JAKARTA – Di tengah tantangan global terkait pengelolaan sampah dan kebutuhan energi yang terus meningkat, Indonesia mengambil langkah inovatif dengan berencana menyulap sampah menjadi sumber energi listrik. Proyek ambisius ini menarik perhatian dunia, dengan tiga negara raksasa teknologi saling unjuk gigi untuk menawarkan solusi terbaik.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengungkapkan bahwa sejumlah investor dari berbagai negara tertarik untuk berpartisipasi dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Indonesia. Ketertarikan ini terutama terkait dengan teknologi yang akan digunakan untuk mengubah sampah menjadi energi listrik.
Saat ini, Kementerian ESDM bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara tengah melakukan identifikasi mitra teknologi yang paling tepat untuk memastikan proyek PLTSa berjalan efisien dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat Indonesia.
Setidaknya ada tiga negara yang serius ingin terlibat dalam proyek ini, yaitu Jepang, negara-negara Eropa, dan China.
“Untuk mitra teknologi PLTSa, kita kan juga sudah melakukan identifikasi. Jadi untuk identifikasi yang kita lakukan, ini berdasarkan vendor teknologi. Ini ada dari Jepang, itu ada dari Eropa, dan juga dari China,” kata Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (7/11/2025).
Pemilihan mitra teknologi akan didasarkan pada beberapa faktor penting. Pertama, teknologi yang mampu menghasilkan energi paling efisien dari sampah. Semakin efisien teknologi yang digunakan, semakin besar potensi energi listrik yang dapat dihasilkan dari sampah, sehingga mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional.
Kedua, mekanisme kerja sama yang memungkinkan listrik dari PLTSa diserap oleh PLN sebagai offtaker. Hal ini penting untuk memastikan bahwa energi listrik yang dihasilkan dari PLTSa dapat didistribusikan secara luas kepada masyarakat dan memberikan kontribusi nyata dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.
Yuliot menjelaskan bahwa implementasi Waste to Energy (WtE) atau pengubahan sampah menjadi energi sudah cukup banyak dilakukan di berbagai negara. Jepang dan China menjadi contoh sukses dalam pengelolaan PLTSa. Kedua negara ini memiliki teknologi canggih dan pengalaman yang kaya dalam mengubah sampah menjadi sumber energi listrik yang berkelanjutan.
Baca Juga:
Banjir Besar Landa Jember, Ribuan Warga Terdampak dan Akses Penghubung Terputus
“Dan juga kita melihat dari sisi ekosistem teknologinya sendiri, bagaimana juga bisa transfer teknologi dilakukan oleh badan usaha ke perusahaan-perusahaan mitra di Indonesia, termasuk Danantara,” kata Yuliot.
Transfer teknologi ini sangat penting untuk memastikan keberlanjutan proyek PLTSa di Indonesia. Dengan adanya transfer teknologi, perusahaan-perusahaan mitra di Indonesia dapat mengembangkan kemampuan dan keahlian dalam mengoperasikan dan memelihara PLTSa secara mandiri.
Proyek PLTSa ini bukan hanya tentang menghasilkan energi listrik dari sampah. Lebih dari itu, proyek ini juga merupakan solusi inovatif untuk mengatasi masalah sampah yang semakin mendesak di Indonesia.
Dengan mengubah sampah menjadi sumber energi, Indonesia dapat mengurangi volume sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), mengurangi emisi gas rumah kaca, dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Selain itu, proyek PLTSa juga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah tempat PLTSa dibangun. Proyek ini akan membutuhkan tenaga kerja terampil untuk mengoperasikan dan memelihara PLTSa, serta tenaga kerja untuk mengumpulkan dan mengolah sampah.
Namun, tantangan dalam mewujudkan proyek PLTSa ini juga tidak sedikit. Salah satu tantangan utama adalah memastikan pasokan sampah yang berkelanjutan untuk PLTSa. Untuk itu, perlu adanya kerja sama yang erat antara pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor swasta dalam mengelola sampah secara terpadu.
Selain itu, perlu juga adanya regulasi yang jelas dan mendukung pengembangan PLTSa. Regulasi yang jelas akan memberikan kepastian hukum bagi investor dan memudahkan pengembangan proyek PLTSa.
Meskipun ada tantangan, potensi manfaat dari proyek PLTSa ini sangat besar. Dengan dukungan dari semua pihak, Indonesia dapat mewujudkan mimpi untuk mengubah sampah menjadi sumber energi listrik yang berkelanjutan dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan sejahtera.
Baca Juga:
3 Cara Atasi Ketombe dengan Cuka Apel
Proyek PLTSa ini bukan hanya tentang energi, tetapi juga tentang masa depan Indonesia yang lebih baik.









