PROLOGMEDIA – Pada pekan ini, kota Hanoi, ibu kota Vietnam, menghadapi krisis polusi udara yang sangat serius setelah beberapa hari terakhir diliputi kabut asap beracun yang tebal dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Kota dengan populasi jutaan jiwa itu tidak hanya sekadar mengalami kabut tipis seperti pada musim dingin biasa, tetapi tertutup lapisan polusi yang hampir menyerupai krisis lingkungan — sebuah tantangan besar yang memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan warga sehari-hari.
Situasi ini membuat Hanoi menjadi sorotan global. Data pemantauan kualitas udara dari berbagai lembaga independen menunjukkan bahwa Indeks Kualitas Udara (AQI) kota ini meroket ke angka yang jauh di atas ambang aman, menempatkannya di antara kota dengan kualitas udara terburuk di dunia dalam beberapa hari terakhir. Meski angka pasti bervariasi mengikuti jam pemantauan dan sumber data, banyak stasiun pemantau melaporkan AQI berkisar di atas 220 hingga 243, level yang secara umum dikategorikan sebagai “sangat tidak sehat” atau bahkan mendekati level “berbahaya”.
Kabut polusi yang menyelimuti Hanoi bukan hanya sekadar gangguan visual. Jarak pandang yang semakin buruk di berbagai sudut kota, dari pusat kota hingga wilayah pinggiran, menciptakan suasana yang suram dan memaksa jutaan warga memilih untuk memakai masker saat berada di luar rumah sepanjang waktu. Efek kabut ini begitu nyata sehingga penduduk setempat melaporkan gejala kesehatan seperti irritasi mata, batuk, sesak napas, dan kelelahan meski hanya bergerak dari satu titik ke titik lain di dalam kota.
Penyebab utama dari bencana kabut beracun di Hanoi bukanlah hal baru. Kota ini lama dikenal sebagai salah satu pusat urbanisasi dan industri di Asia Tenggara, dengan laju pembangunan dan pertumbuhan transportasi yang sangat cepat. Kendaraan bermotor berbahan bakar fosil, terutama sepeda motor bensin dan mobil tua, telah lama menjadi kontributor utama emisi. Selain itu, aktivitas industri, pembangunan konstruksi besar-besaran, pembakaran sampah, dan residu pertanian yang dibakar di sekeliling wilayah juga memperparah kondisi. Faktor-faktor ini, ditambah pola cuaca musim dingin dengan inversi suhu yang menjebak polutan di dekat permukaan tanah, menciptakan kondisi di mana polutan — khususnya partikel halus PM2,5 — menumpuk dalam konsentrasi tinggi di udara.
Kondisi seperti ini sebenarnya berulang setiap musim tertentu, terutama di bulan akhir tahun ketika cuaca cenderung lebih stabil dan angin kurang kuat untuk menyebarkan polutan. Namun episode baru-baru ini dianggap sebagai salah satu yang terparah dalam beberapa musim terakhir, baik dari segi durasi maupun intensitasnya. Dalam beberapa titik pemantauan, konsentrasi PM2,5 bahkan mencapai puluhan kali lipat di atas batas aman harian yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Paparan PM2,5 dalam jangka pendek maupun panjang telah dikaitkan dengan berbagai dampak kesehatan serius, termasuk gangguan pernapasan, penyakit jantung, bahkan risiko kanker paru-paru.
Baca Juga:
BNN Hadiri Rapat Strategis Pembahasan Pelaksanaan Anggaran 2026 di Kemensetneg
Menanggapi krisis ini, pemerintah Hanoi dan otoritas terkait telah memutuskan untuk mengambil langkah-langkah darurat guna mengurangi emisi dan melindungi kesehatan publik. Salah satunya adalah imbauan kepada perusahaan industri besar — seperti pembangkit listrik, pabrik baja dan pabrik kimia — untuk mengurangi tingkat produksi ketika kualitas udara mencapai level sangat tidak sehat, yang telah diterapkan beberapa hari terakhir. Selain itu, otoritas juga tengah merancang kebijakan pelarangan bertahap terhadap kendaraan berbahan bakar bensin, dimulai dari sepeda motor di pusat kota pada pertengahan 2026, dengan rencana perluasan larangan ke kendaraan pribadi berbahan bakar fosil lainnya di tahun-tahun berikutnya.
Namun, respons ini mendapatkan tantangan tersendiri karena langkah-langkah tersebut bukan solusi instan. Banyak warga dan pengamat lingkungan menilai bahwa meskipun kebijakan pengurangan operasi industri dan pembatasan kendaraan merupakan langkah positif, efektivitas jangka pendeknya seringkali belum terlihat langsung di udara yang kita hirup sehari-hari. Implementasi kebijakan di lapangan terkadang lambat, sementara warga terpaksa bertahan dengan kualitas udara yang buruk, terutama anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki penyakit pernapasan kronis yang paling rentan terhadap kondisi ini.
Dalam menghadapi tantangan ini, ahli kesehatan masyarakat dan lingkungan juga menekankan pentingnya langkah-langkah pencegahan individual, seperti mengurangi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker penyaring partikel berkualitas tinggi (misalnya N95/FFP2), dan memastikan ruangan dalam rumah memiliki ventilasi yang baik atau pembersih udara. Walaupun demikian, solusi komprehensif di tingkat kota dan negara tetap menjadi kunci jangka panjang untuk mengatasi polusi parah seperti ini.
Fenomena polusi udara ekstrem yang saat ini dialami Hanoi bukanlah peristiwa isolasi di Asia Tenggara. Beberapa kota besar di wilayah ini juga menghadapi kualitas udara buruk secara berkala karena kombinasi faktor industri, transportasi, dan kondisi cuaca yang tidak menguntungkan. Namun, dampak bagi penduduk kota sebesar Hanoi sangat luas — dari aspek kesehatan dan kualitas hidup warga, hingga pengaruh terhadap produktivitas ekonomi dan citra kota di mata dunia. Perbaikan jangka panjang akan sangat bergantung pada kerja sama antara pemerintah pusat, otoritas lokal, sektor industri, serta partisipasi aktif masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan.
Baca Juga:
6 Resep Soto Khas Jawa Barat: Hangatkan Diri dengan Kelezatan Warisan
Sementara ini, warga Hanoi terus menjalani rutinitas di tengah kabut beracun yang menyelimuti langit kota mereka. Banyak keluarga memilih untuk tetap berada di dalam ruangan sebanyak mungkin, sementara survei menunjukkan kepedulian yang meningkat terhadap isu polusi udara. Diskusi tentang masa depan transportasi bersih, energi terbarukan, dan regulasi emisi yang lebih ketat menjadi topik hangat dalam pertemuan publik dan forum lingkungan, menandakan bahwa krisis ini telah memicu perdebatan luas tentang bagaimana masyarakat harus beradaptasi dengan tantangan lingkungan di era urbanisasi modern.









