PROLOGMEDIA – Minum air adalah aktivitas sederhana yang kita lakukan berkali-kali setiap hari tanpa berpikir panjang. Saat haus menyerang di tengah aktivitas yang padat, banyak orang cenderung mengambil gelas dan langsung meneguknya sambil berdiri. Mungkin hanya membutuhkan beberapa detik, tetapi kebiasaan kecil itu ternyata memiliki dampak yang lebih besar pada kesehatan tubuh daripada yang sering kita sadari.
Kebiasaan minum sambil berdiri acapkali disepelekan karena tampak tidak berbahaya. Bahkan bagi sebagian besar orang, cara minum ini terasa alami dan praktis, terutama ketika waktu terbatas atau sedang dalam perjalanan. Namun, tubuh manusia bukan sekadar pipa pasif yang hanya mengalirkan air dari mulut ke lambung. Postur tubuh saat minum ternyata memengaruhi cara tubuh menyerap cairan, serta dapat berdampak pada berbagai sistem organ dalam tubuh — termasuk pencernaan, saraf, sendi, bahkan keseimbangan cairan tubuh itu sendiri.
Mari kita telusuri satu per satu bagaimana kebiasaan minum sambil berdiri dapat memberikan konsekuensi yang tidak terduga, meskipun dilakukan secara rutin setiap hari.
Salah satu efek pertama yang dirasakan ketika seseorang minum sambil berdiri adalah gangguan pada penyerapan cairan dalam tubuh. Ketika tubuh dalam posisi berdiri, gravitasi membuat air mengalir sangat cepat melalui kerongkongan ke lambung. Akibatnya, proses absorpsi air menjadi kurang efisien dibandingkan ketika tubuh dalam posisi duduk yang lebih stabil dan rileks. Karena air “terlalu cepat” masuk, sebagian besar cairan mungkin hanya lewat tanpa sepenuhnya terserap, sehingga dalam jangka panjang tubuh bisa mengalami ketidakseimbangan hidrasi yang membuat seseorang tetap merasa haus walau telah minum cukup banyak. Akibatnya, kebutuhan tubuh akan air tidak selalu terpenuhi secara optimal, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan pencernaan atau mudah mengalami dehidrasi.
Selain itu, kebiasaan minum sambil berdiri turut dapat memicu heartburn dan masalah asam lambung. Dalam posisi berdiri, otot-otot di antara kerongkongan dan lambung berada dalam posisi yang tidak sepenuhnya stabil. Ketika air masuk terlalu cepat, otot pengunci lambung bisa melemah sesaat sehingga asam lambung berpotensi naik kembali ke kerongkongan. Hal ini menimbulkan sensasi tidak nyaman, seperti rasa panas terbakar di dada atau rasa penuh di perut. Bagi orang yang sudah memiliki riwayat gangguan asam lambung atau GERD, kondisi ini bisa memperburuk gejala dengan cepat.
Dampak berikutnya yang sering dilupakan adalah risiko tersedak yang lebih tinggi. Tubuh memiliki sistem koordinasi rumit antara pernapasan dan proses menelan. Dalam posisi berdiri, sudut antara saluran pernapasan dan saluran menelan tidak selurus saat duduk. Ketika seseorang minum dengan tergesa-gesa, air bisa “tersesat” ke jalur pernapasan, menyebabkan batuk atau tersedak. Meski hanya berlangsung beberapa detik, frekuensi terjadinya tersedak dapat membuat tenggorokan menjadi iritasi dan menimbulkan rasa tidak nyaman.
Baca Juga:
Kunjungan Ratu Máxima ke Indonesia: Misi Besar Inklusi Keuangan dan Pertemuan dengan Presiden Prabowo
Tidak hanya sistem pencernaan dan pernapasan yang terdampak, sendi tubuh juga ikut merasakan beban tambahan. Berdiri menempatkan seluruh berat tubuh pada sendi lutut, betis, dan pergelangan kaki. Ketika seseorang membungkuk sedikit untuk minum sambil berdiri, distribusi beban menjadi tidak merata. Jika kebiasaan itu dilakukan setiap hari, terutama dalam jangka panjang, dapat menimbulkan rasa lelah, pegal, atau kaku di bagian lutut dan sendi lainnya. Ini menjadi lebih terasa pada orang yang sering berdiri lama selama aktivitas sehari-hari, seperti pekerja lapangan, pelayan restoran, atau mahasiswa yang menunggu kelas.
Selain itu, posisi berdiri saat minum juga memengaruhi kerja sistem saraf parasimpatis. Sistem saraf parasimpatis bertanggung jawab menjaga tubuh dalam keadaan tenang dan mendukung proses pencernaan yang optimal. Saat duduk, tubuh berada dalam kondisi santai sehingga sistem parasimpatis dapat bekerja maksimal dalam menyerap cairan dan nutrisi. Namun saat berdiri, tubuh berada dalam mode “aktif”, fokus menjaga keseimbangan otot dan postur tubuh daripada pada proses pencernaan dan penyerapan. Akibatnya, air yang diminum tidak diproses seefisien saat tubuh dalam keadaan rileks.
Tak kalah penting, posisi berdiri saat minum dapat menyebabkan ketegangan otot dan pusing ringan. Ketika seseorang menunduk sambil minum, otot-otot di leher, bahu, dan punggung harus bekerja lebih keras untuk menyesuaikan posisi tubuh. Tekanan tambahan pada leher dan bahu bisa menyebabkan ketegangan otot, sementara menelan air terlalu cepat juga dapat mengganggu aliran oksigen sesaat, memicu rasa pusing ringan. Ini sering terjadi pada orang yang minum dalam jumlah banyak sekaligus atau ketika mereka sangat haus setelah beraktivitas berat.
Lebih jauh lagi, kebiasaan minum sambil berdiri juga bisa berdampak pada keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Ketika air masuk terlalu cepat, ginjal perlu bekerja lebih keras untuk menyaringnya. Proses yang terlalu cepat ini dapat memengaruhi keseimbangan elektrolit seperti natrium, kalium, dan magnesium, yang memainkan peran penting dalam fungsi otot dan sistem saraf — termasuk detak jantung. Ketidakseimbangan elektrolit dapat menyebabkan gejala seperti kram otot, rasa lemas, atau kurang bertenaga.
Walaupun kebiasaan ini tampaknya sepele, dampaknya terasa di banyak aspek kesehatan. Dari pencernaan yang melambat, asam lambung yang naik, hingga risiko ketegangan otot dan gangguan hidrasi, semuanya menunjukkan bahwa cara kita minum air pun sebaiknya diperhatikan.
Para ahli di bidang kesehatan sering menyarankan agar kita minum air sambil duduk dengan posisi tubuh yang rileks, menyesuaikan ritme napas, dan mengambil tegukan kecil secara perlahan. Kebiasaan sederhana tersebut tidak hanya memastikan tubuh dapat menyerap cairan dengan lebih efektif, tetapi juga membantu mengurangi potensi masalah kesehatan yang tidak diinginkan. Dengan menyisihkan beberapa detik ekstra untuk duduk saat minum, kamu bukan hanya sekadar menghidrasi tubuh — tetapi juga menjaga kesehatan pencernaan, saraf, sendi, dan keseimbangan tubuh secara keseluruhan.
Baca Juga:
APDESI Merah Putih Banten Dorong KDMP, Ekonomi Desa Diprediksi Tumbuh Pesat
Oleh karena itu, meskipun kegiatan minum sambil berdiri terlihat sepele dalam rutinitas sehari-hari, sebaiknya kita mulai membiasakan diri untuk mengubah sedikit cara tersebut demi manfaat jangka panjang. Mengingat tubuh kita berfungsi sebagai satu kesatuan sistem yang kompleks, perhatian kecil pada cara kita minum saja bisa menjadi langkah awal menuju gaya hidup yang lebih sehat dan lebih mindful.









