PROLOGMEDIA – Sejak Oktober 2025, kota Jakarta memiliki satu destinasi kuliner baru yang tengah ramai diperbincangkan: Jukut Goreng Samali. Warung ini digagas oleh aktor Epy Kusnandar bersama sang istri, Karina Ranau — melanjutkan jejak mereka di dunia kuliner setelah tutupnya “Warung Kang Mus” di kawasan Kalibata City. Ide membuka warung ini datang dari kecintaan Epy-Karina terhadap masakan ala Sunda, khususnya jukut (selada air) goreng, yang kemudian dikombinasikan dengan pilihan lauk dan sambal khas agar lebih menggugah selera.
Mereka menamai tempat ini “Jukut Goreng Samali” — mengambil nama dari lokasi warung di Jalan H. Samali nomor 27B, Kalibata, Jakarta Selatan. Harga menu di warung ini sangat bersahabat. Untuk jukut goreng saja, pengunjung cukup merogoh kocek sekitar Rp 12.000. Sedangkan paket nasi dengan lauk seperti ayam penyet cabe ijo, nila goreng, atau lele penyet cabe ijo dibanderol Rp 25.000. Selain itu tersedia juga aneka pelengkap seperti pete goreng, terong goreng, ikan asin, sate kulit, sate ati ampela, sate puyuh, tahu-tempe, maupun tumis kecombrang dengan harga mulai Rp 5.000 saja.
Walaupun jukut — sayuran — menjadi andalan utama, Epy dan Karina sadar bahwa sekadar sayuran saja mungkin belum cukup memuaskan lidah para penikmat makanan. Maka dari itu, mereka menyediakan lauk-lauk dengan cita rasa kuat serta sambal ijo yang menggoda. Tumisan sayuran yang digoreng kering kemudian diberi bumbu gurih — sekilas mirip dengan konsep lalapan — namun dipadu dengan kerenyahan dan aroma yang khas. Kombinasi tersebut menjadikan jukut goreng bukan sekadar lauk pendamping biasa, melainkan elemen utama yang menarik bagi pencinta masakan Sunda modern.
Saat tim detikFood datang mencicipi, mereka memesan dua menu andalan: Nasi Ayam Penyet Cabe Ijo dan Nasi Nila Penyet Cabe Ijo. Waktu itu sekitar pukul 18.20 — suasana menunjukkan warung penuh dan cukup ramai sehingga mereka harus menunggu sekitar 15 menit sebelum mendapat tempat. Untungnya, pihak warung mempersilakan mereka untuk memesan terlebih dahulu, sehingga begitu tempat tersedia, pesanan sudah siap.
Kemasan makanan di Jukut Goreng Samali cukup sederhana namun menggoda: nasi putih, lauk goreng yang baru dimasak, lalapan minimalis (biasanya irisan mentimun dan daun kemangi), plus sambal ijo yang disajikan dalam jumlah generous. Ayam maupun ikan nila dimarinasi dengan bumbu kuning gurih, kemudian digoreng dadakan — memberi sensasi hangat dan renyah saat disajikan. Ayam goreng terasa meresap hingga ke serat daging, sedangkan ikan nila menghasilkan kulit garing meskipun ada sedikit aroma “tanah” khas ikan air tawar; menariknya, sensasi itu tak mengganggu karena bagian luar ikan tetap garing dan gurih.
Yang membuat pengalaman makan makin sempurna adalah sambal ijo: pedas, segar, dengan sedikit rasa asam segar mirip perasan jeruk limo. Sambal ini menambah kedalaman rasa ketika dicocol bersama ayam atau ikan, memberi sensasi menggugah selera. Hanya saja, sambal ini terasa agak berminyak — karena cabai ijo diulek halus lalu disiram minyak panas banyak — jadi bagi yang kurang suka rasa berkabut minyak, bisa jadi ini agak dominan.
Baca Juga:
Manfaat Lidah Buaya Untuk Kesehatan Rambut
Menu jukut goreng sendiri — andalan utama warung — juga punya daya tarik tersendiri. Seporsi jukut goreng porsi besar, teksturnya renyah, dan rasa gurih dari bumbu terasa jelas. Proses memasaknya pun menarik: setelah selada air digoreng, langsung dibalur bumbu gurih — tampaknya kaldu bubuk — sehingga rasanya kuat, menggugah, dan cocok untuk teman nasi. Walau begitu, karena ukuran daun selada air yang masih panjang-panjang, makan jukut goreng ini perlu dinikmati pelan-pelan agar tidak mudah tersedak alias “nyangkut”.
Tak hanya itu, tersedia pula variasi lain seperti tumis kecombrang (dulu dihasilkan dari sisa kecombrang) yang dicampur pete, serta aneka sate seperti sate kulit — bahkan sate kulit goreng satu tusuk hanya Rp 6.000. Tumis kecombrang ini cukup digemari, dengan cita rasa wangi, pedas-gurih dari bumbu bawang dan cabai rawit, dipadu tekstur renyah. Kombinasi ini memperkuat identitas warung: sederhana, bersahaja, tetapi menggugah selera — khas warung pinggir jalan ala Sunda moderen.
Menariknya, warung ini sempat viral karena sempat menjadi korban aksi premanisme. Dua orang tukang parkir (jukir) disebut meminta pungutan liar ketika warung hendak tutup — karena makanannya sudah habis. Ketika diberi tahu hal tersebut, salah satu dari tukang parkir tak terima dan terjadi cekcok. Peristiwa ini kemudian tersebar luas, bahkan mendapat sorotan kepolisian. Istri Epy, Karina, sempat merekam dan mengunggah video kejadian di media sosial, yang lantas viral di kalangan netizen. Banyak yang mengecam tindakan premanisme berkedok “uang keamanan” tersebut.
Meski sempat mendapat cobaan, kejadian itu justru membawa dampak yang tak terduga: warung menjadi semakin dikenal luas. Antrean pelanggan — baik yang penasaran setelah kisah itu viral, maupun pelanggan tetap yang penasaran dengan cita rasa warung — membludak. Warung yang dulu tergolong baru langsung menjadi tujuan banyak foodies dan penggemar masakan Sunda. Suasana warung pun ramai, baik untuk makan di tempat maupun take-away.
Secara operasional, Jukut Goreng Samali buka pukul 13.00 hingga sekitar 21.30 WIB — cocok untuk santap siang maupun makan malam. Ruang makannya memang terbatas, tapi bagi banyak orang, atmosfer sederhana dan cita rasa autentik warung ini jadi daya tarik tersendiri.
Baca Juga:
6 Manfaat Walking Pose untuk Menguatkan Lutut dan Meningkatkan Stabilitas Tubuh
Bagi kamu yang penasaran pengalaman makan khas warung Sunda modern tanpa harga selangit — tempat ini bisa jadi pilihan menarik. Bayangkan sepiring nasi hangat, lauk goreng yang baru diolah, sambal ijo pedas segar, dan jukut goreng renyah sebagai pelengkap — kombinasi sederhana namun memuaskan, seperti rasa rumah sendiri. Warung ini menunjukan bagaimana masakan tradisional bisa tetap relevan di kota besar, ketika disajikan dengan hati, kesederhanaan, dan rasa yang tetap melekat.









