PROLOGMEDIA – Saat matahari pagi mulai menembus kabut tipis yang menyelimuti kota Surabaya pada Selasa, 16 Desember 2025, suasana pelataran kantor pemerintah daerah dipenuhi oleh kerumunan kecil namun penuh harapan. Sekitar 55 orang dari berbagai penjuru Kabupaten dan Kota di Jawa Timur telah berkumpul, masing‑masing membawa mimpi, tekad, dan harapan besar untuk memulai babak hidup baru jauh dari kampung halaman mereka. Hari itu menjadi momen penting bagi mereka yang terdaftar dalam program transmigrasi, sebuah langkah berani untuk memperbaiki nasib dan kehidupan ekonomi keluarga masing‑masing.
Di antara kerumunan itu terlihat sosok Suhartini, seorang perempuan berusia 44 tahun asal Kecamatan Bojonegoro. Dengan senyum yang terpancar penuh optimisme, Suhartini menyampaikan alasan kuat mengapa ia memilih untuk meninggalkan kampung halamannya dan mengikuti program transmigrasi ini. Bagi Suhartini, hidup sebagai petani kecil di Bojonegoro selalu penuh tantangan. Selama bertahun‑tahun ia bekerja keras merawat lahan sempit warisan keluarga demi menyambung hidup, namun hasilnya seringkali tak sebanding dengan jerih payah yang dikeluarkan. Kini, dengan kesempatan ini, ia melihat secercah harapan baru.
“Prosesnya mudah dan tanpa biaya,” ujar Suhartini sambil mengusap sedikit keringat di dahinya. “Saya berharap kehidupan keluarga kami akan lebih baik setelah tinggal dan bekerja di tempat penempatan. Saya ingin membuktikan pada anak‑anak bahwa kami mampu berjuang dan berhasil di tempat baru.”
Peserta transmigrasi seperti Suhartini bukan hanya sekadar rombongan yang akan berpindah tempat tinggal. Mereka adalah representasi dari harapan ribuan warga Jawa Timur yang percaya bahwa program keberangkatan ini bisa menjadi tiket bagi perbaikan ekonomi keluarga, sekaligus pilihan strategis untuk mengatasi tantangan kehidupan di daerah asal.
Program transmigrasi Indonesia sendiri telah melalui transformasi kebijakan yang signifikan. Tidak lagi sekadar memindahkan warga dari satu wilayah ke wilayah lain seperti di masa lalu, tetapi kini dirancang lebih komprehensif dan berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah penempatan. Transformasi ini dikenal dengan pendekatan 5T, yang merupakan akronim dari Trans Tuntas, Translok (Transmigrasi Lokal), Trans Karya Nusantara, Trans Patriot, dan Trans Gotong Royong — semuanya dirancang untuk memberikan pendekatan lebih holistik terhadap pembangunan wilayah baru.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hadir dan memberikan sambutan hangat pada acara keberangkatan tersebut. Ia menyampaikan bahwa pemprov menyambut dengan antusias kebijakan transmigrasi berbasis 5T yang sangat relevan dengan tantangan pembangunan saat ini. Menurutnya, transmigrasi saat ini bukan sekadar soal perpindahan populasi, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam pembangunan sumber daya manusia, pengembangan ekonomi, dan aspek sosial di daerah penempatan.
“Program ini memberikan harapan baru bahwa transmigrasi tidak hanya soal perpindahan penduduk, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia, ekonomi, dan sosial yang berkelanjutan,” kata Khofifah dalam sambutannya, disambut tepuk tangan peserta dan keluarga mereka.
Salah satu elemen utama pendekatan baru ini adalah Translok, atau Transmigrasi Lokal, yang bertujuan memberdayakan masyarakat sekitar sebagai tuan rumah pembangunan kawasan transmigrasi. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan simbiosis positif antara pendatang dan masyarakat setempat, membangun harmoni sosial sekaligus meningkatkan produktivitas wilayah tersebut. Selanjutnya, Trans Karya Nusantara menekankan penciptaan lapangan kerja dan kemandirian ekonomi bagi para transmigran di daerah penempatan.
Baca Juga:
9 Alasan Wajib Mandi Pagi: Lebih dari Sekadar Bersih
Selain itu, Trans Patriot difokuskan pada penguatan sumber daya manusia unggul melalui program beasiswa pendidikan di kawasan transmigrasi, serta menyiapkan pendamping yang memastikan proses adaptasi dan pembelajaran berjalan baik. Pendekatan tersebut bertujuan untuk membangun masyarakat transmigran yang tidak hanya bekerja secara fisik di lahan baru, tetapi juga memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.
Tidak kalah pentingnya adalah Trans Gotong Royong, yang menekankan kolaborasi lintas kementerian, lembaga pemerintah daerah, hingga sektor swasta untuk melakukan revitalisasi kawasan transmigrasi. Pendekatan kolaboratif ini tidak hanya memaksimalkan potensi sumber daya yang ada, tetapi juga menciptakan jaringan pendukung yang kuat untuk keberhasilan program di berbagai daerah penempatan.
Khususnya pada tahun 2025 ini, para transmigran Jawa Timur akan ditempatkan di tiga wilayah yang berbeda, masing‑masing memiliki potensi dan tantangan uniknya sendiri. Lokasi pertama adalah Desa Taramanu Tua di Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat. Kemudian SP Lagading di Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan, dan terakhir Waleh SP.3 di Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. Setiap wilayah penempatan diharapkan tidak hanya menjadi tempat tinggal baru, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan lahan, usaha pertanian, dan kegiatan perekonomian lain yang sesuai dengan karakter wilayah masing‑masing.
Para transmigran nantinya akan mendapatkan fasilitas yang cukup komprehensif. Mereka memperoleh rumah sebagai tempat tinggal, satu hektare lahan untuk diolah, peralatan pertanian, bibit tanaman unggulan, serta jaminan hidup selama satu tahun pertama. Dukungan awal tersebut dimaksudkan agar transmigran memiliki modal dan waktu untuk menyesuaikan diri serta mulai membangun usaha produktif di lahan barunya.
Sebagai tambahan dari pembekalan teknis, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur juga menyampaikan bahwa program pelatihan khusus turut disertakan dalam transformasi transmigrasi. Sebanyak tiga kepala keluarga dari rombongan ini akan mengikuti pelatihan Komponen Cadangan (Komcad) di Bandung selama dua bulan penuh. Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kemampuan tanggap darurat, sekaligus menanamkan disiplin dan keterampilan hidup mandiri yang bisa berguna bagi para transmigran di masa depan. Mereka akan mendapatkan pelatihan setara pendidikan militer dalam kategori seperti Tamtama, Bintara, hingga Perwira, sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jatim, Sigit Priyanto, menegaskan bahwa program transmigrasi tetap menjadi salah satu prioritas strategis pemerintah dalam pembangunan nasional. Menurutnya, animo masyarakat Jawa Timur terhadap transmigrasi masih sangat tinggi dan menunjukan bahwa banyak warga yang melihat hal ini sebagai peluang kehidupan yang lebih baik.
“Masyarakat masih menaruh harapan besar pada transmigrasi sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik,” tuturnya.
Bagi 55 orang transmigran ini, keberangkatan kali ini bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi juga perjalanan menuju masa depan yang lebih cerah, dengan segala tantangan dan peluang yang menanti di lokasi baru. Tekad mereka untuk berhasil adalah cerminan semangat juang yang tidak mudah padam, walaupun harus meninggalkan kampung halaman dan keluarga.
Baca Juga:
31 Pejabat Fungsional Pemprov Banten Dilantik, Perkuat Birokrasi Profesional dan Berbasis Kinerja
Dengan dukungan kebijakan yang komprehensif, harapan kuat dari pemerintah daerah, serta kesempatan belajar dan berkembang yang diberikan oleh program transmigrasi, para peserta kini melangkah ke masa depan baru — membawa mimpi kecil demi perubahan besar dalam kehidupan mereka dan keluarga.









