Menu

Mode Gelap

Berita · 22 Des 2025 10:18 WIB

Gunung Berapi Tertua di Dunia: Indonesia Masuk Daftar dan Dinamika Geologi yang Memukau


 Gunung Berapi Tertua di Dunia: Indonesia Masuk Daftar dan Dinamika Geologi yang Memukau Perbesar

PROLOGMEDIA – Mereka bukan sekadar puncak tinggi yang menghiasi peta atau latar belakang foto perjalanan. Gunung‑gunung berapi adalah catatan sejarah panjang Bumi yang terus hidup. Di berbagai penjuru dunia, para ilmuwan menemukan jejak geologi yang telah terbentuk dan tetap aktif selama ratusan ribu hingga jutaan tahun. Baru‑baru ini, daftar terbaru yang mengungkap gunung berapi tertua di dunia kembali menjadi perhatian publik dan ilmuwan geologi. Menariknya, salah satu gunung berapi dari Indonesia masuk dalam daftar bergengsi ini, mengingatkan kita akan kekayaan geologi sekaligus tantangan besar yang terus dihadapi negara kepulauan ini.

Gunung berapi terbentuk melalui proses tektonik yang dramatis — ketika lempeng bumi saling bertubrukan, magma dari dalam mantel mendorong ke permukaan, membentuk puncak yang menjulang tinggi. Selama jutaan tahun, beberapa gunung berapi tetap aktif, meletus berkali‑kali, atau setidaknya menunjukkan tanda‑tanda kehidupan vulkanik. Ini membuat beberapa dari mereka dianggap sebagai yang tertua di dunia, bukan hanya berdasarkan umur geologisnya, tetapi juga karena aktivitasnya yang terus berulang selama rentang waktu yang sangat panjang.

Di antara deretan gunung berapi tertua yang disebutkan dalam daftar global, ada nama‑nama besar dari berbagai negara. Di puncak daftar biasanya muncul gunung berapi yang terbentuk jutaan tahun lalu — seperti Gunung Unzen di Jepang yang diperkirakan berusia sekitar 2,5 juta tahun, menjadikannya salah satu gunung berapi aktif tertua yang dikenal di permukaan Bumi. Unzen telah mengalami banyak periode aktivitas sepanjang sejarahnya dan masih dipantau secara intensif oleh ilmuwan karena posisinya yang strategis serta dampaknya terhadap lingkungan sekitarnya.

Di urutan berikutnya ada gunung‑gunung dari berbagai belahan dunia, seperti Gunung Pinatubo di Filipina yang diperkirakan telah ada lebih dari satu juta tahun lalu dan dikenal karena letusan dahsyat di masa modern yang mempengaruhi iklim global. Gunung‑gunung lain, termasuk beberapa di Alaska dan Amerika Utara, juga termasuk dalam daftar karena umur geologis mereka yang tua, yang bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan tahun.

Yang menarik, dalam daftar sepuluh besar itu, Indonesia turut hadir dengan Gunung Merapi. Gunung ini terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dan termasuk salah satu gunung berapi aktif di Indonesia yang paling terkenal. Diperkirakan usianya mencapai sekitar 400.000 tahun, yang membuatnya bersanding dengan gunung‑gunung berapi tertua di dunia. Merapi bukan hanya signifikan karena umurnya, tetapi juga karena intensitas aktivitas vulkaniknya yang sangat tinggi dibandingkan dengan gunung berapi lain di Indonesia maupun dunia.

Aktivitas Merapi telah tercatat secara konsisten selama berabad‑abad. Masyarakat di lerengnya hidup dalam keseimbangan dengan ancaman letusan yang selalu mengintai. Letusan Merapi sering kali menghasilkan awan panas, aliran lava pijar, dan hujan abu yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari‑hari penduduk di sekitarnya. Aparat dan ilmuwan setempat telah mengembangkan sistem peringatan dini dan mitigasi bencana yang terus diperbarui untuk menghadapi kemungkinan letusan.

Baca Juga:
7 Destinasi Wisata Instagramable di Sentul untuk Rayakan Malam Tahun Baru yang Seru dan Berkesan

Kehadiran Merapi dalam daftar gunung berapi tertua ini menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang kaya akan fenomena vulkanik. Indonesia berada di sepanjang Cincin Api Pasifik, sebuah zona seismik aktif yang membentang dari Jepang hingga Amerika Selatan. Zona ini dikenal karena banyaknya gunung berapi dan aktivitas tektonik yang intens, yang juga menyebabkan gempa bumi dan aktivitas vulkanik lainnya. Indonesia sendiri memiliki ratusan gunung berapi, dengan puluhan di antaranya masih aktif dan beberapa bersejarah karena letusannya yang dahsyat.

Beberapa gunung berapi Indonesia yang lebih dikenal selain Merapi adalah Gunung Tambora, yang meletus pada tahun 1815 dalam salah satu letusan paling dahsyat dalam sejarah modern. Letusan itu memiliki dampak global yang signifikan, menyebabkan perubahan iklim dan musim panen di berbagai belahan dunia. Meskipun usia geologisnya tidak termasuk yang tertua, letusan Tambora menunjukkan betapa kuatnya kekuatan vulkanik Indonesia dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia.

Aktivitas vulkanik di Indonesia sepanjang tahun ini pun tetap tinggi. Misalnya, Gunung Semeru di Jawa Timur tercatat beberapa kali mengalami letusan signifikan yang menyebarkan abu vulkanik dan material vulkanik lainnya. Bahkan dalam peristiwa terbaru di penghujung tahun ini, Semeru tercatat meletus berkali‑kali dalam satu hari, mengirimkan kolom abu tinggi dan aliran lahars ke lereng‑lerengnya, memaksa warga dan pendaki untuk menjauhi area berbahaya.

Begitu pula dengan beberapa gunung lain seperti Gunung Lewotobi Laki‑Laki, yang mengalami rentetan letusan dalam beberapa bulan terakhir, menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik di Indonesia tetap dinamis dan berpotensi menimbulkan dampak besar bagi lingkungan dan masyarakat. Pemerintah dan badan vulkanologi terus meningkatkan pemantauan serta mempersiapkan mitigasi untuk melindungi warga yang tinggal di wilayah rawan bencana vulkanik.

Selain urusan risiko bencana, gunung berapi juga memiliki peran penting dalam aspek kehidupan yang lain. Tanah di sekitar gunung berapi sering kali sangat subur karena deposit mineral yang dibawa melalui abu vulkanik, mendukung pertanian yang produktif dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak komunitas. Budaya lokal di berbagai daerah pun sering kali kaya akan mitos, ritual, dan tradisi yang terkait erat dengan keberadaan gunung berapi yang mereka anggap sebagai penjaga atau leluhur alam.

Diskusi tentang gunung berapi tertua di dunia ini membuka kembali perhatian kita pada bagaimana sejarah Bumi direkam dalam lanskap geologi yang terus berubah. Proses yang membentuk gunung‑gunung ini dimulai jauh sebelum manusia modern ada, dan proses yang sama masih berlangsung sampai sekarang. Gunung berapi bercerita tentang pergeseran lempeng tektonik, perubahan iklim, hingga kehidupan purba yang pernah hidup di lereng‑lerengnya.

Baca Juga:
Jejak Hidup Paryatin: Dari Pedagang Keliling di Ponorogo hingga Diburu Interpol

Fenomena alam seperti ini, sekaligus menakutkan dan mempesona, tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan di Indonesia dan dunia. Dengan keberadaannya dalam daftar gunung berapi tertua, Indonesia bukan hanya menjadi bagian dari sejarah geologi global, tetapi juga sebagai laboratorium hidup bagi ilmuwan dan masyarakat yang ingin memahami lebih jauh tentang dinamika planet kita. Perjalanan panjang waktu geologi dari gunung‑gunung ini mengingatkan kita bahwa Bumi selalu berubah — dan manusia harus terus belajar untuk hidup berdampingan dengan kekuatan alam yang luar biasa ini.

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita