Menu

Mode Gelap

Wisata · 26 Nov 2025 10:55 WIB

Gelombang Pembatalan Liburan Turis Korea ke Asia Tenggara Meningkat akibat Kekhawatiran Keamanan


 Gelombang Pembatalan Liburan Turis Korea ke Asia Tenggara Meningkat akibat Kekhawatiran Keamanan Perbesar

PROLOGMEDIA

Sejumlah warga Korea Selatan memutuskan membatalkan rencana liburan mereka ke berbagai destinasi di Asia Tenggara, menyusul kekhawatiran terhadap meningkatnya kasus penipuan pekerjaan (job scam) dan penculikan — terutama di Phnom Penh, ibu kota Kamboja.

Seorang warga Korea, yang disebut sebagai Son, awalnya berencana terbang ke Phnom Penh pada bulan Desember. Namun, meskipun harus merugi karena biaya pembatalan, ia memilih membatalkan perjalanannya lantaran kekhawatiran akan situasi keamanan saat ini.

Angka statistik menunjukkan penurunan nyata: pada Oktober 2025, jumlah keberangkatan warga Korsel ke negara-negara Asia Tenggara turun sebesar 7,25 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan paling besar terjadi untuk perjalanan ke Kamboja — dari 13.727 kunjungan pada September menjadi 11.613 pada Oktober, atau turun sekitar 15,4 persen.

Kekhawatiran semakin meluas setelah insiden tragis yang mencuat: seorang mahasiswa Korea yang mengunjungi Phnom Penh untuk pameran kerja dilaporkan disiksa dan dibunuh oleh jaringan kriminal lokal. Berita ini menciptakan gelombang ketakutan di kalangan publik Korea. Akibatnya, tidak hanya tujuan wisata ke Kamboja yang terkena imbas — destinasi lain seperti Filipina dan Thailand juga mengalami penurunan kunjungan. Data menunjukkan kunjungan ke Filipina turun 18,9 persen, sementara ke Thailand turun sekitar 5 persen.

Di media sosial dan forum daring Korea, kekhawatiran itu juga terasa. Seorang netizen mengaku sebelumnya berencana liburan ke Laos pada Januari 2026, tetapi mengurungkan niat karena banyak orang membatalkan perjalanan — dan rasa cemas di tengah isu keamanan semakin meningkat.

Baca Juga:
Raja Juli Tegaskan Setahun Menjabat Tak Pernah Keluarkan Izin Penebangan Hutan

Tak pelak, agen-agen perjalanan dan operator tur merasa was-was. Meskipun menurut salah satu perwakilan belum terlihat “penurunan signifikan” pemesanan untuk destinasi selain Kamboja, mereka mengaku terus memantau situasi dengan cermat — mengingat sensasi negatif ini dapat menyebar lebih luas.

Menguatkan kekhawatiran publik, hasil survei yang dilakukan pertengahan Oktober oleh lembaga survei lokal menunjukkan bahwa 82,4 persen responden Korea Selatan merasa kasus kriminal di Kamboja telah mempengaruhi pandangan mereka terhadap bepergian ke Asia Tenggara. Persentase ini bahkan lebih tinggi di kalangan responden usia 20-an, mencapai 88,3 persen.

Bagi banyak dari mereka, keputusan untuk membatalkan liburan bukan semata soal kehilangan biaya tiket atau akomodasi — melainkan soal rasa aman dan ketenangan batin. Di tengah kegalauan tersebut, mereka memilih menghindari risiko, setidaknya sampai situasi dianggap aman kembali.

Sementara itu, industri perjalanan lintas negara di Korea Selatan tengah menghadapi tantangan serius. Penurunan minat liburan ke ASEAN bisa berdampak luas — tidak hanya pada pendapatan dari sektor pariwisata, tetapi juga pada citra dan kepercayaan masyarakat terhadap destinasi luar negeri.

Kejadian ini menjadi peringatan keras, baik bagi wisatawan maupun para pelaku industri pariwisata: dalam memilih destinasi dan paket liburan, aspek keamanan dan reputasi harus menjadi pertimbangan utama. Di saat destinasi Asia Tenggara seperti Kamboja, Filipina, dan Thailand terpapar isu kriminal, kepercayaan publik bisa runtuh dalam sekejap.

Bagi calon wisatawan yang tengah merencanakan perjalanan—apapun tujuannya—kisah ini menjadi pelajaran penting: riset mendalam tentang situasi keamanan, mengikuti informasi resmi, dan mempertimbangkan alternatif jika perlu. Karena di dunia di mana informasi dan ketidakpastian bisa bergerak cepat, keputusan berlibur bisa menjadi lebih rumit daripada sekadar memilih tiket termurah.

Baca Juga:
RI Diguyur Rp 22,37 T untuk Proyek Mobil Rendah Emisi

Situasi ini juga memicu pertanyaan besar tentang bagaimana negara-negara tujuan wisata di Asia Tenggara merespon krisis reputasi dan menjaga keselamatan pengunjung — karena pada akhirnya, kepercayaan menjadi mata uang paling berharga di industri global pariwisata.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dorong Ekonomi Desa, Ratu Zakiyah Jadikan BUMDes Cibojong Model Pertanian Modern

12 Februari 2026 - 08:35 WIB

Suasana Berbeda di Palabuhanratu, Tahun Baru 2026 Tanpa Lautan Manusia

2 Januari 2026 - 10:29 WIB

7 Pulau Terindah di Asia 2025 yang Jadi Destinasi Impian Wisatawan Dunia

1 Januari 2026 - 01:38 WIB

Jelang Tahun Baru 2026, Bupati Serang dan Mendes PDT Tinjau Kesiapan Wisata Pantai Anyer–Cinangka

31 Desember 2025 - 20:10 WIB

Libur Nataru Aman, Polres Way Kanan Gelar Patroli di Objek Wisata

27 Desember 2025 - 12:16 WIB

Liburan Seru ke Pulau Dolphin: Paket Open Trip dari Pulau Harapan di Kepulauan Seribu

26 Desember 2025 - 19:59 WIB

Trending di Wisata