Menu

Mode Gelap

Berita · 23 Nov 2025 19:22 WIB

Kilang LPG Cilamaya Siap Operasi 2026: Dorongan Baru bagi Ketahanan Energi Nasional


 Kilang LPG Cilamaya Siap Operasi 2026: Dorongan Baru bagi Ketahanan Energi Nasional Perbesar

PROLOGMEDIA – Proyek pembangunan Kilang LPG Recovery Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, kini memasuki tahap akhir yang menjanjikan. Target operasional komersial ditetapkan pada akhir Januari 2026, seiring dengan kemajuan signifikan yang telah dicapai hingga 85% dalam fase Engineering, Procurement, and Construction (EPC). Inisiatif ini mencerminkan komitmen kuat pemerintah dan sektor swasta untuk mengurangi ketergantungan impor LPG dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Project Manager kilang, Hidayat, mengatakan bahwa kehadiran fasilitas ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan wujud nyata dari kebijakan strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dengan kapasitas dirancang sebesar 40 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), kilang ini diharapkan mampu menyumbangkan pasokan LPG dalam negeri secara signifikan, sehingga mengurangi volume impor yang selama ini masih tinggi.

Saat ini, kebutuhan LPG nasional diperkirakan mencapai antara 6,5 hingga 7 juta ton per tahun, tetapi sekitar 75–80 persennya masih harus diimpor dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Aljazair. Kondisi ini menjadi latar belakang penting mengapa proyek Cilamaya diusung sebagai solusi berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menekan defisit neraca migas nasional.

Sumber gas baku untuk kilang ini akan berasal dari PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ, yang beroperasi di Offshore North West Java. Dari bahan baku tersebut, kilang diestimasikan mampu menghasilkan sekitar 178 metrik ton LPG per hari. Teknologi pemrosesan yang digunakan cukup canggih: dua kolom fraksinasi dan satu kolom absorpsi digabungkan dengan sistem pendinginan berbasis Mechanical Refrigeration Unit (MRU) serta Turbo Expander. Kombinasi tersebut memungkinkan kilang untuk melakukan recovery propana dan butana secara efisien.

Selain manfaat strategis dari sisi energi, pembangunan kilang Cilamaya juga membawa dampak ekonomi dan sosial yang nyata di tingkat lokal. Sepanjang fase EPC, proyek telah menyerap sekitar 261 tenaga kerja lokal, yang berarti sekitar 60 persen dari keseluruhan tenaga kerja proyek. Setelah kilang beroperasi, diproyeksikan bahwa selama 10 tahun ke depan, setidaknya 25 pekerja lokal akan terus bekerja dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan. Dampak berantai ini akan menciptakan efek multiplikasi nilai tambah di ekosistem usaha sekitar kilang.

Baca Juga:
Gembili, Umbi Lokal Kaya Nutrisi yang Kian Dilirik sebagai Pangan Sehat

Dalam aspek kelistrikan, konsep pengoperasian kilang juga mempertimbangkan efisiensi dan keberlanjutan. Alih-alih membangun pembangkit listrik sendiri, pengembang memilih untuk mendapat pasokan daya dari jaringan PLN. Kilang membutuhkan daya sebesar 3.465 KVA per hari, dan kolaborasi dengan PLN diperkirakan menghasilkan skema listrik yang lebih andal, efisien, dan ramah lingkungan. Nilai transaksi listrik dalam skema pelanggan PLN mencapai sekitar Rp 74,16 juta per hari.

Partisipasi swasta nasional dalam proyek ini menunjukkan adanya kepercayaan yang tumbuh terhadap kebijakan energi pemerintah. Menurut Hidayat, keterlibatan sektor swasta tidak hanya sebagai upaya bisnis, melainkan sebagai kontribusi nyata demi memperkuat ketahanan energi dan menggalakkan substitusi impor LPG. Dukungan dari pemangku kebijakan, baik di pusat maupun daerah, menjadi kunci agar proyek ini berjalan lancar, mulai dari kepastian izin sampai operasional jangka panjang.

Di balik angka-angka teknis, kilang Cilamaya juga menjadi simbol transformasi kebijakan energi Indonesia. Dengan menyasar substitusi impor LPG, proyek ini sejalan dengan prioritas nasional untuk meningkatkan pemanfaatan gas bumi domestik. Hidayat menegaskan bahwa pembangunan fasilitas baru dan optimalisasi kapasitas yang sudah ada adalah bagian dari strategi besar pemerintah agar penggunaan sumber daya dalam negeri makin dominan.

Harapannya, inisiatif seperti Cilamaya dapat menjadi contoh dan pemicu bagi proyek-proyek serupa lainnya. Jika ditangani dengan baik, keberhasilan kilang ini tidak hanya akan memperkuat ketahanan energi, tetapi juga mendorong pertumbuhan lokal melalui penciptaan lapangan kerja dan investasi berkelanjutan.

Baca Juga:
7 Makanan dan Minuman Ampuh untuk Membantu Tubuh Pulih Cepat Saat Demam

Secara ringkas, Kilang LPG Recovery Cilamaya menjadi proyek visioner yang membawa dampak ganda: secara strategis memperkuat pasokan LPG nasional dan secara sosial-ekonomi memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal Karawang. Dengan penyelesaian konstruksi yang kini mendekati 85 persen dan perencanaan operasional yang ambisius di Januari 2026, proyek ini menegaskan bahwa penguatan infrastruktur energi domestik tidak hanya sebagai visi masa depan, tetapi sebagai realitas yang sedang dibangun hari ini.

Artikel ini telah dibaca 27 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita