PROLOGMEDIA – Hari itu di Photharam Shooting Range, Bangkok, suasana tensi tinggi terasa berbeda dari biasanya. Bendera Merah Putih berkibar dengan anggun, namun di balik gemuruh sorak penonton dan gemerlap medali yang diperebutkan di ajang SEA Games 2025, terdapat kisah yang jauh lebih pribadi dan luar biasa dari sekadar kemenangan olahraga. Di balik dua medali emas yang berhasil diraih, tersimpan perjuangan batin dan rahasia yang baru terkuak setelah momen gemilang itu usai.
Dewi Laila Mubarokah, seorang petembak putri Indonesia yang tampil di nomor 10 meter Air Rifle putri, tidak hanya membawa pulang dua emas bagi kontingen Indonesia, tetapi juga menjalani seluruh kompetisi dalam kondisi yang sangat istimewa: ia sedang hamil empat bulan. Kondisi ini tidak diumumkan sebelumnya, bahkan kepada banyak orang di tim, termasuk salah satu pesaingnya sekaligus rekan satu tim sekamar selama pertandingan. Rahasia ini ia simpan dengan rapat untuk melewati kompetisi sebesar SEA Games seperti biasa, menjalani rutinitas latihan, persiapan fisik, dan pertandingan tanpa ada yang menduga bahwa di balik ketenangan di lapangan, dirinya tengah membawa amanah baru dalam hidupnya.
Sebelum pertandingan final dimulai, ada begitu banyak hal yang berputar di benak Dewi. Kehamilan di usia empat bulan bukanlah sesuatu yang mudah bagi seorang atlet elite, apalagi menjalaninya di tengah persiapan total untuk SEA Games. Ia harus menghadapi mual di awal kehamilan, tantangan fisik, dan tekanan psikologis, namun yang paling membuatnya was-was adalah bagaimana hal ini akan dipandang oleh aturan antidoping internasional. Suatu kesalahan dalam konsumsi vitamin atau suplemen tertentu bisa saja dianggap sebagai pelanggaran aturan jika tidak dilaporkan dan dikonsultasikan dengan benar.
Untuk itu, Dewi bersama tim melakukan langkah penting: berkonsultasi dengan organisasi antidoping nasional untuk memastikan semua asupan yang ia konsumsi aman dan sesuai dengan peraturan Badan Antidoping Dunia. Melalui mekanisme pengecualian penggunaan terapeutik, yang dikenal sebagai Therapeutic Use Exemption (TUE), Dewi mendapatkan persetujuan untuk menggunakan vitamin kehamilan secara resmi, sehingga kekhawatiran soal potensi pelanggaran dapat dihindari. Langkah ini memberikan ketenangan tersendiri, dan menjadi fondasi penting agar ia tetap bisa fokus pada penampilan terbaiknya di lapangan.
Meski begitu, setiap langkahnya tetap penuh tantangan. Dewi tidak mudah menjelaskan pada tubuhnya sendiri bahwa ia harus tampil seolah tiada beban, sementara di dalam dirinya ada kehidupan yang terus tumbuh. Pada fase awal, mual sering menyerang, namun ia memilih menahan diri agar tidak ada yang curiga. Ia hanya berbagi kisah ini kepada suaminya, Fathur Gustafian, yang juga seorang atlet menembak. Dukungan dari Fathur menjadi kekuatan besar selama masa-masa itu, karena hanya dia yang benar-benar tahu betapa berat perjuangan yang dijalani Dewi jauh dari sorotan publik.
Baca Juga:
Lari 10K Makin Kencang? 7 Trik Rahasia Pelari Pro Dibongkar!
Langkah Dewi hingga akhirnya tampil di nomor beregu putri dan perorangan merupakaan kombinasi dari persiapan matang, strategi mental yang kuat, dan dukungan penuh dari pelatih serta tim nasional. Hari kompetisi tiba, dan tim menembak putri Indonesia tampil solid di nomor 10 meter Air Rifle beregu putri. Dengan konsistensi dan koordinasi yang apik antara tiga petembak, Indonesia berhasil mengumpulkan skor yang memukau, unggul tipis dari tim lain dan meraih medali emas. Di panggung kemenangan itu, air mata kebahagiaan tak bisa lagi ditahan. Semua kerja keras seolah terbayar.
Namun, itu bukanlah puncak dari kisah inspiratif ini. Setelah memastikan emas beregu, secara individu Dewi Laila menapaki panggung final nomor 10 meter Air Rifle putri dengan fokus yang luar biasa. Dua belas tembakan yang menentukan itu membawa Dewi dan tujuh pesaing lainnya dalam persaingan ketat. Dewi sempat tertinggal, namun ia mampu bangkit perlahan dengan strategi yang matang: menjaga ritme, mengatur napas, dan menerapkan semua pelatihan yang telah diulangnya berulangkali. Kesabaran dan konsentrasi yang ditunjukkan menjadi bukti nyata bahwa mental seorang atlet tidak ditentukan oleh situasi eksternal, tetapi oleh pengendalian diri di bawah tekanan.
Di akhir pertandingan, ketika skor diumumkan dan namanya berada di puncak klasemen final, sorak penonton pecah. Dewi Laila berhasil meraih medali emas dari nomor perorangan dengan skor tertinggi, menjadikannya sebagai petembak yang luar biasa pada ajang kali ini. Tidak hanya itu, momen emosional terjadi ketika rekan satu tim sekaligus pesaingnya, Dominique Rachmawati Karini, yang meraih medali perak, datang memeluk Dewi di tengah arena. Momen itu menunjukkan bahwa kompetisi dan persahabatan dapat berjalan berdampingan, serta bahwa rasa hormat tetap hidup walaupun di bawah tekanan besar.
Sorak sorai juga datang dari tribune, di mana suami Dewi, Fathur, menyaksikan setiap tembakan dengan campuran perasaan antara kecemasan dan kebanggaan. Bagi Fathur, keberhasilan ini bukan sekadar kemenangan di ajang olahraga, melainkan simbol dari keyakinan bersama yang mereka jalani sebagai pasangan. Keputusan Dewi untuk tetap bertanding di tengah kehamilan bukanlah hal yang sederhana; ini adalah keputusan yang lahir dari keyakinan diri, dukungan pasangan, dan komitmen kuat terhadap negara serta impiannya sendiri.
Perjalanan yang dilalui Dewi laksana dua medan pertempuran: satu di lapangan tembak yang penuh tekanan dan satu lagi di dalam tubuhnya sendiri, menjaga keseimbangan antara peran sebagai atlet dan calon ibu. Dua medali emas yang dipersembahkan bukan hanya sekadar prestasi olahraga, tetapi juga sebuah narasi tentang keberanian, keteguhan hati, dan teladan bagi banyak orang bahwa batasan bukanlah halangan mutlak jika digarap dengan disiplin dan strategi yang matang.
Baca Juga:
Ironi di Tengah Kemewahan: Jalan Kampung di Jakarta Pusat Tak Pernah Diaspal Puluhan Tahun
Ketika seluruh rangkaian pertandingan SEA Games 2025 telah usai dan delegasi Indonesia bersiap kembali ke tanah air, nama Dewi Laila Mubarokah akan dikenang bukan hanya sebagai atlet yang meraih dua emas, tetapi sebagai sosok inspiratif yang menunjukkan kepada dunia bahwa prestasi dan kehidupan pribadi dapat bersatu dengan harmoni ketika dijalani dengan penuh keyakinan. Ia telah menorehkan satu bab penting dalam sejarah olahraga Indonesia, dan kisahnya akan terus dikenang sebagai refleksi dari keberanian, kerja keras, dan cinta pada tanah air.









