Menu

Mode Gelap

Blog · 26 Nov 2025 15:29 WIB

Guru Besar IPB: Tumpukan Limbah Cangkang Kerang di Cilincing Ancam Ekosistem


 Guru Besar IPB: Tumpukan Limbah Cangkang Kerang di Cilincing Ancam Ekosistem Perbesar

PROLOGMEDIA – Di pesisir Cilincing, Jakarta Utara, tumpukan limbah cangkang kerang hijau kini menjadi pemandangan mengkhawatirkan — dan menurut pakar dari lingkungan, juga ancaman serius bagi ekosistem pesisir. Penelitian dari seorang guru besar pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di sebuah universitas terkemuka menunjukkan bahwa limbah cangkang organik yang terus menumpuk tidak hanya merusak estetika lingkungan, tetapi juga bisa mengguncang stabilitas ekologi dan kesehatan masyarakat.

 

Saat cangkang kerang terpapar panas matahari dan air laut, mikroorganisme mulai menguraikannya. Proses pelapukan itu menyebabkan pelepasan senyawa anorganik dan nutrien dalam jumlah besar. Nutruien yang terlalu banyak dapat membuat kualitas air laut menurun karena parameter-parameter dasar seperti kadar oksigen dan senyawa kimia penting keluar dari batas baku mutu.

 

Lebih dari itu, kelebihan nutrien dapat memicu eutrofikasi: ledakan pertumbuhan fitoplankton yang tak terkendali. Pasalnya, fitoplankton butuh oksigen untuk bernafas di malam hari. Namun, pada waktu yang sama, oksigen juga digunakan untuk mengurai bahan organik dari cangkang. Bila kondisi seperti ini terus terjadi, kadar oksigen terlarut di air bisa turun drastis. Akibatnya, biota air — ikan, udang, atau organisme lain — bisa mati massal.

 

Melanjutkan hasil analisis, ditemukan bahwa kerang hijau dari wilayah Teluk Jakarta, termasuk Cilincing, mengandung logam berat berbahaya: merkuri (Hg), timbal (Pb), kadmium (Cd), tembaga (Cu), kromium (Cr), dan seng (Zn). Penumpukan cangkang yang diperkirakan mencapai 1–4 ton per hari berpotensi meningkatkan kontaminasi logam berat di tanah pesisir, air, dan sedimen.

 

Dampak dari kontaminasi logam berat tidak sebatas lingkungan fisik — akar, batang, dan daun tanaman mangrove dapat menyerap logam tersebut. Lebih jauh, melalui rantai makan, logam berat bisa berpindah ke organisme laut lain: dari mangrove ke biota kecil, lalu ke predator, dan akhirnya ke manusia. Proses biomagnifikasi ini bisa membawa risiko serius, mulai dari gangguan fisiologis, kerusakan organ, gangguan reproduksi, hingga cacat pada keturunan makhluk laut.

 

Baca Juga:
Pantai Baturinggit: Surga Tersembunyi Bali yang Belum Banyak Diketahui!

Struktur tanah pesisir juga mendapat ancaman. Cangkang yang memadat dapat mengubah tekstur sedimen dan merusak struktur tanah. Bila kondisi ini berlangsung lama, kualitas ekologis pesisir bisa menurun secara permanen.

 

Tak hanya dampak alamiah, limbah cangkang juga berisiko menjadi sarang penyakit. Meski belum ada kajian pasti yang menyebut adanya bakteri patogen di antara cangkang tersebut, pengalaman umum menunjukkan tumpukan limbah organik seperti itu rentan menjadi tempat berkembang biak lalat, parasit, atau vektor penyakit lain. Hal ini tentu mengancam kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar pantai.

 

Profesor ahli tersebut menegaskan bahwa cangkang kerang hijau tidak boleh begitu saja dibuang di pesisir. Agar tidak mencemari lingkungan dan menjadi sumber potensi penyakit, diperlukan lokasi penampungan khusus untuk limbah ini.

 

Di sisi lain, ada harapan dari pendekatan ekonomi sirkular. Cangkang yang sudah dibersihkan dari logam berat ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku kreatif. Misalnya, cangkang dapat diolah menjadi kerajinan tangan — dekorasi rumah, gantungan kunci, bros — yang memiliki nilai jual. Alternatif lain, cangkang dapat digunakan sebagai bahan campuran dalam industri bangunan: diolah menjadi kapur (CaO), batu bata, atau paving block.

 

Namun, pemanfaatan sebagai produk untuk konsumsi manusia — misalnya pupuk atau pakan ternak — hanya boleh dilakukan bila cangkang benar-benar bersih dari kontaminan. Jika tidak, risikonya bisa jauh lebih besar daripada manfaatnya.

 

Baca Juga:
Cara Tepat Mengolah Daun Kelor agar Manfaat Gizinya Tetap Maksimal

Apa yang terjadi di Cilincing bukan semata persoalan tumpukan sampah laut; ini adalah panggilan serius agar memperhatikan bagaimana limbah laut dikelola. Bila dibiarkan, dampaknya bisa meluas: dari gangguan ekosistem, pencemaran logam berat, hingga ancaman kesehatan masyarakat. Sementara itu, jika dikelola dengan bijak dan inovatif, limbah tersebut bisa menjadi bahan baku yang bernilai — bukan hanya beban lingkungan, tetapi aset ekonomi yang dapat mendukung kehidupan pesisir berkelanjutan.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

17 Januari 2026 - 19:40 WIB

Ancaman Spesies Asing Invasif Menggerus Ekosistem Baluran dan Ujung Kulon

3 Januari 2026 - 18:51 WIB

Peringati Hari Ibu, MY ACADEMY Perkuat Peran Ibu sebagai Entrepreneur Modern

24 Desember 2025 - 08:46 WIB

7 Sisa Bahan Makanan yang Bisa Diubah Jadi Kompos Bergizi untuk Tanaman

23 Desember 2025 - 14:56 WIB

Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

23 Desember 2025 - 00:59 WIB

Trending di Blog