Menu

Mode Gelap

Berita · 29 Nov 2025 18:58 WIB

Inovasi BBM dari Jerami: Dosen IPB Ungkap Biaya Produksi Sebenarnya di Balik Klaim Setara Pertamax


 Inovasi BBM dari Jerami: Dosen IPB Ungkap Biaya Produksi Sebenarnya di Balik Klaim Setara Pertamax Perbesar

PROLOGMEDIA – Seorang dosen dari Institut Pertanian Bogor (IPB) akhirnya membongkar angka sebenarnya di balik biaya produksi bahan bakar baru yang terbuat dari jerami, yang belakangan ini ramai disebut-sebut setara dengan Pertamax. Bahan bakar alternatif ini disebut dengan nama BOBIBOS — sebuah inovasi yang menarik karena menggunakan limbah pertanian (jerami) sebagai bahan baku dasar, sekaligus menawarkan potensi sebagai bahan bakar ramah lingkungan dengan tingkat RON (Research Octane Number) yang diklaim mendekati 98, serupa dengan kualitas bensin kelas atas.

 

Pada peluncuran dan publikasi awal, BOBIBOS menarik perhatian banyak pihak — bukan hanya karena klaim kualitas dan manfaat lingkungan, tetapi juga harapan bahwa harga jualnya akan bisa bersaing bahkan sebanding dengan Pertamax, bahan bakar paling populer konsumen menengah-keatas. Klaim ini memunculkan ekspektasi: bahwa jerami yang secara tradisional dianggap limbah pertanian bisa membawa harapan baru bagi sektor energi terbarukan serta menawarkan opsi yang lebih terjangkau dan berkelanjutan. Namun apa sebenarnya “harga asli” di balik produksi jerami menjadi BBM? Itulah yang diungkap dosen IPB.

 

Dosen tersebut menjelaskan secara rinci bahwa ketika semua biaya produksi, konversi, dan pengolahan jerami dihitung — mulai dari pengumpulan jerami, transportasi, proses kimiawi atau konversi ke bahan bakar, hingga distribusi — biaya per liter BOBIBOS jauh lebih tinggi daripada yang dibayangkan banyak orang. Meski harga jual “setara Pertamax” terlihat menggoda, di balik itu terdapat pengeluaran besar yang harus ditanggung agar proses konversi bisa berjalan baik dan memenuhi standar RON 98.

 

Penjelasan ini sekaligus menjadi semacam “suntikan harapan sekaligus penyejuk realita.” Ada harapan besar bahwa limbah jerami bisa diubah menjadi energi, berkontribusi pada pengurangan beban lingkungan, dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Namun — seperti biasa pada teknologi dan inovasi baru — ada biaya signifikan yang harus diperhitungkan. Transformasi limbah menjadi BBM bukan sekadar soal teknologi hijau dan klaim efisiensi, tetapi juga soal ekonomi dan skala produksi.

 

Apa artinya bagi konsumen, pemerintah, dan pegiat energi terbarukan? Pertama, bahwa klaim “harga setara Pertamax” jangan semata dibaca sebagai harga jual final — tanpa memahami bahwa biaya produksi bisa saja menimbulkan mark-up besar pada tahap konversi dan distribusi. Konsumen yang berharap dapat bahan bakar murah dari jerami kemungkinan besar akan kecewa jika harga realisasi ternyata jauh di atas harapan awal.

 

Baca Juga:
Dalam Rangka 100 Hari Kerja Bupati Serang, Miris Ada Warganya di PHK Sepihak oleh Perusahaan

Kedua, dari sisi pengembangan teknologi, hasil ungkapan dosen IPB memberi pelajaran penting. Inovasi ramah lingkungan mungkin saja secara teknis bisa dicapai — misalnya menghasilkan BBM dengan RON tinggi dari jerami — tetapi agar bisa kompetitif secara ekonomi, diperlukan efisiensi besar dalam skala produksi, kemajuan proses konversi, skema distribusi, dan faktor logistik. Tanpa itu, keberlanjutan proyek seperti BOBIBOS bisa sulit bertahan.

 

Ketiga, hal ini menggarisbawahi bahwa “energi hijau” tidak selalu identik dengan “murah.” Ada asumsi umum bahwa bahan bakar dari limbah — karena bahan bakunya gratis atau murah — bakal otomatis murah, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa proses pengolahan dan konversi memerlukan investasi besar: teknologi, peralatan, tenaga ahli, distribusi, dan manajemen limbah secara keseluruhan. Semua itu menambah biaya.

 

Di saat yang sama, publikasi tentang BOBIBOS dan analisis biaya yang dilakukan oleh akademisi seperti dosen IPB juga penting untuk menyaring optimisme dari realita. Masyarakat dan pemerintah perlu melihat proyek seperti ini dengan sikap kritis sekaligus mendukung: kritis terhadap klaim harga dan efisiensi, dan mendukung dari segi regulasi, insentif, serta penelitian agar inovasi energi terbarukan bisa berkembang dengan lebih realistis dan berkelanjutan.

 

Lebih jauh, apa yang diungkap dosen IPB bisa menjadi titik tolak untuk evaluasi lebih luas terhadap berbagai alternatif bahan bakar terbarukan. Bila suatu ketika teknologi konversi dari jerami sampai tahap produksi massal terjangkau, maka BOBIBOS bisa menjadi tambahan yang signifikan bagi pasokan energi nasional — membantu ketahanan energi dan mengurangi dampak lingkungan. Tapi sampai saat itu tiba — dan sampai biaya bisa ditekan — transparansi biaya dan edukasi publik penting agar kesalahan persepsi bisa dihindari.

 

Kesimpulannya, klaim bahwa jerami bisa menghasilkan BBM “setara Pertamax” memang menarik dan menjanjikan dari sisi teknologi dan konsep — mengubah limbah menjadi bahan bakar, meningkatkan efisiensi energi, menekan polusi, dan memberi alternatif terhadap BBM fosil. Namun, seperti diingatkan oleh dosen IPB, kenyataan ekonomi di balik proses konversi harus diperhitungkan dengan cermat. Tanpa itu, klaim tersebut bisa menyesatkan publik dan melemahkan potensi inovasi.

 

Baca Juga:
Gerakan Yoga Sederhana untuk Pengguna Komputer: Side-Angled Stretch yang Menyegarkan Tubuh

Dengan demikian, rupanya “harga asli” dari BBM jerami jauh lebih kompleks daripada sekadar harga jual. Untuk mewujudkan masa depan di mana jerami bisa menjadi sumber bahan bakar nyata — dengan harga, kualitas, dan keberlanjutan yang kompetitif — dibutuhkan lebih dari sekadar semangat inovasi: dibutuhkan efisiensi, dukungan riset, regulasi, dan keberlanjutan ekonomi yang nyata.

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita