PROLOGMEDIA – Gubernur Jawa Barat mengaku sungguh malu ketika berdiri di depan Bupati Sukabumi dan warga saat meresmikan pembangkit listrik di Kampung Ciganas, Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi — sebuah pembangkit mikro hidro (PLTMH) yang dibangunkan oleh swasta, bukan negara. Ia menyatakan bahwa seharusnya negara — melalui pemerintah — menjadi pihak yang mendirikan fasilitas publik bagi rakyat, bukan justru masyarakat yang harus bersandar pada bantuan pihak luar.
PLTMH itu adalah PLTMH Ciganas. Sejak pertama dibangun pada 1998, pembangkit ini telah menjadi sumber listrik penting bagi beberapa kampung di sekitarnya, termasuk Ciptarasa, Sirnarasa, dan Opidengkung. Dengan kapasitas sekitar 100 kilowatt, PLTMH telah memasok kebutuhan listrik harian warga dan mendukung aktivitas di rumah, sekolah, balai desa, MCK, serta musala setempat — total menjangkau puluhan hingga ratusan rumah dan fasilitas publik. Namun, karena rusak akibat longsor dan faktor alam lainnya, pembangkit itu sempat mati dan warga sempat kehilangan akses listrik.
Ketika pihak swasta, yaitu BenihBaik.com bersama IBEKA, mengambil inisiatif memperbaiki PLTMH Ciganas dan menuntaskan renovasinya (tahap kedua sejak pembangunan awal), lalu akhirnya menyelesaikan perbaikan — pemerintah daerah lantas hadir untuk meresmikannya. Momen itu yang membuat Gubernur merasa harus mengakui kekurangan negara sendiri. “Malu saya… saya sebagai gubernur kok masih ada rakyat saya dibantu orang lain — seharusnya oleh saya dong,” katanya.
Ketua IBEKA dan pihak BenihBaik menyampaikan bahwa keterlibatan mereka dilatarbelakangi kenyataan bahwa pemerintah belum mampu menjangkau seluruh kebutuhan infrastruktur di daerah terpencil. Mereka melihat kebutuhan mendesak masyarakat dan mengambil peran untuk menginisiasi pembangunan kembali. Meski demikian, bagi Gubernur, upaya ini justru memantik rasa malu — karena menunjukkan bahwa selama ini tanggung jawab pembangunan dasar rakyat masih belum berjalan optimal.
Baca Juga:
Rahasia Kulit Sehat: Pilih Sabun Wajah Sesuai Jenis Kelamin?
Dalam sambutannya usai peresmian, Gubernur menekankan pentingnya peran aktif masyarakat untuk menjaga keberlanjutan PLTMH agar terus berfungsi, dan bukan sekadar sebagai penerangan sesaat. Ia berharap listrik yang kini tersedia bisa dipakai untuk kegiatan produktif — bukan sekadar konsumsi — sehingga bisa menjadi pendorong ekonomi lokal dan meningkatkan produktivitas warga. Ia juga menyatakan ambisinya untuk memperluas pembangunan PLTMH ke daerah-daerah lain di Jawa Barat yang belum terjangkau jaringan listrik resmi (PLN), terutama di wilayah dengan potensi sumber daya air.
Bupati Sukabumi yang mendampingi peresmian, Asep Japar, menyambut baik inisiatif rehabilitasi dan mendorong warga untuk terus menjaga fasilitas ini — demi keberlanjutan energi di desa. Ia memberi apresiasi kepada pihak swasta dan masyarakat yang telah mendukung terwujudnya listrik kembali, serta mengingatkan bahwa keberlangsungan operasional bergantung pada kesadaran dan tanggung jawab bersama.
Bagi warga setempat, peresmian ini bukan sekadar seremoni. Setelah bertahun-tahun bergantung pada listrik dari PLTMH — lalu kehilangan akses ketika pembangkit rusak — kini mereka mendapatkan peluang baru: listrik stabil kembali menyala, memungkinkan aktivitas sehari-hari, pendidikan, dan usaha kecil kembali berjalan. Adanya listrik juga membuka potensi ekonomi, misalnya untuk menjalankan usaha mikro, bercocok tanam dengan alat bantu, atau aktivitas produktif lainnya yang sebelumnya sulit dilakukan karena ketiadaan listrik. Pemerintah daerah dan dua yayasan berharap bahwa PLTMH ini bisa menjadi alat pemberdayaan, bukan sekadar penerangan.
Namun di balik kebahagiaan itu, pengakuan gubernur soal rasa malu punya makna besar: bahwa tugas memastikan akses dasar — seperti listrik — bagi warga, tidak boleh diserahkan kepada orang lain ketika negara dan pemerintah punya kewenangan dan sumber daya. Kalaupun bantuan swasta atau masyarakat datang, itu bukan tanda berhasilnya negara, melainkan cermin bahwa masih ada pekerjaan besar dalam memenuhi janji terhadap pelayanan publik.
Baca Juga:
Pertamina Gandeng Waste4Change Kelola 5,79 Ton Sampah Pasca Eco RunFest 2025
Peresmian PLTMH Ciganas di Cikakak pun menjadi pengingat bagi seluruh elemen pemerintahan: bahwa pembangunan infrastruktur dasar di wilayah terpencil harus menjadi prioritas — bukan sekadar tersentuh ketika ada bantuan luar, melainkan menjadi bagian dari tanggung jawab berkelanjutan yang direncanakan dan dijalankan oleh pemerintah.









