Menu

Mode Gelap

Berita · 17 Des 2025 12:12 WIB

Inovasi Zero Waste di Bogor: Limbah MBG Disulap Jadi Pakan dan Pupuk Bernilai


 Inovasi Zero Waste di Bogor: Limbah MBG Disulap Jadi Pakan dan Pupuk Bernilai Perbesar

PROLOGMEDIA – Langit pagi masih lembut ketika para pekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mutiara Keraton Solo di kawasan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mulai mengaktifkan mesin–mesin kecil yang menandai awal rutinitas harian mereka. Aroma masakan bergizi — yang akan dibagikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) — menyebar dari dapur sederhana yang ramai. Tetapi di balik hiruk‑pikuk persiapan makanan sehat itu, ada sebuah inovasi yang jauh lebih besar dari sekadar urusan dapur: sebuah sistem pengolahan limbah yang menerapkan prinsip zero waste, atau bebas sampah, dengan cara yang kreatif, berkelanjutan, dan penuh nilai guna.

SPPG ini sudah lama dikenal sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan setiap anak dan ibu hamil mendapatkan makanan bergizi sebagai bagian dari program sosial nasional. Namun, yang membuat unit pelayanan di Bogor ini istimewa bukan hanya soal piring makanan yang disiapkan di sini, tetapi bagaimana sisa makanan dan limbah dapur diolah selanjutnya. Di tempat lain, limbah makanan sering kali berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), menimbulkan emisi gas metana dan masalah lingkungan lainnya. Tetapi di Bogor, tim yang dipimpin oleh Sujimin, yang lebih akrab disapa Jimmy, telah membalikkan paradigma itu — menjadikan limbah tidak lagi sebagai masalah, melainkan sumber daya berharga.

“Sisa bahan MBG mulai dari lost‑nya sampai waste‑nya kita olah,” ujar Jimmy saat ditemui di lokasi. Ia menunjuk beberapa potongan sayur, kulit buah, hingga daun pisang yang tampak tergeletak di salah satu meja kerja. Semua itu tidak sengaja terbuang, tetapi justru dipilah dan diproses dengan telaten. “Contohnya, daun pisang ini saya jadikan pupuk,” tambahnya sambil menunjukkan tumpukan bahan yang akan segera diproses lebih lanjut.

Konsep yang diterapkan di SPPG ini sangat sederhana sekaligus jitu: zero waste — seluruh limbah organik diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sistem ini tidak hanya mengurangi volume limbah yang harus dibuang, tetapi juga menciptakan produk bernilai ekonomis yang dapat mendukung kegiatan MBG dan aktivitas produktif lainnya.

Salah satu hasil paling menarik dari inovasi ini adalah budidaya maggot — larva lalat tentara hitam (black soldier fly) — yang dipelihara sebagai pakan ternak. Limbah makanan yang dikumpulkan tidak langsung dibuang, melainkan dijadikan bahan baku pakan maggot. Olahan ini diyakini memiliki potensi ekonomis tinggi karena maggot dapat menjadi pakan protein tinggi bagi hewan ternak seperti ayam, bebek, atau entok yang dipelihara di sekitar SPPG. Dari budidaya itulah, siklus ekonomi yang berkelanjutan mulai terbentuk: limbah makanan berubah menjadi pakan, pakan menjadi ternak sehat, dan ternak yang sehat menghasilkan produk yang bisa dimanfaatkan kembali — semua berputar dalam satu sistem yang rapat.

Namun, itu bukan satu‑satunya bentuk pengolahan yang diterapkan. Limbah yang tidak cocok untuk maggot — seperti potongan kayu atau peti buah — juga dimanfaatkan. Kayu dari peti buah misalnya seringkali dipakai oleh Jimmy untuk usaha pembuatan tahu yang ia kelola sendiri. Sedangkan limbah organik lainnya, yang tidak lagi berguna sebagai pakan, diproses menjadi pupuk organik yang berkualitas. Bahkan jika ada limbah yang terlalu sedikit atau tidak digunakan dalam siklus pakan atau produksi, ada satu langkah akhir: menutupinya dengan tanah untuk dibiarkan terurai secara alami, sehingga menjadi kompos yang kaya nutrisi tanah.

Baca Juga:
Mengapa Telur Kalkun Jarang Dikonsumsi? Ini Alasan di Baliknya

Para pekerja di bogor ini telah menerapkan standar higienitas yang konsisten, sehingga produk pakan, pupuk, dan maggot yang dihasilkan aman dan layak digunakan. Inisiatif ini dinilai layak tidak hanya untuk diterapkan secara lokal, tetapi bahkan bisa menjadi model nasional dalam pengelolaan limbah makanan dari program MBG. Pendekatan ini mencerminkan prinsip ekonomi sirkular, di mana limbah dianggap bukan sebagai akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari proses yang baru dan bernilai.

Prinsip ekonomi sirkular sendiri kini menjadi perhatian banyak pihak di seluruh dunia karena menawarkan solusi untuk mengatasi tantangan sampah dan limbah organik yang selama ini dominan berakhir di TPA. Alih‑alih membuang, limbah dipandang sebagai bahan baku yang bisa diolah kembali menjadi produk bernilai guna — mengurangi tekanan terhadap lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Para pekerja tampak antusias menjalankan proses ini setiap harinya. Mereka terbiasa memilah, memeriksa, dan memproses setiap potongan limbah dengan telaten. Tidak hanya menjadi pekerja biasa, mereka telah menjadi bagian dari sebuah proses inovatif yang memberikan dampak signifikan secara ekologis dan sosial. SPPG yang ada di Bogor ini bukannya tanpa tantangan. Butuh komitmen tinggi, koordinasi intensif, serta pemahaman mendalam tentang prinsip zero waste agar setiap tahap berjalan efektif. Namun, hasil yang dicapai telah membuktikan bahwa segala tantangan itu terbayar — limbah yang awalnya hanya akan menjadi sampah kini telah berubah menjadi pakan, pupuk, bahkan potensi nilai ekonomi baru.

Dampak dari pengelolaan limbah yang inovatif ini terasa tidak hanya di lingkungan sekitar SPPG tetapi juga di komunitas yang lebih luas. Para peternak lokal yang sebelumnya bergantung pada pakan pabrikan kini bisa mendapatkan alternatif pakan berkualitas dari hasil pengolahan limbah. Pupuk organik yang dihasilkan juga membantu petani lokal yang mencari solusi pertanian yang lebih ramah lingkungan. Pola pikir baru ini membuka ruang kolaborasi antara komunitas, petani, pengusaha kecil, dan pemerhati lingkungan.

Lebih dari itu, program ini membuka pintu untuk menjajaki peluang ekonomi yang lebih luas lagi, termasuk potensi perdagangan karbon dari pengurangan gas rumah kaca yang dihasilkan limbah makanan. Dengan mengubah limbah menjadi produk yang tidak menghasilkan metana di TPA, emisi gas rumah kaca bisa ditekan, dan bahkan masuk ke mekanisme perdagangan karbon di pasar sukarela — sebuah model yang banyak dicari oleh negara dan perusahaan yang ingin menurunkan jejak lingkungan mereka.

Inovasi ini menjadi contoh nyata bahwa masalah lingkungan yang kompleks seperti limbah makanan bisa diatasi dengan pendekatan yang kreatif, praktis, dan berkelanjutan. SPPG Mutiara Keraton Solo di Bogor bukan hanya menyediakan makanan bergizi — tetapi juga menunjukkan bahwa setiap potongan limbah punya cerita, punya potensi, dan yang terpenting, bisa dimanfaatkan kembali untuk kebaikan bersama.

Baca Juga:
Liburan Singkat ke Alam: Eksplorasi Taman Budaya Sentul City

Dengan semangat itu, para pekerja di Bogor terus menjalankan rutinitas harian mereka, tidak hanya menyajikan makanan bernutrisi, tetapi juga menanamkan nilai bahwa setiap limbah memiliki nilai guna. Dari dapur yang sederhana itu, lahir sebuah revolusi kecil yang memiliki potensi besar untuk mengubah cara kita melihat dan mengelola limbah, satu potongan sayur demi potongan sayur, satu larva maggot demi larva maggot — menuju dunia yang lebih bersih dan lebih berkelanjutan.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita