PROLOGMEDIA – Di tengah keramaian kehidupan Jakarta seringkali membuat karyawan terjebak dalam rutinitas kerja yang padat, sebuah perusahaan di Jakarta mengusung inisiatif yang segar dan menggiurkan: memberikan potongan satu jam kerja work from office (WFO) untuk setiap karyawan yang lari sejauh 5 kilometer. Perusahaan yang menerapkan kebijakan unik ini adalah HypeFast, yang melihat langkah ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kesehatan para pekerjanya dan menerapkan prinsip “work life balance” yang sebenarnya berfungsi.
Head of People HypeFast, Erin Dwi Rejeki, menjelaskan bahwa ide kebijakan ini muncul dari keinginan perusahaan untuk membuat waktu kerja di kantor lebih terukur dan efektif. Banyak karyawan merasa terbebani dengan jam kerja yang panjang, yang terkadang berdampak negatif pada kesejahteraan dan produktivitas.
“Kita pengin tujuannya agar lebih terukur dan efektif juga waktu di kantor. Dari sana, muncul ide untuk memberikan cara bagi karyawan mengurangi jam WFO tersebut melalui kegiatan positif, yaitu olahraga,” ungkap Erin saat ditemui Kompas.com pada Rabu (19/11/2025).
Konsep ini bukan hanya tentang mengurangi jam kerja, tetapi juga tentang mendorong karyawan untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi tubuh dan pikiran.
Sebelum menerapkan kebijakan ini, HypeFast telah menetapkan aturan bahwa setiap karyawan memiliki kewajiban WFO minimal 60 jam dalam sebulan. Dengan kebijakan baru, perusahaan memberikan konversi yang jelas: satu jam kerja di kantor dapat ditukar dengan satu kali lari sejauh 5 kilometer.
“Nah, akhirnya dipilihlah lari. Mereka bisa tukar 5 kilometer lari dengan satu jam kerja di kantor. Nanti bisa diakumulasi selama satu bulan,” kata Erin.
Bahkan, karyawan yang berani mengikuti lari jarak jauh seperti full marathon (42 km) juga akan mendapatkan manfaat yang sebanding.
“Misalnya ada yang ikutan full marathon ya, itu kan 42 km. Nah, nanti mereka berarti dapat sekitar konversi 8 jam WFO ya. Mengurangi kewajiban satu hari penuh di kantor,” sambungnya dengan senyum, menunjukkan bahwa perusahaan sangat mendorong semangat berprestasi dalam olahraga.
Menurut Erin, ide inovatif ini dicetuskan langsung oleh CEO HypeFast, Achmad Alkatiri, yang memang merupakan seorang pelari yang aktif. Kecintaan CEO terhadap lari membuatnya melihat potensi besar olahraga ini untuk membawa perubahan positif di dalam perusahaan. Selain itu, lari dipilih karena dinilai sebagai olahraga yang paling aksesibel dan tidak memerlukan biaya besar.
“Kenapa lari? Karena kita melihat lari ini paling mudah diakses. Cukup pakai sepatu saja sudah bisa lari, tidak perlu alat atau uang banyak seperti ke gym,” jelasnya.
Ini menjadi faktor kunci agar semua karyawan, tanpa memandang latar belakang ekonomi atau tingkat kesehatan awal, dapat berpartisipasi dalam program ini.
Inisiatif potongan jam kerja melalui lari juga selaras dengan kultur perusahaan yang sudah lama memprioritaskan kesejahteraan karyawan. HypeFast telah memiliki berbagai klub olahraga internal yang aktif, mulai dari badminton, yoga, hingga padel. Anggota klub-klub ini terus bertambah, dan antusiasme tinggi dari karyawan terhadap aktivitas olahraga ini menjadi sinyal positif bahwa program baru ini akan diterima dengan baik.
Baca Juga:
BOCHEZ: Mahasiswa IPB Sulap Kacang Bogor Jadi Keju Nabati Inovatif
“Kita sudah punya fondasi yang baik dengan klub-klub olahraga yang ada. Jadi, ketika mengusulkan kebijakan ini, kita yakin karyawan akan meresponnya dengan antusias,” ujar Erin.
Kultur yang mendukung olahraga membuat peralihan ke kebijakan baru ini terasa lebih alami dan tidak seperti paksaan.
Tujuan utama dari kebijakan ini tidak hanya sebatas meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga kesejahteraan mental karyawan. Erin menekankan bahwa perusahaan percaya bahwa karyawan yang sehat, baik secara fisik maupun mental, akan lebih produktif dalam bekerja.
“Kami percaya karyawan yang sehat, baik fisik maupun well-being-nya, bisa meningkatkan produktivitas dalam bekerja,” kata dia.
Lari bukan hanya membakar kalori, tetapi juga membantu melepaskan hormon kebahagiaan seperti endorfin, yang dapat mengurangi stres dan kecemasan akibat kerja. Hal ini diharapkan akan membuat lingkungan kerja lebih positif dan kolaboratif, sehingga semua karyawan dapat bekerja dengan lebih senang dan fokus.
Untuk memastikan transparansi dan akurasi dalam pencatatan jarak lari, HypeFast menggunakan aplikasi Strava sebagai alat pelacak resmi. Karyawan diminta untuk mencatat setiap sesi lari mereka di aplikasi tersebut dan berbagi dengan tim People untuk dikonversi menjadi jam kerja. Mekanisme ini memudahkan perusahaan untuk memantau partisipasi karyawan dan memastikan bahwa semua konversi dilakukan sesuai aturan.
“Strava dipilih karena itu adalah aplikasi yang banyak digunakan oleh pelari dan memiliki fitur pelacakan yang akurat. Ini juga memudahkan kita untuk memverifikasi jarak yang ditempuh oleh setiap karyawan,” jelas Erin.
Dengan sistem yang jelas dan terbuka, karyawan merasa lebih percaya dan termotivasi untuk berpartisipasi.
Sejak kebijakan ini diumumkan, antusiasme dari karyawan HypeFast telah melampaui harapan. Banyak yang mulai merencanakan jadwal lari mereka setiap hari, baik sebelum kerja, sesudah kerja, atau bahkan di hari libur. Beberapa karyawan bahkan membentuk kelompok lari bersama untuk saling mendukung dan memotivasi. Ini tidak hanya meningkatkan aktivitas olahraga, tetapi juga memperkuat hubungan antar karyawan di luar lingkup kerja.
“Kita melihat banyak karyawan yang saling mengajak lari bersama. Ini membuat hubungan antar mereka lebih erat, dan lingkungan kerja menjadi lebih hangat,” ujar Erin.
Kebijakan unik HypeFast ini juga menjadi perhatian di kalangan perusahaan lain di Indonesia. Banyak yang melihatnya sebagai contoh inovasi dalam meningkatkan kesejahteraan karyawan dan menciptakan budaya kerja yang sehat. Dengan menunjukkan bahwa perusahaan dapat memprioritaskan kesehatan karyawan tanpa mengorbankan produktivitas, HypeFast berharap dapat menjadi contoh bagi industri lain.
Baca Juga:
Shredding Series Masters Downhill: Kanwil Ditjenpas Banten Padukan Olahraga Ekstrem dan Pengabdian Masyarakat
“Kita harap kebijakan ini tidak hanya bermanfaat untuk karyawan kita, tetapi juga bisa menjadi inspirasi bagi perusahaan lain untuk melakukan hal yang sama. Kesehatan karyawan adalah aset terpenting perusahaan,” tutup Erin dengan keyakinan.









