Menu

Mode Gelap

Berita · 27 Nov 2025 07:46 WIB

Efek Indonesia Guncang Pasar Global: Harga Beras Dunia Anjlok Setelah Swasembada 2025


 Efek Indonesia Guncang Pasar Global: Harga Beras Dunia Anjlok Setelah Swasembada 2025 Perbesar

PROLOGMEDIA -:Seiring dengan kebijakan strategis dari pemerintah Indonesia untuk menghentikan impor beras pada 2025, dunia kini menyaksikan fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya: harga beras global merosot tajam. Kebijakan ini, yang bertumpu pada meningkatnya produksi domestik dan stok domestik yang melimpah, disebut-sebut menjadi ‘efek Indonesia’—sebuah titik balik dalam dinamika pasar pangan dunia.

 

Awal 2025, situasi dalam negeri sudah menunjukkan sinyal perubahan. Indeks harga yang diterima petani atas gabah (padi kering panen) melesat dari 136,78 — terhitung pada Januari 2025 — menjadi 146,24 per Oktober 2025. Kenaikan indeks ini menggambarkan bahwa petani padi di Indonesia menerima harga lebih baik atas hasil panen mereka, menunjukkan bahwa produktivitas dan daya beli petani semakin membaik.

 

Langkah besar datang dari keputusan pemerintah pusat: menghentikan impor beras untuk tahun 2025. Kebijakan ini bukan hanya soal menutup keran impor, melainkan upaya tegas menuju kemandirian pangan — “swasembada beras.” Ketika Indonesia, yang sebelumnya termasuk salah satu importir besar, menghentikan pengadaan dari luar, keseimbangan pasokan global langsung berubah. Hasilnya: harga beras di pasar internasional terjun, jauh dari angka sebelumnya yang sempat mencapai sekitar 650 dolar AS per ton.

 

Data dari beberapa negara eksportir utama seperti Thailand, Vietnam, Pakistan, dan Myanmar mendukung perubahan dramatis ini. Memasuki pertengahan 2024, harga beras putih 5 persen (katakanlah jenis standar ekspor) dari negara-negara tersebut secara konsisten tercatat dalam rentang 622 sampai 655 dolar per metrik ton. Namun, hanya beberapa bulan setelah keputusan Indonesia untuk menghentikan impor, harga mulai merosot — turun ke kisaran 455 sampai 514 dolar per ton. Penurunan ini mencerminkan adanya perubahan struktural di pasar dunia: permintaan menurun karena tingginya suplai domestik dari Indonesia.

 

Dampak globalnya pun nyata. Indeks harga beras dunia, yang dipantau oleh lembaga internasional, menunjukkan penurunan: misalnya indeks utama untuk beras dunia tercatat turun dari level tinggi sebelum 2025 ke angka yang jauh lebih rendah pada September 2025. Hal ini menandai bahwa negara-negara lain — terutama eksportir besar Asia — ikut merasakan tekanan harga akibat kebijakan Indonesia.

 

Sementara itu, dalam negeri, surplus produksi beras terlihat semakin jelas. Proyeksi produksi nasional untuk 2025 mencapai 34,77 juta ton — melonjak dibandingkan periode sebelumnya — dan menyalip kebutuhan konsumsi nasional yang diperkirakan sekitar 30,97 juta ton. Artinya, ada surplus sekitar 3,8 juta ton. Dengan stok beras melimpah, pemerintah pun berpeluang menambah cadangan beras nasional atau mengoptimalkan distribusi untuk menjaga stabilitas harga dalam negeri.

 

Baca Juga:
Jelang HPN 2026: Ma’ruf Amin Minta “Geger Cilegon” Dikobarkan Kembali, Api Perjuangan Banten!

Lebih dari itu, lonjakan indeks harga yang diterima petani menunjukkan bahwa swasembada ini tidak hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas kesejahteraan petani. Peningkatan dari 136,78 ke 146,24 bukan angka semata — ini berarti petani memperoleh harga lebih baik, yang dapat memperkuat ekonomi agraris lokal, mendorong semangat produksi, dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar luar negeri.

 

Namun pemerintah tidak berhenti di situ. Untuk memastikan harga tetap terkendali dan tidak melonjak secara artifisial di tingkat konsumen—terutama di daerah terpencil—dibentuklah Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama jajaran terkait: ritel, grosir, distributor, pengecer, dan institusi terkait. Mereka membentuk Satuan Tugas Pengendalian Harga Beras (Satgas) yang pada 2025 telah memantau ribuan titik — dari produsen, grosir, hingga pengecer — untuk memastikan distribusi merata dan harga beras medium tetap di level wajar.

 

Bagi pemerintah dan petani, keberhasilan ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa strategi swasembada pangan bisa menjadi jalan bagi Indonesia untuk menjadi kekuatan stabilitas pangan global. Dengan surplus produksi sekaligus daya beli petani yang meningkat, Indonesia menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap impor bukan satu-satunya jalan untuk memenuhi kebutuhan domestik — bahkan bisa mengubah peta pasar internasional.

 

Dampaknya juga merambat ke negara eksportir lain. Negara-negara yang selama ini mengandalkan permintaan besar dari importir seperti Indonesia, kini harus menyesuaikan strategi: produksi, harga, bahkan ekspor beras mereka. Kompetisi global berubah — dan Indonesia, melalui kebijakan dan keberhasilan produksi dalam negeri, menjadi pemain utama yang mempengaruhi dinamika harga internasional.

 

Meski demikian, situasi ini juga membawa tantangan. Penurunan harga global bisa jadi membuat ekspor dari negara eksportir menurun drastis, yang mempengaruhi petani dan produsen di negara-negara tersebut. Tapi bagi Indonesia, ini adalah kemenangan kebijakan: harga dunia terkoreksi, petani mendapat subsidi harga tidak resmi melalui pasar, dan ketahanan pangan domestik semakin kuat.

 

Kini, ketika dunia tengah mengamati tren ini — bahwa negara dengan produksi besar dan kebijakan berani bisa mengendalikan pasar global — Indonesia menunjukkan: swasembada bukan hanya tujuan nasional, tapi bisa menjadi pilar stabilitas pangan global. Sebuah pelajaran bahwa dengan kebijakan tepat dan konsisten, negara tropis agraris bisa berperan besar — bukan hanya mengisi piring rakyatnya sendiri, tetapi mempengaruhi pasar dunia.

 

Baca Juga:
Semangat Gotong Royong Membara: Kampung Kepaten Juara Umum LBBGR Kabupaten Serang

Kisah “efek Indonesia” ini bukan sekadar statistik atau data ekonomis — melainkan refleksi kekuatan kolektif petani, kebijakan, dan tekad untuk mengubah ketergantungan menjadi kemandirian. Dan saat ini, dunia belajar: kadang-kadang, menghentikan impor bisa berarti memberi ruang bagi produksi lokal — dan menurunkan harga global.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita