen megah ini dibiarkan terbengkalai. Puluhan tahun berlalu, dan kerusakan perlahan merayap ke setiap sudut bangunan. Atap mulai runtuh, kaca-kaca jendela raib dicuri, sementara mosaik berharga itu pudar dan rusak akibat jamur hitam yang menjalar di permukaannya. Meski demikian, struktur bangunan utama masih berdiri — seolah menantang waktu dan mengingatkan siapa pun yang melewatinya tentang masa lalu yang tak pernah sepenuhnya hilang.
Upaya untuk menyelamatkannya sempat muncul. Sebuah yayasan bernama Proyek Buzludzha, bersama sekelompok peneliti dari berbagai negara, pernah menggalang proyek restorasi. Mereka berharap monumen itu dapat dibuka kembali untuk pengunjung umum, menjadi situs bersejarah sekaligus destinasi wisata. Rencana terbentuk dan publik dibukakan akses pada akhir 2023. Namun, birokrasi yang berbelit menahan impian tersebut — hingga kini, monumen itu belum bisa dikunjungi secara resmi.
Baca Juga:
SDN Bojongloa Bebas Genangan: PUPR Temukan Solusi, Relokasi Sekolah Jadi Pertimbangan Utama
Meski demikian, Monumen Buzludzha tetap menjadi magnet bagi para penjelajah urban dan pencinta sejarah. Ia menjadi simbol paradoks: karya arsitektur yang luar biasa, tetapi sekaligus lambang rezim yang runtuh dan kenangan masa lalu yang pahit. Dari sudut pandang estetika, bangunan ini adalah mahakarya brutalism dengan perencanaan matang dan nilai artistik tinggi. Namun dari sisi historis, ia mengingatkan bagaimana kekuasaan dan ideologi bisa menanjak tinggi, lalu jatuh dan ditinggalkan.
Yang tersisa sekarang adalah puing-puing megah di puncak gunung. Struktur baja dan beton yang dulunya dipakai untuk upacara penuh semangat, kini senyap, diterpa angin dan hujan musim Balkan. Jendela-jendela besar yang dulu memantulkan cahaya matahari kini pecah atau hilang sama sekali. Mosaik-mosaik yang menggambarkan para tokoh komunis dan perjuangan rakyat itu mulai mengelupas, lapuk oleh jamur dan kelembapan, menjadi lukisan suram akan masa lampau.
Lantaran keterbatasan akses resmi, pengunjung yang datang harus menempuh pendakian menantang dan menaiki jalur curam. Beberapa dari mereka datang sekadar untuk menyaksikan sisa kemegahan arsitektural yang kontras dengan kehancuran di sekitarnya. Ada pula yang terdorong rasa penasaran akan kisah ideologisnya — bagaimana sebuah bangunan ideologi bisa begitu megah didirikan, hanya untuk ditinggalkan ketika angin perubahan bertiup.
Kisah Monumen Buzludzha bukan sekadar cerita bangunan terlantar. Dia adalah monumen kegagalan ambisi politik dan simbol betapa rapuhnya kekuasaan ketika ideologi tak lagi mendapat dukungan. Namun, dalam reruntuhannya, monumen ini telah berubah menjadi kanvas baru: bukan lagi simbol kemenangan, tetapi satu pelajaran berharga bagi masa kini dan generasi mendatang.
Baca Juga:
Cilacap Berduka: Update Terkini, Tim SAR Terus Berjibaku di Tengah Reruntuhan Longsor
Dalam keruntuhan itu, Monumen Buzludzha menyuarakan sesuatu yang tak kalah kerasnya dari masa kejayaannya dahulu: bahwa pembangunan tanpa pemeliharaan adalah kemenangan yang rapuh, dan kekuasaan, betapapun megah, tak bisa menentang waktu selamanya.









