Menu

Mode Gelap

Kuliner · 23 Nov 2025 18:02 WIB

Fenomena Kopi Kecoa di Beijing: Sensasi Kuliner Ekstrem yang Jadi Buruan Pengunjung


 Fenomena Kopi Kecoa di Beijing: Sensasi Kuliner Ekstrem yang Jadi Buruan Pengunjung Perbesar

PROLOGMEDIA – Sebuah museum unik di Beijing menarik perhatian publik setelah memperkenalkan sajian kopi yang tiada duanya: kopi kecoa. Tak tanggung-tanggung, bubuk kecoa halus disajikan di atas permukaan minuman ini, memberikan sensasi visual sekaligus mengejutkan bagi para pengunjung. Harga per cangkirnya sekitar 45 yuan (sekitar US$ 6) — setara dengan kurang lebih Rp 100 ribu, menurut laporan media.

 

Konsep ini lahir dari kedai kopi yang berada di dalam museum serangga di ibukota China. Kafe tersebut memang sengaja mengusung tema eksperimental dan menyeramkan, sekaligus selaras dengan identitas museum. “Kami meluncurkan jenis kopi ini pada akhir Juni,” ujar salah satu staf museum kepada media. Mereka menambahkan bahwa tren minuman ini baru mencuat di internet beberapa waktu belakangan.

 

Tak hanya kecoa, menu minuman di kafe ini cukup beragam dan eksentrik. Ada kopi yang dicampur dengan bubuk kecoa, namun juga varian lain seperti kopi dengan cairan pencernaan tumbuhan kantung semar (pitcher plant) serta edisi terbatas minuman yang berbahan dasar semut, yang hanya dijual pada musim Halloween.

 

Meski terlihat “angker”, staf museum menegaskan bahwa semua bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi. Mereka mendapatkan bahan-bahan tersebut dari toko obat tradisional Tiongkok (TCM), di mana kecoa kering diolah menjadi bubuk dan sudah lama dipakai dalam praktik pengobatan tradisional.

 

Menurut prinsip TCM, bubuk kecoa dipercaya dapat membantu melancarkan peredaran darah, sementara mealworm (ulat kuning) yang juga hadir dalam minuman itu kaya protein dan diyakini bermanfaat untuk sistem kekebalan tubuh.

 

Dari segi rasa, para penikmat kopi serangga ini menggambarkan cita rasanya sebagai “terbakar dan sedikit asam.” Sebuah pengalaman yang jauh dari kopi biasa, tapi cukup mencuri perhatian terutama kalangan muda yang penasaran. Mereka yang mencoba varian kecoa ini umumnya adalah pengunjung muda yang ingin merasakan sensasi berbeda — sedangkan orangtua atau pengunjung bersama anak-anak cenderung menolak karena merasa jijik dengan serangga. “Kopi kecoa ini terutama dikonsumsi oleh orang-orang muda yang penasaran,” ujar pegawai museum.

 

Baca Juga:
Jakarta Rasa India: Intip 7 Sudut Unik di Little India yang Bikin Penasaran

Bahkan seorang content creator asal Beijing, Chen Xi, mencoba minuman ini atas permintaan pengikutnya. Dengan mata terpejam, ia meneguk cangkir kopi tersebut dan mengaku bahwa rasanya “tidak sejelas yang saya bayangkan.” Namun, tidak semua orang seberani itu. Di media sosial, beberapa netizen menyatakan skeptis sekaligus jijik. Seorang pengguna menulis, “Saya bahkan tidak berani minum ini walaupun dibayar,” mencerminkan perasaan umum di antara publik.

 

Meski menu eksperimental seperti ini mungkin terdengar ekstrem, fenomena minuman serangga bukanlah hal baru di China. Sebelumnya, sudah muncul kafe-kafe yang menyajikan kopi dengan cacing goreng dari provinsi Yunnan, bahkan ada pula latte yang dicampur bubuk cabai dan cabe pedas di Jiangxi.

 

Dari sudut pandang museum, ide untuk menghadirkan kopi kecoa dan minuman serangga lainnya sangat masuk akal. Karena mereka adalah “museum serangga”, maka menghadirkan sajian yang “bertema serangga” menjadi bagian dari pengalaman edukasi dan hiburan. Staf kafe pun mengaku menjual lebih dari sepuluh cangkir kopi kecoa per hari, menunjukkan bahwa cukup banyak pengunjung yang penasaran dan bersedia mencoba.

 

Soal keamanan, perwakilan museum menegaskan sekali lagi bahwa semua bahan sudah melewati standar keamanan pangan yang ketat. Mereka memastikan bahwa kecoa dan mealworm yang digunakan adalah bahan yang diolah secara profesional dan memang bersumber dari toko TCM, bukan serangga asal sembarangan.

 

Bagi sebagian orang, gagasan menyesap kopi berisi bubuk kecoa mungkin terasa menjijikkan, bahkan menantang batas toleransi rasa. Namun bagi yang lain—terutama generasi muda yang tumbuh di era media sosial—kopi ini adalah simbol eksperimentasi dan keberanian, sebuah cara unik untuk merayakan “hal-hal aneh” sekaligus mengenal lebih dekat dunia serangga lewat lidah.

 

Eksistensi kopi ini di kafe museum tak hanya menambah daya tarik tempat sebagai destinasi wisata, tetapi juga membuka diskusi lebih lanjut tentang tradisi pengobatan kuno dan cara baru menyajikan minuman populer. Ia menggabungkan unsur edukatif, budaya, dan hiburan dalam satu cangkir, sekaligus menantang persepsi umum tentang apa itu “kopi yang bisa diminum.”

 

Baca Juga:
Pedagang Durian Bagikan 12 Ton Gratis untuk Lansia, Antusiasme Luar Biasa

Di tengah beragam kritik dan rasa jijik, kopi kecoa Beijing ini tetap menjadi sensasi viral. Ia membuktikan bahwa kreatifitas kuliner bisa melampaui batas-batas konvensional, bahkan ketika melibatkan salah satu makhluk paling tidak diinginkan di rumah — kecoa. Dan meski tidak semua orang mau mencicipinya, gagasan bahwa sesuatu yang terlihat menjijikkan bisa dikonsumsi, diperdebatkan, bahkan dinikmati, membuka wacana baru tentang inovasi makanan dan budaya minum kopi di masa kini.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pasar Kue Subuh Senen: Denyut Ekonomi dan Tradisi Kuliner Jakarta yang Tak Pernah Tidur

26 Desember 2025 - 19:57 WIB

Rahasia Singkong Goreng Merekah dan Empuk Tanpa Air Es

26 Desember 2025 - 19:08 WIB

Kreativitas Kuliner Nusantara: Ragam Camilan dan Olahan Unik dari Daun Pepaya

26 Desember 2025 - 18:24 WIB

Wajib Tahu, Ini Bagian Udang yang Aman Dimakan dan Sebaiknya Dihindari

25 Desember 2025 - 02:07 WIB

Waspada Saat Terbang, Ini Makanan yang Sebaiknya Dihindari di Pesawat

25 Desember 2025 - 01:52 WIB

Ayam Panggang Bumbu Pedas yang Meresap, Daging Empuk dan Juicy

23 Desember 2025 - 18:37 WIB

Trending di Kuliner