PROLOGMEDIA – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Sukabumi sejak Senin malam telah berubah menjadi sebuah tragedi alam yang mengguncang kehidupan ribuan warga. Di lebih dari sembilan kecamatan, banjir dan longsor terjadi hampir serempak, memporak-porandakan infrastruktur, merusak permukiman, dan memutus akses vital antar desa. Peristiwa ini bermula dari intensitas curah hujan yang meningkat tajam sejak sore hari Senin, yang kemudian berlanjut hingga dini hari Selasa, menyebabkan tanah tak mampu menahan beban air dan akhirnya bergerak secara masif. Akibatnya, sejumlah titik di sembilan kecamatan itu mengalami longsor besar, banjir bandang, hingga pergerakan tanah yang signifikan.
Di antara area yang paling parah terdampak adalah Kecamatan Warungkiara. Di sini, longsor besar terjadi di Kampung Lio Cilandak Desa Sirnajaya, menutup sepenuhnya akses jalan kabupaten yang biasanya menjadi urat nadi mobilitas warga setempat. Tebing tanah setinggi puluhan meter ambruk, menghantam badan jalan dan menimbun material tanah serta bebatuan yang menghalangi kendaraan dari kedua arah. Dampak berikutnya terasa di Kampung Cigadog, Desa Bantarkalong, di mana longsor menutup jalan kabupaten di sisi jembatan Cimandiri Leuwi Lalay. Jembatan Cikolomeran yang menghubungkan desa-desa itu juga dilaporkan ambruk akibat tergerus oleh banjir dan tanah bergerak. Sementara itu jalan desa di Kampung Bojonghaur ambles, sehingga mobilisasi warga dan kendaraan roda empat menjadi mustahil dilakukan.
Bencana ini tidak hanya terbatas pada longsor semata. Di Desa Mekarjaya, banjir bandang menghantam hamparan persawahan dan lahan pertanian warga, merendam sawah seluas dua hektare dan merusak tanaman yang baru saja mulai tumbuh. Aliran air yang deras juga merusak sistem irigasi yang selama ini menjadi penopang kehidupan petani, sehingga lahan pertanian berpotensi gagal panen jika kerusakan tak segera diperbaiki.
Kawasan lainnya di Kecamatan Caringin juga merasakan efek buruk dari hujan dan longsor. Di Kampung Peundeuy dan Kampung Jaura, tanah bergerak menutup saluran irigasi Cibalung, sehingga sejumlah lahan sawah dan kolam warga tidak lagi mendapatkan pasokan air yang semestinya. Di beberapa kampung tersebut, tanah retak dan pergeseran tanah terjadi dalam skala yang cukup besar, membuat warga resah akan potensi longsor susulan yang bisa kapan saja menghantam pemukiman mereka.
Kecamatan Cibadak dan Ciemas juga terdampak secara signifikan. Beberapa rumah di Kampung Cibatu Hilir dan Kampung Warnajati di Cibadak mengalami kerusakan setelah longsor menerjang, sementara di Ciemas, longsor di Kampung Mekarasih memutus ruas jalan menuju Pamuyangan, membuat akses keluar masuk desa tertutup total. Sejumlah rumah di wilayah itu juga terkena dampak langsung dari material longsor, memaksa warga harus mengungsi dan mencari perlindungan sementara.
Di Kecamatan Cikembar, tanah bergerak dan longsor menyebabkan kerusakan struktural pada beberapa rumah warga di Kampung Cicatih serta Kampung Sukamaju. Dua rumah bahkan dinyatakan tak layak huni dan penghuninya harus direlokasi ke tempat yang lebih aman. Selain itu, jalur irigasi penting turut tertutup oleh material longsor, memperparah keadaan pertanian di wilayah tersebut.
Sementara itu di Kecamatan Jampang Tengah dan Bantargadung, longsor menimpa beberapa kampung termasuk Pasirmalang, Cibogo, dan Rawatan. Jalan-jalan desa terputus dan tanah retak menjadi ancaman nyata bagi warga yang tinggal di lereng dan zona rawan longsor. Di beberapa titik, retakan tanah bahkan terlihat membelah permukaan jalan, menunjukkan betapa besar tekanan yang ditimbulkan oleh limpahan air dari atas.
Di wilayah Simpenan, banjir dan longsor merendam puluhan rumah warga. Satu rumah dilaporkan hanyut terbawa arus, dan penghuninya berhasil diselamatkan setelah dievakuasi ke tempat aman. Puluhan rumah lainnya terkena dampak genangan banjir yang berbaur dengan lumpur, sehingga warga harus memperkuat tanggul rumah mereka sendiri dengan bahan seadanya untuk mengurangi infiltrasi air ke dalam rumah.
Baca Juga:
3 Resep Kue Apem Kukus Mekar dan Lembut: Inspirasi Camilan Rumahan Anti Gagal
Kecamatan Gegerbitung pun tidak luput dari amukan alam, di mana tembok penahan tanah di sekitar jembatan kabupaten tergerus oleh aliran sungai yang meluap. Kondisi ini menambah daftar panjang kerusakan infrastruktur yang kini harus segera ditangani oleh pihak berwenang agar akses vital warga kembali pulih.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, mengatakan bahwa sejak malam kejadian pada Senin (15/12) malam, pihaknya telah mulai melaporkan seluruh perkembangan situasi ini kepada Bupati Sukabumi Asep Japar serta instansi terkait lainnya. Ia menegaskan bahwa upaya penanggulangan darurat terus dilakukan oleh petugas gabungan dari BPBD bersama aparat keamanan, pemerintah desa, serta relawan. Mereka fokus pada pembersihan material longsor, pembukaan kembali akses jalan yang tertutup, dan penyaluran bantuan darurat kepada warga terdampak.
Ketua Pusdalops BPBD Sukabumi juga menambahkan bahwa selain usaha membuka akses jalan yang terputus, pihaknya tengah menginventarisasi kerusakan rumah warga dan lahan pertanian untuk kemudian segera dilakukan pendataan kebutuhan bantuan lebih lanjut. Alat berat telah dan terus diterjunkan untuk membantu proses pembersihan material longsor di titik-titik strategis. Namun, kondisi cuaca yang masih tidak stabil menjadi tantangan tersendiri bagi tim penanggulangan.
Warga setempat yang rumahnya terdampak bencana mengungkapkan rasa cemas sekaligus lega. Cemas karena potensi hujan susulan masih tinggi dan mereka khawatir longsor susulan bisa terjadi kapan saja, terutama di area yang tanahnya sudah mengalami pergeseran; namun juga lega karena bantuan dari pemerintah dan relawan telah mulai datang. Mereka mengaku sangat membutuhkan logistik seperti makanan, air bersih, selimut, serta kebutuhan dasar lainnya selama masa tanggap darurat ini berlangsung.
Situasi ini juga menambah kewaspadaan akan ancaman bencana hidrometeorologi lebih luas di wilayah Jawa Barat, mengingat prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan masih cukup tinggi di beberapa wilayah dalam beberapa hari ke depan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi banjir dan longsor susulan, terutama di kawasan lereng perbukitan, aliran sungai kecil, dan daerah rawan lainnya di Kabupaten Sukabumi.
Dengan bencana yang melanda sembilan kecamatan tersebut, dampak jangka panjang terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga juga mulai terlihat. Lahan pertanian yang rusak berdampak pada mata pencaharian petani yang menggantungkan hidup dari hasil sawah dan kolam mereka. Sementara putusnya akses jalan menghambat mobilisasi barang dan jasa, yang secara tidak langsung turut memperlambat pemulihan pasca bencana.
Upaya mitigasi jangka panjang juga mulai disiapkan oleh pemerintah daerah, termasuk rencana perbaikan sistem drainase, pembangunan tembok penahan tanah di titik-titik rawan longsor, serta edukasi dan kesiapan komunitas warga dalam menghadapi bencana berikutnya. Hal ini diharapkan dapat sedikit banyak mengurangi risiko bencana serupa di masa depan, terutama di kawasan yang sering mengalami peristiwa serupa ketika musim hujan tiba.
Baca Juga:
Respons Cepat Polda Banten: Briptu Zaenal Ditetapkan Tersangka Penipuan!
Pada akhirnya, peristiwa ini bukan hanya tentang kerusakan fisik yang ditimbulkan oleh alam, tetapi juga tentang bagaimana komunitas, pemerintah, relawan, dan masyarakat luas bersatu menghadapi situasi krisis. Solidaritas dan kerja sama akan menjadi kunci utama dalam membantu warga Kabupaten Sukabumi bangkit kembali dari musibah yang baru saja melanda.









