PROLOGMEDIA – Malam di hutan jati pedalaman Gua Anggas Wesi, terletak di Desa Sumberjo, Wonosalam, Jombang, sempat menyimpan kisah yang menarik — tentang sebuah keluarga yang memilih hidup jauh dari keramaian, menetap di lereng gua yang terpencil. Namun kini, keluarga itu telah memutuskan untuk berpindah tempat tinggal, setelah keberadaan mereka terdeteksi secara resmi oleh pengelola hutan.
Gua Anggas Wesi sendiri berada di petak 37F, Resort Pemangkuan Hutan Sumberjo, di bawah pengelolaan Perhutani, bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jabung. Kawasan ini termasuk kategori “kawasan penggunaan khusus” (KPKh), dengan luas sekitar 0,1 hektare.
Keluarga itu — terdiri dari seorang pria bernama Joko Mulyono, istrinya, seorang anak perempuan, dan seorang anak laki-laki — berasal dari Kecamatan Jogoroto, Jombang. Sekitar dua bulan terakhir, mereka mendirikan tenda di sebelah kanan mulut gua.
Namun, ketika warga dan petugas Perhutani mulai tahu keberadaan mereka, pilihan hidup di tepi gua di hutan jati tak lagi memungkinkan. Kepala BKPH Jabung, Tarmidi, mengatakan bahwa sejak diketahui publik, keluarga tersebut telah meninggalkan tenda di dekat mulut gua dan mendirikan tenda baru menjauh — naik ke kawasan hutan di atas gua.
Saat tim Perhutani mendatangi tenda baru mereka dua hari lalu, tenda itu ditemukan dalam kondisi kosong. Meskipun peralatan mereka masih berada di dalam tenda — menandakan bahwa lokasi tersebut masih aktif dihuni — penghuni tak tampak di tempat.
Tak hanya itu, keluarga ini ternyata membuat jalan setapak baru — melewati hutan — agar saat keluar dari area gua mereka tidak melewati Gua Anggas Wesi. Jalan ini bermuara ke kawasan hutan lain yang dikenal sebagai Hutan Watuseno, jalur terdekat menuju perkampungan.
Informasi menarik muncul soal bagaimana keluarga ini bisa bertahan hidup di tengah hutan. Menurut keterangan yang diperoleh Perhutani dari seorang pria lanjut usia yang sudah sejak lama mendiami gua — Sudarmaji (68) — sang kepala keluarga, Joko, ternyata bekerja sebagai satpam di Mojokerto. Setiap tiga hari sekali, ia keluar hutan membawa karung berisi kebutuhan pokok untuk keluarganya.
Baca Juga:
Cara Aman Usir Tikus Tanpa Lem & Racun? Pakai 7 Daun Ajaib Ini!
Awalnya, ketika tim Perhutani pertama menemukan mereka, keluarga ini mengaku tinggal di dalam hutan untuk menjalankan ritual di gua. Namun, setelah dilakukan pemantauan acak pagi, siang, sore, dan malam, tidak ditemukan satu pun indikasi bahwa ritual tersebut pernah dilakukan. Ini membuat petugas curiga bahwa alasan ritual hanyalah kedok — “indikasi menyembunyikan sesuatu,” kata Tarmidi.
Meski alasan pastinya sulit dipastikan, keputusan untuk pindah ini bukan tanpa akibat. Menurut aturan di kawasan hutan lindung seperti Gua Anggas Wesi, tinggal tanpa izin adalah pelanggaran. Tarmidi menekankan bahwa tindakan tersebut melanggar Pasal 50 Undang-Undang RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Pihak Perhutani pun mengindikasikan, jika pemilik tenda tidak bersikap proaktif, maka akan dilakukan tindakan tegas — pengusiran.
Sementara itu, kisah keluarga ini berbeda dengan kisah Sudarmaji — pria dari Boyolali yang sudah sekitar 42 tahun menetap di Gua Anggas Wesi. Meski sudah puluhan tahun tinggal di gua alami itu, kehidupan Sudarmaji penuh dengan kesederhanaan: dua hari yang lalu ia setuju direlokasi ke gubuk berukuran 4×6 meter persegi yang akan dibangun Perhutani sekitar 50–100 meter dari gua. Rencananya, gubuk itu akan digunakan sebagai tempat tinggal dan memasak, agar gua alami dapat kembali “bersih” dari pemukiman manusia.
Sebelumnya, kondisi Gua Anggas Wesi memang cukup kumuh — dengan ruang tidur sekitar 7×5 meter, area semedi, sejumlah arca dan peralatan ritual, dapur dari kayu bakar, ember, galon, serta banyak peralatan memasak yang tampak tidak tertata rapi. Bau apek dan suasana lembap membuat banyak pengunjung atau peziarah enggan datang lagi. Kondisi ini salah satu alasan pihak berwenang ingin merelokasi penghuni dan mengembalikan gua ke kondisi alami.
Bagi Sudarmaji, relokasi bukan semata soal meninggalkan gua, melainkan juga upaya untuk membantunya hidup lebih manusiawi. Selain akan ditempati gubuk baru, ia juga kini diberi lahan garapan seluas sekitar 1.500 meter persegi oleh Perhutani — melalui kelompok masyarakat hutan setempat, yakni LMDH Mitra Wana Sejahtera Desa Lebak Jabung. Di lahan tersebut, Sudarmaji menanam palawija secara tumpang sari sebagai sumber penghidupan. Ia juga disiapkan sebagai “penerima wisatawan atau peziarah gua,” dengan syarat tidak mengajak orang lain tinggal di dalam hutan.
Narasi perpindahan ini membawa banyak pertanyaan. Apa yang sebenarnya mendorong keluarga tersebut memilih masuk hutan? Ritual, pelarian, keterasingan, atau sekadar mencari ketenangan? Jawaban pasti sulit diperoleh. Namun langkah mereka — dari tenda di mulut gua, mendirikan tenda baru, membuat jalan setapak sendiri, hingga akhirnya hilang dari pantauan — seolah menggambarkan usaha mereka hidup di balik bayang-bayang, jauh dari jangkauan masyarakat dan institusi.
Sisi lain dari kisah ini adalah upaya rehabilitasi lingkungan dan pemulihan fungsi gua alami. Relokasi Sudarmaji dan upaya membersihkan gua dari pemukiman manusia menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan konservasi bukan sekadar soal menjaga alam, tapi juga menghadirkan solusi manusiawi bagi orang-orang yang telah lama hidup di lingkungannya.
Baca Juga:
Titiek Soeharto Terpukau Nasi Goreng MBG: Enak! Bukti Program Gizi Polri Berhasil?
Kisah di Gua Anggas Wesi menjadi pengingat bahwa ruang alam—hutan, gua, dan kawasan lindung—tak pernah semata soal tanah atau bebatuan, tetapi tentang manusia: tentang pilihan hidup, tentang kerinduan pada sunyi, dan tentang usaha keras bertahan hidup — seringkali dalam diam dan jauh dari sorot publik.









