JAKARTA – Kabar mengejutkan datang dari dunia pendidikan Jakarta Barat! Sebanyak 20 siswa SDN Meruya Selatan 01, Kembangan, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Akibatnya, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Meruya Selatan, yang menyalurkan MBG ke sekolah tersebut, dihentikan sementara untuk penyelidikan lebih lanjut.
Peristiwa ini tentu menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua dan masyarakat. Bagaimana bisa program yang bertujuan untuk meningkatkan gizi anak-anak justru berujung pada dugaan keracunan?
Kepala SPPG Meruya Selatan, Satria Jayaputra, menyatakan bahwa pihaknya telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan dari Badan Gizi Nasional (BGN). Ia juga mengaku telah melakukan uji organoleptik (pengecapan) sebelum MBG didistribusikan kepada para penerima manfaat.
“Kami ditutup sementara sampai hasil Labkesda keluar. Kami juga tetap mengikuti SOP keamanan pangan dari BGN,” kata Satria, dilansir Antara.
Satria menambahkan bahwa saat uji coba, tidak ada tanda-tanda kerusakan maupun bau aneh pada MBG tersebut. Bahkan, Lurah setempat juga ikut mencoba puding yang merupakan salah satu menu MBG.
Terkait dugaan keracunan, Satria menduga ada sebagian adonan puding yang gosong saat proses pengolahan, sehingga memunculkan aroma berbeda pada beberapa kemasan. Dugaan ini diperkuat oleh laporan seorang siswa yang mencium aroma tidak sedap dari puding yang dibagikan.
“Mungkin ada beberapa dari puding tersebut yang diolahnya itu lebih tepatnya gosong. Ada satu anak yang bilang baunya kayak asap rokok. Tapi setelah saya cium, ternyata memang ada aroma gosong dari puding itu,” jelas Satria.
Puding tersebut dipasok langsung oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bekerja sama dengan SPPG Meruya Selatan. Kejadian ini tentu menjadi perhatian serius terkait pengawasan terhadap kualitas makanan yang dipasok oleh UMKM.
Baca Juga:
Terobosan Kesehatan Nasional: Cek Kesehatan Gratis Tanpa Batas Usia, Deteksi Dini Lebih Mudah
Pihak SDN Meruya Selatan 01 juga mengambil langkah cepat dengan menghentikan sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama 10 hari. Wakil Kepala SDN Meruya Selatan 01, Nur Syamsiyah, mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu hasil penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti dari kejadian ini.
“Untuk sementara itu memang diberhentikan kurang lebih 10 hari. Masih dalam proses penyelidikan. Jadi, sampai saat ini kita juga tidak bisa memvonis itu keracunan atau tidak, karena memang hasil belum kami terima,” ujar Nur Syamsiyah.
Peristiwa ini terjadi pada Rabu, 29 November 2025, setelah para siswa menyantap MBG pada hari ketiga. Indikasi keracunan terlihat saat 20 orang anak menunjukkan gejala mual dan pusing usai menyantap menu MBG yang terdiri dari mi, telur kecap, puding, dan beberapa item menu lainnya.
Kepala SDN Meruya Selatan 01, Siti Sofyatun, mengatakan bahwa tujuh siswa dilarikan ke RSUD Kembangan karena Puskesmas Kembangan sedang penuh. Sementara itu, 13 siswa lainnya ditangani oleh dokter di sekolah karena kondisinya tidak terlalu parah.
“Tujuh yang ke RSUD, karena waktu itu Puskesmas Kembangan lagi penuh. Jadi, akhirnya kami disarankan ke RSUD Kembangan. Yang di sekolah, 13 anak itu ditangani sama dokter. Artinya tak parah,” ujar Siti Sofyatun.
Meskipun hasil resmi laboratorium belum keluar, Siti menduga item menu yang menyebabkan keracunan adalah mi atau puding. Namun, ia menegaskan bahwa pihaknya akan menunggu hasil resmi dari laboratorium untuk memastikan penyebab pasti dari kejadian ini.
Puluhan siswa yang diduga mengalami keracunan kini dipastikan aman dan sudah kembali beraktivitas setelah mendapat perawatan. Mereka pun sudah kembali bersekolah keesokan harinya.
Pihak sekolah mengimbau kepada orang tua untuk tetap tenang dan mempercayakan penanganan masalah ini kepada pihak sekolah dan dinas terkait. Mereka juga berjanji akan terus memberikan informasi terbaru terkait perkembangan kasus ini.
Baca Juga:
Kemenkes Pilih Banten Jadi Percontohan TBC: Angka Penemuan Tertinggi, Keluarga Pasien Terlayani!
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak terkait pentingnya pengawasan dan pengendalian mutu terhadap program Makan Bergizi Gratis. Diharapkan, kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.









