Menu

Mode Gelap

Berita · 24 Nov 2025 19:52 WIB

Investasi Pabrik Pengolahan Gaplek di Gunungkidul, Investor Shanghai Jajaki Kerjasama dengan Pemkab


 Investasi Pabrik Pengolahan Gaplek di Gunungkidul, Investor Shanghai Jajaki Kerjasama dengan Pemkab Perbesar

PROLOGMEDIA – Seorang investor asal Shanghai menunjukkan minat kuat untuk mendirikan pabrik pengolahan gaplek (singkong kering) di Kabupaten Gunungkidul. Rencana ini berpusat di Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Semin, tepatnya di Padukuhan Bangunsari, Candirejo, yang secara strategis telah dipersiapkan sebagai salah satu lahan industri potensial.

 

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Gunungkidul, Agung Danarto, menyampaikan bahwa ketertarikan investor ini menjadi pertanda positif bagi iklim investasi di wilayah Bumi Handayani. Menurutnya, peninjauan lokasi oleh investor dan Bupati Gunungkidul sudah berlangsung untuk menilai secara langsung potensi dan kesiapan lahan. Mereka melihat peluang pengembangan industri pengolahan pertanian, terutama gaplek, sebagai aset unggulan lokal. Agung menyatakan bahwa langkah ini dianggap sebagai bentuk nyata dukungan pemerintah daerah terhadap realisasi investasi.

 

“Kami bersyukur atas minat dari investor Shanghai untuk menanamkan modal di sektor pengolahan gaplek,” ungkap Agung. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah siap memberikan pendampingan agar proses investasi berjalan lancar dan sesuai harapan kedua belah pihak.

 

Dari sisi teknis, Sekretaris DPMPTSP Gunungkidul, Asar Jajang Riyanti, menjelaskan bahwa area lahan yang diajukan untuk proyek ini mencapai sekitar sepuluh hektare — dan di KPI Semin, lahan sebanyak itu masih tersedia. Karena telah berada dalam zona industri, masalah tata ruang dan peruntukan tanah tidak menjadi kendala besar, sehingga potensi pembangunan pabrik bisa lebih fleksibel dan cepat direalisasikan.

 

Sebagai tindak lanjut atas penjajakan tersebut, DPMPTSP Gunungkidul bahkan sudah memfasilitasi kunjungan lapangan calon investor ke lokasi KPI Semin. Kegiatan pendampingan seperti ini memang menjadi bagian dari strategi pemerintah kabupaten untuk memperkuat kerjasama dengan investor dan menjamin bahwa lahan yang dipilih memiliki daya tarik maksimal serta layak untuk dikembangkan. Dari hasil survei tersebut, investor menunjukkan respons positif. Mereka juga menyatakan akan melakukan diskusi lanjutan dengan pemerintah daerah guna menyusun rencana kerja sama yang konkret.

 

Kendati masih dalam tahap awal, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul optimistis bahwa investasi ini bisa membawa manfaat besar. Agung menyampaikan harapan, bahwa kehadiran investor tidak hanya menjadi investasi finansial, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Ketika industri pengolahan gaplek berdiri, potensi serapan tenaga kerja lokal menjadi sangat nyata. Asar juga menambahkan bahwa pihaknya akan terus mendampingi hingga tahap keputusan final agar proyek bisa benar-benar terwujud.

 

Sementara itu, dari sisi pasokan bahan baku, Gunu­ngkidul memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Produksi gaplek di kabupaten ini dilaporkan mencapai 800 ton per tahun, sementara lahan singkong yang mendukungnya tersebar hingga 40 ribu hektare. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, menyatakan bahwa ketersediaan lahan dan produksi yang melimpah memberi dasar kuat bagi pabrik untuk mendapatkan pasokan yang cukup dalam jangka panjang. Menurut Rismiyadi, saat panen besar pada periode Juli hingga Oktober, petani menghasilkan gaplek dalam volume yang signifikan, sehingga pabrik bisa menyerap pasokan tersebut secara stabil.

Baca Juga:
Teknik Jalan Kaki Efektif Untuk Menurunkan Berat Badan dan Membentuk Tubuh Ideal

 

DPMPTSP dan dinas terkait juga berencana merancang skema kemitraan dengan petani. Dengan adanya pabrik, petani tidak lagi harus mengandalkan tengkulak atau pasar tradisional untuk menjual hasil gaplek mereka. Sebaliknya, mereka bisa langsung menjual ke pabrik dengan harga lebih terjamin. Ini diharapkan menciptakan kepastian pasar dan pendapatan yang lebih adil bagi petani gaplek setempat.

 

Namun, Bagian Penata Perizinan DPMPTSP, yang diwakili oleh Mugiyanto, mencatat bahwa hingga saat ini calon investor dari Shanghai masih melakukan koordinasi internal. Belum ada pengajuan izin resmi yang masuk ke pemerintah daerah; proses perizinan belum dimulai. Meskipun demikian, Mugiyanto optimistis bahwa ketika izin diajukan, tidak akan ada masalah signifikan karena lokasi sudah sesuai dengan destinasi industri.

 

Kepala DPMPTSP, Agung, kembali menegaskan komitmen pemerintah kabupaten. Ia bahkan menyatakan kesiapan untuk terus memfasilitasi calon investor agar realisasi pembangunan pabrik bisa dipercepat. Ia juga melihat investasi ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat potensi hilirisasi hasil pertanian di Gunungkidul.

 

Dari sisi sosial-ekonomi, upaya ini mendapat sambutan hangat. Anggota DPRD Gunungkidul dari Komisi D, Ery Agustin Sudiyanti, menyebut rencana pabrik gaplek sebagai jembatan penting untuk perubahan ekonomi desa. Dengan dukungan legislatif dan pemerintah daerah, ia percaya bahwa investasi semacam ini bisa menjadi titik balik bagi petani singkong yang selama ini kesulitan mendapatkan stabilitas harga.

 

Sementara itu, di tingkat masyarakat petani, ekspektasi terhadap pabrik baru ini cukup tinggi. Selama ini, petani gaplek menghadapi masalah klasik: fluktuasi harga yang tajam. Sebelum rencana pabrik muncul, harga gaplek di Gunungkidul sempat anjlok hingga Rp 1.500–1.700 per kilogram, jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat banyak petani merugi karena biaya produksi dan proses pengeringan cukup tinggi, terutama saat musim kemarau panjang ketika pengeringan alami menjadi sulit dan risiko jamur meningkat. Oleh karena itu, munculnya pabrik dipercaya dapat memberikan solusi pasar yang lebih stabil dan adil.

 

Di tengah optimisme, keberhasilan proyek ini tentu bergantung pada sejumlah faktor penting: keseriusan investor dalam menyelesaikan perizinan, kemampuan menyusun kemitraan dengan petani lokal, serta kelancaran operasional pabrik ketika berdiri. Pemerintah kabupaten sudah menyiapkan pondasi yang kuat — mulai dari lahan industri yang layak, pendampingan lapangan, hingga kerangka regulasi — agar transformasi potensi lokal menjadi industri pengolahan yang berkelanjutan bisa terwujud.

 

Baca Juga:
Mahasiswa Bersatu, Banten Maju! Gubernur Andra Soni Dukung Penuh Rakernas BEM SI: Bukti Demokrasi Berjalan!

Di atas semua itu, implementasi pabrik pengolahan gaplek di Gunungkidul tak hanya sekadar soal investasi modal, tetapi mencerminkan visi pemerintah daerah untuk mendorong hilirisasi pertanian lokal. Dengan mengolah gaplek menjadi produk bernilai tambah, Gunungkidul bisa mengangkat perekonomian lokal, memperkuat mata rantai industri pertanian, dan memberikan masa depan yang lebih stabil bagi petani singkong. Jika semua elemen bisa berjalan sinkron — investor, pemerintah, petani — maka proyek ini bukan hanya akan menjadi pabrik, tapi jembatan harapan yang menghubungkan potensi agraris Gunungkidul dengan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Buruh Rembang Bergerak ke Semarang, Tiga Tuntutan Upah Jadi Sorotan

9 Desember 2025 - 02:19 WIB

Rombongan Pengusaha China Tinjau Proyek IKN, Beri Respons Mengejutkan

9 Desember 2025 - 02:11 WIB

Erupsi Spektakuler Gunung Kīlauea, Lava Menyembur hingga 30 Meter ke Langit

8 Desember 2025 - 19:58 WIB

Kayu Gelondongan Bersertifikat Kemenhut Terdampar di Pantai Lampung, Aparat Selidiki Legalitasnya

8 Desember 2025 - 19:49 WIB

Sejarah Desa Bedulan Cirebon: Legenda Nyi Mas Baduran dan Persinggahan Pasukan Demak

8 Desember 2025 - 19:39 WIB

Lebih dari 6.000 Lulusan S2 dan S3 di Indonesia Putus Asa Mencari Kerja

8 Desember 2025 - 19:29 WIB

Trending di Berita