PROLOGMEDIA – Di era digital yang semakin berkembang, sebuah data baru menunjukkan betapa dalamnya ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap ponsel dan akses internet. Dari hasil survei internasional terbaru, terungkap bahwa pangsa besar penduduk dewasa di Indonesia — yang mencapai 98,7 persen — menggunakan ponsel sebagai sarana utama untuk mengakses internet. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan persentase tertinggi di dunia untuk penggunaan ponsel dalam berselancar online.
Fenomena ini bukan sekadar soal kepemilikan perangkat. Waktu yang dihabiskan untuk menatap layar — membuka media sosial, streaming, chatting, atau sekadar scrolling tanpa tujuan — juga menunjukkan intensitas yang cukup mencengangkan. Banyak warga, hampir di seluruh lapisan umur, tampaknya sudah menjadikan ponsel sebagai bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka. Aktivitas sehari-hari, jeda antara pekerjaan, bahkan waktu bersantai pun sering diwarnai layar ponsel.
Bagi sebagian orang, ponsel adalah pintu menuju dunia — dunia tanpa batas waktu dan ruang: tempat bersapa sahabat di belahan kota atau luar negeri, mendapatkan berita terkini tanpa harus menunggu koran, menikmati video musik, film, komedi, atau sekadar melihat-lihat media sosial. Namun di balik kemudahan itu, data ini membuka cermin keras tentang bagaimana kecanduan digital telah merasuk ke hampir setiap sudut kehidupan masyarakat.
Rata-rata waktu harian yang dihabiskan oleh masyarakat Indonesia untuk online dianggap jauh melampaui standar global. Kebiasaan memegang ponsel hampir setiap waktu — bahkan di sela kerja, saat menunggu, waktu istirahat — telah membentuk gaya hidup baru. Mode komunikasi lewat obrolan sesaat, notifikasi tanpa henti, dan hiruk-pikuk media sosial sering kali membuat seseorang sulit melepaskan diri dari perangkat layar kaca ini.
Dampaknya mulai terasa: jangan hanya soal waktu, tetapi juga pada aspek kesehatan dan psikologis. Waktu yang berjam-jam dihabiskan dengan menatap layar rawan menimbulkan masalah pada mata — seperti mata lelah, kering, atau gangguan penglihatan jangka panjang. Selain itu, gangguan tidur juga ikut mengintai, ketika layar ponsel menjadi teman larut malam. Pada anak-anak dan remaja, keterikatan pada gadget bisa mempengaruhi pola belajar, konsentrasi, maupun interaksi sosial nyata. Fakta-fakta ini telah disoroti oleh berbagai ahli sebagai efek nyata dari kecanduan gadget atau internet.
Lebih jauh lagi, fenomena ini membawa persoalan sosial. Ketika seseorang cenderung mencari kenyamanan di layar — menggulir feed, menonton konten, menjelajahi aplikasi — hidup nyata terkadang terabaikan. Waktu berkualitas bersama keluarga atau teman bisa tergantikan oleh kebiasaan menggenggam ponsel. Interaksi tatap muka, diskusi, berbagi cerita, atau sekadar menikmati keheningan bersama orang terdekat pun mulai terpinggirkan.
Masyarakat pun dihadapkan pada dilema: di satu sisi, ponsel adalah alat yang memudahkan — komunikasi, informasi, hiburan, pekerjaan, semuanya bisa dilakukan secara cepat dan praktis. Di sisi lain, kecanduan terhadap ponsel dan internet bisa menyita waktu, membatasi ruang kehidupan nyata, dan menimbulkan risiko bagi kesehatan serta kualitas hubungan manusia.
Baca Juga:
PB XIV Naikkan Gelar Pendukung: Langkah Strategis di Tengah Konflik Keraton Solo?
Ironisnya, meskipun sudah “juara dunia” dalam hal penetrasi ponsel dan waktu online, banyak warga seakan tidak benar-benar menyadari seberapa besar dampak dari ketergantungan ini. Laporan tersebut datang sebagai alarm bahwa meskipun kemajuan digital menawarkan banyak kemudahan, terlalu dalam terbenam dalam dunia maya bisa menggiring kita menjauh dari kehidupan nyata — yang sesungguhnya justru menciptakan makna: kebersamaan, interaksi langsung, hadir penuh tanpa gangguan layar, pengalaman nyata, dan interaksi manusia yang nyata pula.
Di berbagai sudut kehidupan — di kafe, angkot, angkutan umum, di sekolah, kampus, tempat kerja, bahkan di ruang keluarga — pemandangan tangan yang sibuk mengetik, jari-jari yang terus menyentuh layar, mata yang terpaku pada jendela aplikasi, semakin lazim terlihat. Obrolan tatap muka berubah menjadi obrolan lewat chat. Senior dan junior, teman lama, keluarga yang tinggal serumah — seringkali bersama, tapi pikiran dan perhatian sudah berpencar ke dunia maya.
Kondisi ini menuntut kesadaran kolektif. Individu perlu mulai melihat ulang bagaimana mereka menggunakan gadget. Apakah layak jika waktu hidup sehari-hari kebanyakan “dihabiskan” di dunia maya? Apakah ponsel dan internet sudah menjadi alat bantu — atau telah berubah menjadi penguasa waktu, perhatian, dan energi kita?
Beberapa langkah sederhana bisa jadi awal: membuat batasan waktu untuk berselancar, menetapkan jam-jam bebas gadget, mengurangi penggunaan ponsel terutama saat berkumpul dengan keluarga atau teman, serta menggantikan sebagian waktu online dengan aktivitas yang menyehatkan — seperti olahraga, membaca buku, berjalan santai, berkebun, atau menjalani hobi lain yang jauh dari layar.
Selain itu, kesadaran dan edukasi — terutama bagi generasi muda — menjadi penting. Ayah, ibu, guru, lingkungan sekolah atau kampus, bisa menjadi pionir bagi kebiasaan sehat: memperlihatkan bahwa kehidupan nyata, interaksi nyata, memiliki nilai tinggi yang tidak bisa digantikan oleh notifikasi atau algoritma.
Pada akhirnya, data 98,7 persen pengguna ponsel di Indonesia yang mengakses internet bukanlah tentang kebanggaan belaka. Angka itu adalah panggilan untuk refleksi: seberapa jauh teknologi telah mengubah hidup kita — positif maupun negatif — dan seberapa bijak kita menjalani perubahan itu. Ketika ponsel bisa menjadi jendela dunia, mari kita pastikan bahwa kita tetap membuka pintu ke kehidupan nyata — dengan seimbang, sadar, dan penuh makna.
Jika kita terus membiarkan layar mendikte hari-hari kita, ada risiko bahwa kita kehilangan kesempatan untuk merasakan dunia nyata: suara tawa teman, interaksi langsung dengan keluarga, keindahan alam, kehangatan obrolan tanpa gangguan, dan hidup dengan penuh kesadaran. Kini, tanggung jawab ada pada kita — sebagai individu dan masyarakat — untuk memilih: apakah kita memakai ponsel, atau ponsel yang memakai kita.
Baca Juga:
Kobarkan Semangat Pahlawan: Kapolresta Tangerang dan Forkopimda Gelar Upacara Khidmat di TMP Raden Arya Wangsakara!
Semoga, dengan kesadaran bersama, kita bisa menjaga keseimbangan digital — manfaatkan kemudahan tanpa kehilangan kemanusiaan.









