Menu

Mode Gelap

Blog · 19 Nov 2025 12:53 WIB

Kecanduan Gawai Ancam Anak: Kisah Pilu dari RSJ dan Upaya Penyelamatan


 Kecanduan Gawai Ancam Anak: Kisah Pilu dari RSJ dan Upaya Penyelamatan Perbesar

PROLOGMEDIA – Di balik gemerlap layar dan dunia digital yang memikat, tersembunyi sebuah ancaman laten yang semakin mengkhawatirkan: kecanduan gawai pada anak-anak. Fenomena ini tidak hanya merenggut waktu dan perhatian mereka, tetapi juga menggerogoti kesehatan mental dan emosional, bahkan memaksa sebagian anak untuk mencari pertolongan di rumah sakit jiwa.

Di sebuah ruang tunggu yang tenang, di lantai tiga Rumah Sakit Soeharto Heerdjan, Jakarta, Sartini duduk dengan cemas, menggenggam tas kecilnya erat-erat. Di sebelahnya, seorang anak laki-laki bernama Hasbi, 12 tahun, menunduk dalam-dalam, matanya terpaku pada layar ponsel, tenggelam dalam dunia gim yang seolah tak terpisahkan dari dirinya.

“Dia bisa main seharian itu,” ujar Sartini dengan nada prihatin.

Tiga tahun terakhir, lantai tiga rumah sakit ini telah menjadi semacam rumah kedua bagi Sartini dan Hasbi. Perjalanan mereka dimulai pada tahun 2022, ketika seorang guru di sekolah Hasbi memberikan saran yang mengejutkan Sartini: terapi di rumah sakit jiwa.

“Saya kaget bukan main, tapi gurunya meyakinkan saya bahwa ini bukan berarti anak saya gila. Di sini adalah pusatnya untuk masalah jiwa,” kenangnya.

Saran itu muncul setelah Hasbi menunjukkan kesulitan yang berulang dalam berkonsentrasi saat belajar. Menulis satu halaman tugas saja bisa membuatnya marah dan frustrasi. Bahkan, di kelas, ia pernah membanting temannya karena merasa terprovokasi.

Dengan hati yang berat, Sartini mengikuti saran guru tersebut. Ia mengurus rujukan BPJS, pergi ke puskesmas, dan akhirnya membawa Hasbi ke RS Soeharto Heerdjan. Selama lima bulan pertama, mereka bertemu dengan dokter sebulan sekali. Setelah itu, Hasbi mulai mengikuti terapi daycare, sebuah program terapi perilaku yang dirancang untuk mengajarkan kemandirian sederhana, kesabaran dalam berbagi mainan, kemampuan mencuci piring sendiri, atau mengingat tiga barang saat disuruh berbelanja di warung. Perlahan tapi pasti, emosi Hasbi mulai mereda dan ia menjadi lebih stabil.

Sartini masih ingat dengan jelas satu fase yang sangat berat, ketika dokter menjelaskan tentang obat yang harganya Rp 30 ribu sebutir, yang berarti hampir Rp 900 ribu sebulan. Jumlah yang terdengar sangat besar, meskipun Sartini tahu bahwa semua biaya tersebut akan ditanggung oleh BPJS.

“Setelah minum obat itu, dia mulai lebih stabil,” kata Sartini.

Kini, Hasbi jarang meledak-ledak emosinya. Bahkan, jika ia marah, Sartini sudah tahu cara menghadapinya: bukan dengan memarahinya balik, melainkan dengan memeluknya dengan penuh kasih sayang.

Kehidupan mereka berjalan dengan ritme yang padat dan teratur. Sartini bekerja selama lima jam setiap hari. Suaminya bekerja penuh waktu. Setelah pulang sekolah, Hasbi seringkali sendirian di rumah, dan layar ponsel menjadi teman setianya. Ia menghabiskan waktu dengan bermain gim online, gim gacha, menonton YouTube, dan bahkan mulai merekam konten sendiri.

Dokter telah mengingatkan Sartini untuk membatasi penggunaan gawai pada Hasbi, maksimal 1-2 jam sehari. “Cuma memang susah sekali,” katanya, tanpa berusaha menyembunyikan kesulitan yang ia hadapi.

Untuk transportasi ke rumah sakit, Sartini harus membayar sendiri dengan menggunakan ojek online. Jika jadwal kontrol Hasbi bertepatan dengan hari sekolah, guru Hasbi sudah memahami situasinya.

“Gurunya juga punya anak dengan masalah yang sama. Makanya saya percaya waktu dia memberikan saran itu,” ujarnya.

Selama tiga tahun ini, Sartini selalu datang sendiri, mengantar sendiri, dan mendengarkan penjelasan dokter sendiri. Ia merasa harus berjuang sendirian untuk membantu putranya.

“Saya terus berjuang sendiri,” ucapnya pelan, namun dengan tekad yang kuat.

Namun, ia tidak menyesali keputusannya. Di lantai tiga gedung psikiatri itu, Hasbi perlahan tumbuh menjadi anak yang lebih tenang, lebih mampu mengikuti dunia di sekelilingnya, dan tetap setia dengan dunianya sendiri, yaitu gim online dan ponsel di genggamannya.

Pengalaman serupa juga dialami oleh Rona, seorang ibu muda asal Blitar, Jawa Timur. Ia masih ingat dengan jelas malam-malam panjang yang melelahkan, ketika putranya yang baru disapih hanya bisa ditenangkan dengan satu benda, yaitu tablet. Pada usia 2 tahun, anaknya bisa terjaga hingga Subuh, menatap layar tablet tanpa jeda. Ia bisa menangis, tantrum, dan memukul barang-barang selama berjam-jam, hingga akhirnya tertidur karena kelelahan.

“Saya sama suami sampai harus gantian jaga,” kata perempuan berusia 32 tahun itu.

Awalnya, gawai dianggap sebagai alat transisi yang memudahkan proses menyapih. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: ritme tidur anak menjadi berantakan, matanya sering belekan, dan hidup mereka seolah terperangkap dalam siklus layar yang tak berujung. Rona, yang sehari-hari bekerja sebagai psikolog anak, tidak membutuhkan waktu lama untuk menyadari apa yang sedang terjadi: kecanduan gawai.

Ketika akhirnya tablet disembunyikan di lemari, dua minggu pertama terasa seperti neraka. Namun, setelah enam bulan bebas gawai, situasi mulai membaik. Hingga usia 3 tahun lewat, ketika kebosanan setelah pulang sekolah kembali membuka celah bagi ponsel.

Konten yang ditonton anaknya kini lebih cepat dan repetitif, yaitu shorts YouTube anak. Dampaknya sangat jelas: fokusnya menurun drastis, dan nilai sekolahnya turun menjadi ‘B’ hampir di semua mata pelajaran.

“Tes mengaji saja susah sekali fokusnya,” ujarnya dengan nada prihatin.

Pada usia 4 tahun, anaknya memang sudah tidak tantrum seperti dulu. Namun, Rona tahu bahwa pola ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut. Ia kini merancang hari-hari anaknya agar penuh dengan kegiatan positif, seperti olahraga renang, bermain di luar rumah, bermain dengan anak-anak tetangga, hingga menyimpan ponsel di rumah nenek.

“Biar capeknya positif,” katanya, berharap anaknya bisa menyalurkan energinya ke hal-hal yang lebih bermanfaat.

Di Poli Jiwa Anak dan Remaja RSJ Dr. Soeharto Heerdjan, adiksi gawai telah menjadi wajah baru bagi pasien anak. Dalam dua bulan terakhir, dr. Isa Multazam Noor, MSc, SpKJ (K), telah menangani rata-rata 2-3 rawat inap per minggu, mayoritas disebabkan oleh gim online yang mendorong anak untuk bermain terus-menerus tanpa henti.

Usia pasien termuda adalah 10 tahun. Mayoritas adalah remaja awal, tetapi ada juga siswa kelas 9 yang datang dengan masalah kecanduan pornografi. Namun, gim online tetap menjadi penyebab yang paling dominan.

Proses perawatan dimulai dengan asesmen lengkap. Anak menjalani pemeriksaan dokter, wawancara dengan orang tua, dan psikotes untuk memetakan pola pikir serta kemampuan kontrol diri.

Menurut dr. Isa, sebagian besar pasien datang berawal dari laporan sekolah. Biasanya, guru atau konselor adalah orang pertama yang menyadari perubahan perilaku pada anak, seperti menjadi lebih impulsif, sulit diatur, atau mulai membahayakan diri sendiri dan orang lain.

“Guru-guru sekarang sudah cukup aware. Mereka yang pertama kali berbicara dengan orang tua, ‘Ini sepertinya butuh ke psikiater anak’,” ujarnya.

Dari situ, orang tua kemudian membawa anak ke RSJ dengan rujukan.

“Kebanyakan memang referral dari sekolah, baik guru maupun psikolognya,” kata dr. Isa.

Sebagian besar kasus muncul dari pola yang serupa: kedua orang tua bekerja, minim pengawasan, anak memalsukan umur di aplikasi atau gim, dan sekolah akhirnya menjadi pihak pertama yang menghubungi orang tua.

“Kami ini rujukan terakhir. Biasanya sudah membahayakan,” tegasnya.

Baca Juga:
5 Restoran Legendaris Jakarta yang Bikin Antre Panjang: Cita Rasa Tak Terlupakan!

Kasus yang lebih berat, seperti anak yang agresif, kehilangan kontrol, jam tidur hancur, dirawat inap selama 5–10 hari di ruang anak. Di sini, gawai diambil total. Jadwal mereka dipenuhi dengan aktivitas fisik, terapi seni, sesi konseling, hingga latihan regulasi emosi. Banyak yang mengalami ‘gejala putus gawai’, seperti gelisah, marah, atau menangis pada hari-hari awal.

Untuk pasien yang tidak memerlukan rawat inap, tetapi tetap harus dipantau dengan ketat, RSJ menyediakan daycare Kuas Biru, semacam sekolah kecil. Anak datang pagi, lalu mengikuti kegiatan bermain motorik, kelas Lego, menggambar, sesi bicara, dan terapi perilaku. Di sini, mereka belajar kembali mengenali batasan, kapan harus duduk, kapan harus mengikuti instruksi, dan bagaimana fokus tanpa distraksi layar.

Sekitar 80 persen pasien menggunakan BPJS, termasuk untuk biaya obat penunjang, tes, hingga terapi.

Dr. Isa menyebutkan bahwa pola kasus ini konsisten: anak tidak bisa lepas dari gawai, tidur larut malam, tidak fokus di sekolah, nilai merosot, dan sering berbohong untuk tetap bermain, termasuk memalsukan umur demi membuka fitur atau konten yang seharusnya terkunci.

“Orang tuanya sering tidak tahu sama sekali,” ujarnya.

Lonjakan adiksi gawai mulai terasa sejak pandemi. Kebiasaan ini berlanjut karena minimnya ruang bermain yang aman dan kurangnya pengawasan digital di rumah.

“Selama lingkungan tidak menyediakan ruang bermain, mereka pasti akan kembali ke HP,” kata dr. Isa.

Edwin Hidayat, Dirjen Ekosistem Digital Kominfo, mengatakan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari global movement. Menurutnya, internet bukanlah persoalan utama, melainkan konten-konten di dalamnya yang bisa menjadi masalah.

“Konten-konten internet itu banyak manfaatnya, tapi ada juga konten-konten ataupun aplikasi yang mungkin tidak tepat digunakan untuk anak-anak dan remaja,” kata Edwin.

Indonesia mengikuti perkembangan ini melalui PP Tunas untuk media sosial serta pembatasan usia gim. IGRS atau Indonesia Game Rating System, yang akan berlaku mulai 1 Januari 2026, diluncurkan untuk mengatur akses berdasarkan usia.

“Gim online itu tidak jadi konsumsi semua umur,” tegas Edwin.

Aturan ini menyasar seluruh ekosistem, dari penyedia platform hingga pengguna. Penyelenggara sistem elektronik (PSE) wajib mencantumkan klasifikasi usia, sedangkan masyarakat diminta menaati batas tersebut.

“Jangan misalkan gim untuk 15 tahun ke atas, orang tuanya malah memberikan ke anak yang umur 5 tahun,” kata Edwin.

Sanksi fokus pada kepatuhan PSE. Gim yang tidak mencantumkan batas umur tidak boleh beredar, dan klasifikasi yang tidak sesuai wajib diperbaiki setelah verifikasi. Untuk orang tua, Kominfo menekankan tanggung jawab bersama.

Soal kecanduan gawai yang kini ditangani fasilitas kesehatan, Kominfo hanya memantau dari sisi konten. “Kalau masalah kesehatan, tentu ranahnya di Kementerian Kesehatan,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya edukasi publik dan literasi digital.

Kominfo juga menyiapkan kewajiban pencantuman label umur untuk gim yang beredar di Indonesia mulai tahun depan. Di ranah media sosial, PP Tunas sudah mewajibkan verifikasi KTP bagi pengguna baru.

“Kalau tidak punya KTP, ya tidak bisa,” kata Edwin.

Meskipun edukasi terus dilakukan, Kominfo mengakui bahwa pengawasan tetap bergantung pada keluarga dan komunitas.

“Kami sudah berusaha sosialisasi dan edukasi. Nah, ini kan harus komunitas juga berperan,” tandasnya.

Kisah Sartini dan Rona hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak keluarga yang berjuang melawan kecanduan gawai pada anak-anak mereka. Di tengah era digital yang semakin maju, melindungi anak-anak dari bahaya kecanduan gawai menjadi tanggung jawab bersama orang tua, sekolah, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat.

Kisah-kisah pilu seperti yang dialami Hasbi dan putra Rona seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua tentang betapa seriusnya dampak kecanduan gawai pada anak-anak. Kecanduan ini tidak hanya mengganggu perkembangan kognitif dan emosional mereka, tetapi juga dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik, seperti gangguan tidur, masalah penglihatan, dan obesitas.

Lebih dari itu, kecanduan gawai juga dapat merusak hubungan sosial anak dengan keluarga dan teman-temannya. Mereka cenderung lebih asyik dengan dunia maya daripada berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar keterampilan sosial yang penting untuk kehidupan di masa depan.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengambil langkah-langkah pencegahan sejak dini.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Batasi waktu penggunaan gawai: Tetapkan aturan yang jelas tentang berapa lama anak boleh menggunakan gawai setiap harinya. Pastikan aturan ini ditegakkan secara konsisten.

2. Pilih konten yang sesuai: Awasi konten yang diakses anak di gawai. Pastikan konten tersebut sesuai dengan usia dan nilai-nilai yang ingin Anda tanamkan pada anak.

3. Ciptakan ruang bermain yang aman: Sediakan ruang bermain yang aman dan menarik bagi anak. Ajak anak untuk bermain di luar rumah, berolahraga, atau melakukan aktivitas kreatif lainnya yang dapat mengalihkan perhatian mereka dari gawai.

4. Berikan contoh yang baik: Orang tua juga harus memberikan contoh yang baik dalam penggunaan gawai. Jangan terlalu sering menggunakan gawai di depan anak, dan tunjukkan bahwa Anda juga menikmati aktivitas lain selain bermain gawai.

5. Komunikasi yang terbuka: Bangun komunikasi yang terbuka dengan anak tentang bahaya kecanduan gawai. Ajarkan mereka tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata.

Selain peran orang tua, sekolah juga memiliki peran penting dalam mencegah kecanduan gawai pada anak-anak. Sekolah dapat mengadakan program edukasi tentang penggunaan gawai yang sehat, serta menyediakan kegiatan ekstrakurikuler yang menarik untuk mengalihkan perhatian anak dari gawai.

Pemerintah juga perlu mengambil langkah-langkah konkret untuk melindungi anak-anak dari bahaya kecanduan gawai. Pemerintah dapat memperketat pengawasan terhadap konten-konten negatif di internet, serta memberikan dukungan kepada keluarga yang memiliki anak dengan masalah kecanduan gawai.

Namun, yang terpenting adalah kesadaran dan kepedulian dari seluruh elemen masyarakat. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan aman bagi anak-anak kita, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Kecanduan gawai memang merupakan masalah yang kompleks dan memerlukan penanganan yang serius. Namun, dengan kerjasama dan komitmen dari semua pihak, kita dapat melindungi anak-anak kita dari bahaya kecanduan gawai dan memberikan mereka kesempatan untuk meraih masa depan yang cerah.

Baca Juga:
Jagoan Masak Ikan: Trik Kilat Bersihkan Sisik, Dapur Kinclong Seketika!

Ingatlah, anak-anak adalah aset berharga bagi bangsa. Jangan biarkan mereka terperangkap dalam dunia maya yang memenjarakan. Mari kita lindungi mereka, kita bimbing mereka, dan kita berikan mereka kesempatan untuk tumbuh dan berkembang menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas dan berakhlak mulia.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

17 Januari 2026 - 19:40 WIB

Ancaman Spesies Asing Invasif Menggerus Ekosistem Baluran dan Ujung Kulon

3 Januari 2026 - 18:51 WIB

Peringati Hari Ibu, MY ACADEMY Perkuat Peran Ibu sebagai Entrepreneur Modern

24 Desember 2025 - 08:46 WIB

7 Sisa Bahan Makanan yang Bisa Diubah Jadi Kompos Bergizi untuk Tanaman

23 Desember 2025 - 14:56 WIB

Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

23 Desember 2025 - 00:59 WIB

Trending di Blog