SOLO – Suasana duka di Keraton Surakarta akibat wafatnya SISKS Pakubuwono XIII tampaknya tak mampu meredam bara perseteruan internal keluarga kerajaan. Jelang pelantikan raja baru yang dijadwalkan pada Sabtu (15/11), konflik perebutan takhta justru semakin meruncing, melibatkan dua putra-putri mendiang raja. KGPH Hangabehi alias Mangkubumi, putra sulung Pakubuwono XIII, secara resmi dinobatkan sebagai Pangeran Pati atau penerus takhta keraton pada Kamis (13/11).
Penobatan ini dilakukan dalam sebuah rapat keluarga besar Keraton Surakarta di Sasana Handrawina. Rapat tersebut dihadiri oleh perwakilan trah raja-raja Keraton Surakarta, Sentana Dalem, dan paguyuban-paguyuban binaan Keraton.
Beberapa tokoh penting juga tampak hadir, termasuk Raja ad interim Keraton Surakarta, KG Panembahan Agung Tedjowulan, GRAy Koes Moertiyah Wandansari alias Gusti Moeng, dan GPH Suryo Wicaksono atau biasa disapa Gusti Nenok.
“Pada saat itu ada pelantikan. Pelantikan putranya Pakubuwana XIII yaitu Gusti Mangkubumi sebagai Pangeran Pati atau calon raja,” kata Nenok usai pertemuan.
Namun, suasana di Sasana Handrawina sempat memanas usai penobatan Pangeran Pati. GKR Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, anak tertua Pakubuwono XIII, tiba-tiba menyerbu Sasana Handrawina, tempat penobatan digelar.
“Mereka mengatakan bahwa acara ini bertentangan dengan komunikasi internal mereka,” ungkap Nenok.
Timoer secara tegas menolak penobatan adiknya sebagai Pangeran Pati. Ia menuding Hangabehi telah mengkhianati kesepakatan keluarga inti Pakubuwono XIII terkait siapa sosok penerus takhta kerajaan sepeninggal ayahnya.
“Saya cuman sedih saja, Gusti Mangkubumi (KGPH Hangabehi) bisa berkhianat dengan kami putra-putri, kakak-kakak dan adik-adiknya. Itu saja yang saya sesalkan,” kata Timoer dengan nada kecewa.
Timoer bahkan mengungkap isi pertemuan keluarga yang disaksikan oleh tokoh-tokoh penting seperti Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wali Kota Solo Respati Ardi, dan Mantan Wali Kota Solo Teguh Prakosa.
Baca Juga:
Bakar Kalori dengan Jalan Kaki: 30 Menit untuk Sehat dan Bugar!
“Kan kami sudah bicara bahkan di hadapan Gubernur, Bapak Respati dan Bapak Gibran. Kami kan sudah berbicara,” kata Timoer. “Kami sudah bersepakat untuk putra mahkota di mana di situ adalah Pangeran Adipati Anom Hamangkunagoro. Di situ saya sudah menyebutkan itu dan kami sudah sepakat,” imbuhnya.
Timoer berpendapat bahwa rapat yang menetapkan Mangkubumi sebagai penerus takhta kerajaan tidak memenuhi syarat. Ia beralasan rapat tersebut tidak dihadiri keluarga inti Pakubuwana XIII, serta sebagian besar adik-adik Pakubuwana XIII.
“Dari Pihak Pakubuwana XII yang hadir hanya enam, yang dua walk out dari 23 yang diundang. Silakan Anda menilai sendiri apakah ini benar dari segi hukum maupun dari segi adat,” tegasnya.
Di sisi lain, Kanjeng Gusti Panembahan Agung Tedjowulan mengaku merasa dijebak untuk merestui penobatan KGPH Hangabehi alias Mangkubumi menjadi Pangeran Pati atau calon Raja Keraton Surakarta. Tedjowulan mengakui bahwa rapat tersebut digelar atas inisiatifnya.
Namun, ia mengklaim sama sekali tidak mengetahui bahwa penobatan Mangkubumi akan digelar dalam rapat tersebut.
“Saya mboten nate (tidak pernah) diajak rembukan pengukuhan dan sebagainya,” kata Tedjowulan.
Adik Pakubuwana XIII itu mengatakan bahwa sedianya rapat tersebut digelar agar semua pihak menahan diri selama masa berkabung.
Tedjowulan memastikan bahwa Jumenengan Dalem Binayangkare Pakubuwana XIV akan tetap digelar sesuai rencana. Anak bungsu Pakubuwana XIII itu akan dilantik menjadi Raja Keraton Surakarta pada Sabtu (15/11) besok.
Baca Juga:
Indonesia Kian Perkasa di SEA Games 2025, Jarak Medali dengan Vietnam Semakin Lebar
Konflik internal yang memanas ini tentu menjadi sorotan publik, mengingat Keraton Surakarta merupakan salah satu simbol budaya dan sejarah penting di Indonesia. Perebutan takhta di tengah masa berkabung ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan Keraton Surakarta dan kelestarian tradisi serta nilai-nilai luhur yang selama ini dijunjung tinggi.









