PROLOGMEDIA – Di tengah upaya memulihkan dan menguatkan sektor pariwisata Indonesia pascapandemi serta menjelang periode liburan akhir tahun, Kementerian Pariwisata terus bergerak agresif untuk menarik perhatian pasar wisatawan internasional. Salah satu fokus strategi terkini adalah menggaet wisatawan dari negara tetangga yang dikenal memiliki potensi besar sebagai pasar wisatawan premium, yakni Singapura. Aktivitas promosi tidak dilakukan secara pasif, tetapi dengan pendekatan langsung melalui kegiatan yang konkret, nyata, dan dirancang untuk menciptakan efek jangka panjang terhadap persepsi dan pilihan destinasi wisatawan asing.
Pada awal Desember 2025, Kementerian Pariwisata menggelar kegiatan perjalanan wisata pengenalan (famtrip) yang membawa serta sejumlah perwakilan dari agen perjalanan dan operator tur asal Singapura untuk merasakan sendiri pengalaman berwisata di bagian utara dan barat Pulau Bali. Program ini diberi tajuk “Hidden Bali: Serenity, Nature and Sustainability”, sebuah nama yang bukan sekadar estetika, tetapi mewakili visi Kemenpar untuk memperkenalkan sisi Bali yang berbeda dari citra ikonik yang selama ini melekat di benak dunia internasional. Fokusnya bukan hanya pada pantai dan pesta di selatan Bali, tetapi pada pengalaman yang lebih tenang, lebih alami, dan berkelanjutan.
Kegiatan Famtrip ini berlangsung selama beberapa hari, yakni mulai 8 hingga 12 Desember 2025. Empat agen perjalanan serta operator tur dipilih untuk ikut serta agar dapat melihat, merasakan, dan mengalami secara langsung ragam potensi pariwisata yang ditawarkan oleh Bali Utara dan Bali Barat. Kegiatan tersebut bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi dirancang sebagai sebuah perjalanan yang sarat pengalaman dan peluang: peserta tidak hanya diajak menikmati objek wisata, tetapi juga dipertemukan dengan pelaku usaha pariwisata lokal, untuk membangun jaringan dan membuka peluang kolaborasi bisnis di masa depan.
Dalam sesi business matching yang dilaksanakan di Bali pada 11 Desember 2025, Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara I Kementerian Pariwisata, Dedi Ahmad Kurnia, menekankan bahwa pendekatan kolaboratif seperti famtrip ini merupakan salah satu strategi yang dianggap efektif untuk menghubungkan pasar sumber wisatawan dengan destinasi baru yang potensial. Ia mengatakan bahwa pihaknya berharap kegiatan ini dapat mendorong lahirnya paket-paket wisata yang segar dan inovatif, yang pada akhirnya akan memperluas pilihan destinasi Bali di mata wisatawan Singaporean di luar kawasan Bali Selatan yang selama ini sudah sangat terkenal.
“Selain diajak menikmati pengalaman berwisata, peserta famtrip dari Singapura juga dipertemukan dengan pelaku usaha pariwisata lokal untuk bertukar ide, membangun jaringan, dan menjajaki peluang kolaborasi,” ujar Dedi dalam kesempatan tersebut. Menurutnya, inilah kekuatan dari famtrip: ia bukan hanya mempromosikan destinasi, tetapi juga membangun ekosistem yang saling menguntungkan antara agen wisata internasional dan pelaku industri pariwisata lokal di Indonesia.
Wilayah Bali Utara dan Bali Barat sendiri menawarkan beragam pengalaman wisata yang unik. Bali Utara terkenal dengan suasana alamnya yang tenang, panorama pegunungan, dan pantai yang masih belum terlalu ramai dikunjungi wisatawan internasional. Sementara Bali Barat mempunyai kawasan Bali Barat National Park yang kaya dengan keanekaragaman hayati serta lanskap alam yang memukau. Selain menawarkan wisata alam yang masih asri, kedua wilayah tersebut juga punya potensi pada segmen wisata kebugaran, wisata bahari, wisata gastronomi dengan makanan lokalnya yang autentik, serta pengalaman budaya yang khas.
Baca Juga:
Kebiasaan Minum Sambil Berdiri yang Sering Dianggap Sepele, Ternyata Berdampak Besar bagi Kesehatan Tubuh
Pendekatan ini menjadi sangat relevan karena tren wisatawan global saat ini menunjukkan bahwa semakin banyak pelancong yang mencari pengalaman yang autentik, lebih mendalam dan bermakna, serta menyoroti aspek keberlanjutan dan kesejahteraan lokal. Wisatawan tidak lagi hanya datang untuk sekadar berfoto di tempat-tempat ikonik, tetapi juga ingin merasakan budaya setempat, mengetahui bagaimana komunitas lokal hidup dan memaknai lingkungan mereka, serta menikmati pengalaman yang menjaga kelestarian alam dan budaya.
Data kunjungan wisatawan mancanegara menunjukkan bahwa Singapura merupakan salah satu pasar penting bagi Indonesia. Berdasarkan pencatatan statistik terbaru, kunjungan wisatawan dari Singapura mencapai hampir sepuluh persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia hingga Oktober 2025. Angka kunjungan secara akumulatif dari bulan Januari hingga Oktober 2025 mencatat lebih dari satu juta wisatawan asal Singapura yang memasuki wilayah Indonesia, menunjukkan bahwa pasar ini memiliki peran signifikan dalam kontribusi total arus wisatawan asing.
Namun, menurut pandangan Kementerian Pariwisata, angka tersebut masih memiliki ruang untuk ditingkatkan jika strategi pemasaran dilakukan dengan pendekatan yang lebih targeted dan berbasis pengalaman seperti famtrip ini. Alih-alih hanya mempromosikan Bali Selatan yang sudah sangat dikenal, mengangkat potensi Bali Utara dan Bali Barat adalah upaya untuk meratakan persebaran wisatawan di seluruh kawasan Bali, sekaligus mengurangi tekanan berlebihan pada satu titik wisata saja. Strategi ini sejalan dengan konsep pariwisata berkelanjutan yang selama ini digaungkan oleh pelaku pariwisata nasional maupun internasional.
Tak kalah penting, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dolly Sukma Oktiva Askara, turut mengapresiasi inisiatif ini dan menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk berkolaborasi dalam kegiatan promosi. Menurutnya, Buleleng selama ini memiliki banyak objek wisata menarik yang belum banyak dikenal oleh wisatawan mancanegara, meski potensi alam dan budayanya sangat besar. Keterbatasan anggaran daerah bukan menjadi penghalang utama; yang lebih penting adalah sinergi dengan berbagai pihak untuk mengangkat destinasi tersebut ke panggung dunia.
Dari berbagai rangkaian kegiatan ini terlihat jelas bahwa Kementerian Pariwisata bekerja dengan pendekatan yang komprehensif dan strategis. Tidak hanya bergerak di ranah promosi secara konvensional, tetapi merangkul pelaku usaha, menghubungkan mereka dengan agen internasional, serta membuka jalur komunikasi dan kolaborasi yang produktif. Semua ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah wisatawan dari pasar strategis seperti Singapura sekaligus memperkenalkan Bali lebih luas dari sisi keberagaman destinasi.
Langkah yang diambil ini tidak hanya berdampak pada sektor pariwisata saja, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi lokal, penciptaan lapangan kerja, dan pemberdayaan komunitas di wilayah-wilayah yang selama ini kurang mendapat sorotan. Dengan semakin banyak wisatawan yang datang ke Bali Utara dan Bali Barat, dampak positif terhadap usaha kecil menengah di sektor pariwisata, seperti homestay, kafe lokal, pandu wisata, kerajinan tradisional, serta kegiatan budaya lokal, dapat semakin nyata dirasakan oleh masyarakat setempat.
Baca Juga:
NTT: Lumbung Energi Surya Indonesia yang Diakui Dunia
Program famtrip ini menegaskan bahwa pariwisata tidak hanya soal angka kedatangan, tetapi tentang menciptakan pengalaman berkelanjutan yang memberikan manfaat luas—bagi wisatawan, pelaku industri pariwisata, hingga masyarakat lokal yang menjadi tuan rumah. Pendekatan seperti inilah yang diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mengembangkan pariwisata Indonesia ke depan, menjadikan destinasi-destinasi baru semakin dikenal tanpa mengorbankan identitas budaya maupun kelestarian alam.









