Menu

Mode Gelap

Kuliner · 20 Nov 2025 10:10 WIB

Keajaiban di Lombok! Kurma Rinjani Dinobatkan Terbaik Ke-7 Dunia


 Keajaiban di Lombok! Kurma Rinjani Dinobatkan Terbaik Ke-7 Dunia Perbesar

PROLOGMEDIA – Tidak mudah bagi petani di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk beralih menanam pohon kurma. Lima tahun silam, hampir tak ada yang percaya bahwa buah kurma – yang selama ini dianggap hanya bisa tumbuh dan berbuah di jazirah Arab dan Timur Tengah – bisa hidup di tanah Lombok. Bahkan buah nabi ini seolah-olah sudah menjadi “milik eksklusif” negara-negara di kawasan tersebut, sehingga ketika beberapa petani pertama kali mengusulkan untuk menanamnya, mereka disangka gila oleh tetangga dan masyarakat sekitar.

“Awalnya kita dikira gila tanam kurma di Lombok Utara,” tutur Amaq Lebih alias Risman Eka (53), salah satu petani kurma di Desa Rempek, Kecamatan Gangga, pada Selasa (18/11/2025).

Seperti petani lainnya, Amaq Lebih juga awalnya ragu-ragu. Selama berabad-abad sejak zaman nenek moyang, tidak pernah ada cerita tentang kurma yang berbuah di Lombok. Secara geografis, Desa Rempek berdekatan dengan wilayah pegunungan Rinjani yang subur dan berhujan cukup banyak – jauh berbeda dari daerah kering atau gurun yang biasanya menjadi tempat tumbuh kurma. Selama bertahun-tahun, di lahan seluas 76 are miliknya, ia hanya menanam kacang, jagung, dan palawija lainnya yang lebih familiar dengan kondisi tanah dan cuaca Lombok.

Jadi tidak mengherankan ketika ia disebut gila ketika menyatakan niat untuk menanam pohon kurma di kampung. Namun, semangatnya tidak padam. Sekitar tahun 2018, tidak lama setelah gempa besar mengguncang Lombok dan membuat banyak petani merenungkan cara baru untuk meningkatkan pendapatan, Amaq Lebih mulai terpengaruh oleh usulan dari seorang planter yang menyarankan kurma bisa tumbuh di daerah tersebut.

“Bisa hidup enggak kurma kalau dibawa ke Lombok? pikiran saya waktu itu,” ujarnya, sambil tersenyum mengingat masa lalu. “Tapi saya nekat saja tanam. Setelah saya tanam terus saya tinggal rawat. Saya tanam sama planter yang membimbing waktu itu.”

Seiring waktu, Amaq Lebih bersama sekelompok petani kurma lainnya menjalani proses yang penuh tantangan dengan penuh kesabaran. Mereka harus belajar dari awal tentang cara budidaya, merawat, pengairan yang pas, hingga cara mengawinkan pohon kurma – karena tanaman ini membutuhkan penyerbukan silang untuk berbuah. Banyak hambatan yang mereka hadapi: beberapa pohon gagal tumbuh dan mati sebelum besar, pengairan yang sulit karena kondisi tanah yang kadang terlalu lembap, dan kurangnya pengetahuan tentang perawatan yang tepat. Namun, mereka tidak menyerah. Mereka terus berbagi pengalaman, belajar dari kesalahan, dan berusaha semaksimal mungkin agar pohon kurma bisa bertahan.

Akhirnya, kerja keras dan ketekunan mereka membuahkan hasil setelah tiga tahun kemudian. Pohon-pohon kurma yang mereka tanam mulai menunjukkan tanda-tanda berbuah – sebuah pemandangan yang tak terbayangkan sebelumnya di kampung halaman mereka. Bak oase di tengah padang pasir, Amaq Lebih dan teman-temannya bersukaria melihat buah kurma yang mulai membesar di ranting pohon. Cerita keberhasilan ini menyebar dengan cepat ke seluruh Lombok Utara, bahkan ke daerah sekitarnya. Saban tahun kemudian, pohon-pohon kurma itu menghasilkan buah yang melimpah, menarik banyak pengunjung penasaran yang ingin melihat langsung keajaiban kurma yang berbuah di tanah Lombok.

Warga yang sebelumnya menyebut mereka gila kini tercengang melihat kesuksesan Amaq Lebih dan kelompok petani lainnya.

“Dia yang gila, terbalik sekarang, dia penasaran datang ke kebun. Tamunya luar biasa banyak,” katanya dengan bangga.

Baca Juga:
Gula vs Garam: Mana yang Lebih Berbahaya bagi Kesehatan Jantung?

Sejak saat itu, para petani di Lombok Utara mulai sadar dan yakin bahwa kurma benar-benar bisa tumbuh dengan subur di daerah mereka. Banyak kebun kurma baru mulai dibuka, baik di lahan skala kecil maupun lebih luas. Para petani saling membantu dalam mengelola kebun, berbagi teknik budidaya, dan bekerja sama untuk memastikan hasil panen yang baik.

Kini, setelah lebih dari lima tahun sejak pertama kali menanam, kurma dari Lombok Utara sudah mendapatkan pengakuan resmi dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia dengan nama resmi Kurma Rinjani atau disingkat Kumari. Prestasi terbesar mereka tercapai pada tahun 2025, ketika Kurma Rinjani dinobatkan sebagai kurma terbaik ke-7 di dunia pada Festival Kurma Internasional yang diadakan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), pada tanggal 21–23 Oktober 2025. Ini adalah pencapaian yang luar biasa, mengingat mereka awalnya hanya dianggap gila untuk mencoba menanam kurma di tanah yang tidak dianggap cocok.

Menanam kurma memang membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang luar biasa. Sebab tanaman keluarga palem (Arecaceae) ini tidak bisa dipanen langsung setelah ditanam – dibutuhkan waktu 3-4 tahun untuk pertama kalinya berbuah. Namun, setelah itu, petani bisa memanen setiap tahun tanpa perlu menanam ulang, berbeda dengan tanaman padi yang harus ditanam ulang setiap tiga bulan.

“Kalau kita tekuni, kita rawat pasti berbuah,” ujar Amaq Lebih.

Hasil yang didapatkan juga jauh lebih baik dibandingkan tanaman palawija yang biasa mereka tanam. Pada panen pertama, ia mendapatkan pendapatan sebesar Rp 50 juta – jauh berbeda dari pendapatan dari tanam padi yang hanya sekitar Rp 5-6 juta per panen.

Ade Hendrawan alias Wawan (35), seorang petani kurma muda, mengaku bahwa sekarang mereka lebih optimis lagi dalam menanam pohon kurma. “Insya Allah akan menghadirkan kesejahteraan bagi petani, termasuk menyerap tenaga kerja, karena nilai jual kurma ini lumayan,” katanya. Sebagai petani muda, ia tertarik menanam kurma karena hal itu unik dan harga jualnya cukup tinggi – bisa mencapai Rp 400.000 per kilogram di tempat.

“Untuk panen awal, kita habis untuk tamu yang datang,” katanya, menjelaskan bahwa permintaan kurma dari Lombok sangat tinggi bahkan sebelum sampai ke pasar besar.

Saat ini, semakin banyak petani beralih menanam pohon kurma. Banyak petani rumahan menanam satu atau dua pohon di pekarangan rumah, sementara lahan hamparan dikelola secara bersama-sama dengan tim Ukhuwah Datu Nusantara. Para petani bekerja sama mulai dari proses budidaya hingga penjualan, yang diatur melalui sistem penjualan satu pintu untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan semua petani mendapatkan keuntungan yang adil.

Baca Juga:
Konflik Agraria Pesisir Tangerang: Warga Tersudut di Tengah Ekspansi Proyek PIK 2

Cerita keberhasilan petani kurma Lombok Utara menjadi bukti bahwa impian yang tampak mustahil bisa terwujud dengan kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru – bahkan ketika orang lain mengira Anda gila.

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

3 Resep Mie Goreng Mudah dan Nikmat, dari Kangkung Segar hingga Versi Mamak Pedas

9 Desember 2025 - 22:15 WIB

5 Kesalahan Umum Saat Minum Kopi yang Harus Dihindari

9 Desember 2025 - 21:51 WIB

Perkedel Tempe Lembut dan Renyah, Rahasia Camilan Tradisional yang Menggoda Selera

9 Desember 2025 - 18:22 WIB

10 Manfaat Telur Bebek Rebus untuk Kesehatan Jika Dikonsumsi Setiap Hari

8 Desember 2025 - 19:52 WIB

Ayam Goreng Bu Haji: 77 Tahun Mempertahankan Rasa Legendaris yang Tak Tertandingi

8 Desember 2025 - 19:37 WIB

12 Sarapan Indonesia Terbaik Versi Dunia: Dari Bubur Ayam Hingga Gado-Gado

8 Desember 2025 - 19:32 WIB

Trending di Kuliner